Di Indonesia, Festival budaya sangat beranekaragam yang menjadikan ciri khas dari wilayah itu sendiri. Salah satu budaya yang menarik untuk dibahas adalah petik laut di Situbondo. Nah, Sebelum membahas mengenai budaya petik laut di Situbondo, tidak ada salahnya kan apabila kita mengetahui terlebih dahulu karakteristik singkat Situbondo.
Situbondo adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur. Pusat pemerintahan dan ibu kota kabupaten terletak di Kecamatan Situbondo. Situbondo berbatasan dengan Selat Madura di sebelah utara, Selat Bali di sebelah timur dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi serta berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo di sebelah barat.Â
Situbondo itu sendiri dikenal dengan julukan kota Santri, Bumi Shalawat Nariyah dan kota Kerapu. Meskipun berada di pulau Jawa, corak kebudayaannya pun didominasi oleh budaya Madura.Â
Hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa, yaitu bahasa madura, adat-istiadat maupun kesenian yang dilakukan oleh masyarakat Situbondo. Budaya Madura di Situbondo berbeda dengan budaya Madura Kepulauan. Kebudayaan di Situbondo memiliki karakteristik khas Situbondo-an akibat pembauran yang telah terjalin selama ini.
Setelah mengetahui karakteristik singkat Situbondo, kurang lengkap jika kita tidak membahas festival unik petik laut. Yupss!! Petik laut merupakan budaya warisan leluhur masyarakat pesisir utara pulau Jawa.Â
Pada umumnya, Petik laut dilakukan untuk mengharap keselamatan dan keberkahan, dijauhkan dari malapetaka serta sebagai wujud syukur kalangan nelayan kepada Tuhan atas limpahan rezeki berupa hasil tangkapan laut yang diberikan selama ini.
Selain itu, juga untuk menghormati para leluhur yang telah turun-temurun melakukan tradisi petik laut ditengah laut. Disisi lain, tradisi petik laut ini juga dapat dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan daya tarik wisatawan.Â
Tradisi ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan setiap menjelang bulan Ramadhan oleh kepala desa bersama para nelayan di daerah-daerah tertentu seperti di Kecamatan Kendit, Banyuglugur dan Jangkar.
Kegiatan petik laut dilakukan di tengah laut. Kegiatan ini selalu ramai didatangi ribuan warga hanya untuk menyaksikan acara tersebut. Seperti yang kita ketahui, Situbondo dijuluki sebagai kota Santri.Â
Maka dari itu, sebelum menggelar ritual petik laut, warga tak lupa untuk melakukan ritual pujian kepada Tuhan dan melakukan pengajian sebelum melarungkan sesaji. Untuk mempererat persatuan dan persaudaraan, dalam acara tersebut diadakan perlombaan bagi kalangan nelayan.Â
Perlombaan tersebut terdiri dari catur, tarik tambang, panjat pinang dan renang. Uniknya lagi, dalam pelaksanaannya ada pentas seni, musik gambus dan orkes, dangdut bahkan pertunjukan film. Bayangkan saja ketika kita berada di laut sambil menikmati pertunjukan musik sebelum melakukan ritual inti. Asyikk bukan??!!
Sebelum keberangkatan, tidak lupa untuk membaca doa dan dzikir. Pelaksanaan pelarungan sesaji disatukan dalam sebuah perahu kecil ke tengah laut. Ada berbagai macam isi  sesaji yang dilarungkan ke tengah laut.Â
Namun, yang paling menonjol ialah kepala sapi. Sesaji berupa hasil bumi dan satu kepala sapi tersebut dibawa oleh pembawa sesaji yang diiringi oleh puluhan perahu nelayan yang bberbeda warna dan motif. Beberapa tokoh masyarakat dan pemuda pun ikut mendampingi para nelayan untuk ikut naik perahu ke tengah laut.
Perlu diketahui, sebelum dilarungkan ke tengah laut, sesaji tersebut telah dilakukan berbagai ritual. Setelah itu, ancak bambu yang berisi hasil bumi berupa makanan dan minuman  dan satu kepala sapi diangkat ke atas perahu.Â
Kemudian, perahu sesaji diturunkan ke laut oleh ratusan nelayan dan dilarungkan ke tengah laut. Saat berada ditengah laut, sesaji mulai dihanyutkan. Para nelayan terjun ke tengah laut untuk mengambil sesaji yang hanyut dan mengambil air yang berada disekitar sesaji. Hal ini dilakukan karena masyarakat percaya bahwa ritual petik laut tersebut membuatnya diberkati saat pergi melaut.


Tradisi tersebut telah lama berjalan sekitar sepuluh tahun sampai sekarang. Hal tersebut mendapatkan perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Situbondo.Â
Sebagai contoh Petik laut yang dilakukan di desa Klatakan, Kecamatan kendit khususnya di Kampung Ekowisata Blekok membuat daya tarik wisatawan tinggi. Dari hal tersebut Pemkab Situbondo mulai mengembangkan budaya petik laut khususnya di Kampung Ekowisata Blekok untuk menarik wisatawan.
Ekowisata di Kampung Blekok itu sendiri merupakan kawasan objek wisata edukasi hutan bakau yang dikelola oleh kelompok sadar wisata di Situbondo.Â
Mengingat masyarakat disana telah berkomitmen dalam menjaga wisata edukasi tersebut yang menjadi rumah bagi ribuan burung sejenis bangau. Sungguh menakjubkan bukan!!!Â
Salah satu budaya yang ada di Situbondo, khususnya festival petik laut yang juga dapat dijadikan sebagai ajang untuk menarik wisatawan. Dalam hal ini, eratnya rasa kekeluargaan dan persatuan yang dilakukan masyarakat untuk terus berinovasi menarik wisatawan yang berkunjung. Petik laut memang patut untuk dilestarikan.
Nah, teman-teman.. Menarik kan belajar mengenai budaya daerah yang ada di Indonesia. Salah satunya yang ada di Situbondo ini:))
Semoga artikel ini bermanfaat untuk kalian.Â
Terimakasih. See you in the next article!!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI