Siapakah Cinta Pertama Kita? Apakah itu Tuhan (Yesus)?
Oleh: Try Gunawan Zebua (Trygu)
Gunungsitoli, Kamis, 05 Januari 2023
Ini merupakan tulisan yang dari dulu saya ingin sekali menulisnya. Namun, entah kenapa terkadang saja ada alasan untuk malas atau menunda-nunda untuk menuliskannya. Bahkan saat menulis ini pun saya terkadang merasakan malas atau ingin menunda lagi untuk di tulis besok saja. Tapi, sekarang mau tidak mau, saya akan memaksakan diri sendiri untuk menyelesaikan tulisan ini menjadi sebuah tulisan artikel dan publish di kompasiana (selain di facebook di upload juga).
Inti dari tulisan ini adalah cinta. Apakah itu cinta tersebut?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi online, cinta adalah: 1). suka sekali; sayang benar, 2). kasih sekal; terpikat (antara laki-laki dan perempuan), 3). ingin sekali; berharap sekali; rindu, dan 4). susah hati (khawatir); risau. Jadi, ada banyak sekali defenisi atau pengertian dari cinta tersebut, dimana ada yang berupa suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat antara lawan jenis, ingin sekali, berharap sekali, rindu, susah hati (khawatir) dan bahkan risau.
Sehingga cinta tersebut bukan hanya antara lawan jenis, atau dengan kata lain bukan hanya antara laki-laki dan perempuan saja. Itu cuma 1 pengertian atau defenisi saja dari cinta. Bahkan cinta pun dapat membuat seseorang itu menjadi susah hati (khawatir) dan risau. Itu disebabkan misalnya karena orang yang di cinta meninggal dunia sehingga mengakibatkan defenisi atau pengertian dari cinta adalah merasa susah hati, khawatir dan risau, karena cinta dapat mewujudkan terjadinya hal tersebut. Serta berbagai defenisi dari cinta yang lain.
Jika kita memandang dari perkataan atau pernyataan yang mengandung kata cinta di dalamnya, misalnya: "Aku Cinta Padamu," "Aku benar-benar cinta padamu," "Kamu membuat ku jatuh cinta," "aku cinta kali dengan permainan ini, dimana dapat membuat saya mendapatkan hadiah yang banyak," serta berbagai perkataan atau pernyataan yang mengandung kata cinta di dalamnya.
Cinta berarti bahwa suka atau tertarik, atau dengan kata lain terpikat dengan seseorang atau lawan jenis. Selain itu, cinta juga adalah tertarik atau suka dengan hal lain selain lawan jenis, yaitu misalnya pada permainan tertentu karena dapat membuat orang yang memainkannya mendapatkan hadiah yang banyak.
Menambah semangat, gairah, atau hal-hal lainnya yang dapat meningkatkan bahkan itu hasil atau prestasi seseorang, entah itu dalam kaitannya dengan dunia kerja, bisnis, sekolah atau belajar, dan lain-lain sebagainya pada berbagai bidang kehidupan kita.
Cinta yang dikaitkan dengan belajar disebut sebagai cinta belajar, cinta yang dikaitkan dengan keluarga disebut sebagai cinta keluarga, cinta yang dikaitkan dengan uang disebut sebagai cinta uang, dan lain-lain sebagainya pada berbagai bidang atau hal dalam kehidupan kita.
Wajarkah jika kita cinta tersebut? Wajar saja kita itu cinta pada suatu hal tertentu. Tetapi yang tidak wajar atau salahnya saat kita menaruh cinta kepada sesuatu melebihi cinta kita kepada Tuhan (Yesus) yang merupakan sumber dari segala yang telah kita terima.
Selain itu, cinta jika dalam kadar atau jumlah yang berlebih tidak baik, dimana kita dapat menjadi tidak fokus atau hanya melakukan itu dan itu saja.
Tanpa melakukan atau mau melakukan hal-hal yang lainnya. Bahkan bisa jadi kita melakukan hal-hal negatif seperti secara terus-menerus bermain game karena kita begitu cinta, sampai-sampai kita lupa untuk makan dan minum.
Dengan kata lain seolah-olah game adalah segala sesuatu yang terbaik, tidak boleh ditinggalkan sejenak dan dalam waktu yang lama. Sedangkan jika kurang juga tidak baik, dimana jika kita sama sekali atau kurang mencintai sesuatu juga, kita dapat menjadi tidak jelas, atau melakukan segala sesuatu tanpa fokus atau semangat yang begitu besar. Misalnya dalam hal bisnis, jika kita sama sekali tidak mencintai apa bisnis yang kita jalankan, maka kita tidak akan semangat atau fokus dalam menekuni bisnis atau dengan kata lain asal-asalan saja dalam melakukannya.
Cinta keluarga adalah cinta atau kasih dan sayang kepada keluarga. Keluarga dalam artian dalam satu rumah tangga, dimana ada Ayah, Ibu dan anak-anak, atau istilah jika diperlebar anak-anak, dimana ada itu anak berupa adek, kakak, dan kita sendiri, maka itu juga bisa disebut juga cinta keluarga.
Keluarga juga bisa dalam artian yang berhubungan darah dengan kita selain kita dalam 1 (satu) rumah, misalnya adek bapak atau mama kita, kakak bapak atau mama kita, itupun kalau ada adek dan kakak, maupun anak-anak dari adek dan kakak bapak atau mama kita.
Cinta kepada keluarga benar, bahkan cinta seorang ibu kepada anaknya sangat besar, sedangkan bapak katanya tidak sebesar ibu. Itu karena ibu yang mengandung dan melahirkan sehingga wajar saja cintanya begitu besar apalagi jika susah payah waktu melahirkan kita. Itu adalah hal yang wajar saja terjadi. Tetapi darimanakah sumber muncul orang yang kita cintai? Itu adalah bersumber dari Tuhan (Yesus).
Tuhan (Yesus) yang memberikan atau menciptakan mereka bagi kita semua. Kalau terlalu mencintai pun jika suatu saat orang yang kita cintai dalam keluarga meninggal maka kita bisa jadi akan merasa sedih dan bahkan kecewa. Sampai-sampai ada yang berlarut-larut, gila dan bahkan sampai ikut serta membunuh dirinya sendiri. Padahal bisa jadi mereka meninggal karena Tuhan (Yesus) mau supaya kita tidak lupa bahwa ada yang lebih patut dan wajib menerima cinta kita yaitu Tuhan (Yesus).
Cinta uang adalah cinta akan uang atau dengan kata lain harta di dunia ini. Sangat cintanya dengan uang sampai-sampai bekerja pagi dan pulang malam, bahkan sampai-sampai melupakan anak-anak, keluarga, sahabat atau dengan kata lain orang-orang di sekeliling kita, bahkan juga sangat cintanya dapat merusak alam hanya untuk mencapai uang tertentu atau banyak.
Uang memang kita perlukan, dimana kita dapat membeli makanan dan minuman kita yang sudah siap tinggal dikonsumsi, atau bahkan bahan-bahan pokok untuk membuat makanan dan minuman yang kita inginkan. Bahkan semakin parahnya mencintai uang, sampai-sampai ada itu melupakan dengan sengaja atau pasti seseorang karena miskin atau tidak memiliki uang sama sekali dan dalam jumlah yang sedikit saja uangnya.
Istilah lainnya melupakan keluarga, sahabat, atau siapapun yang memiliki uang hanya sedikit dan bahkan tidak memiliki uang sama sekali. Seolah-olah semuanya hidup ini diukur berdasarkan uang. Lantas, kalau sudah mendapatkan uang, apakah kita tahu dan sadar darimanakah sumbernya dan apakah kita sudah mengucapkan syukur saat menerimanya?
Silahkan dijawab sendiri di dalam hati. Tetapi sepertinya kebanyakkan orang lupa sumber dan mengucapkan syukur tersebut. Padahal belum tentu apa yang kita terima, apalagi dari segi jumlahnya diterima oleh orang lain juga pada saat itu, sebelumnya, dan bahkan ke depannya. Kita bahkan sampai lupa kepada Tuhan (Yesus) sang pemberi uang itu sendiri, dimana disitulah salah dari uang tersebut.
Cinta lawan jenis adalah suka atau tertarik dengan lawan jenis, dimana laki-laki kepada perempuan dan perempuan kepada laki-laki. Itu lebih sering disebut sebagai cinta anak muda, ada yang mengatakan cinta monyet, atau istilah-istilah yang lain. Sangat cintanya dia dengan lawan jenisnya, sampai-sampai lupa terhadap diri sendiri dan bahkan Tuhan (Yesus). Lebih mengutamakan pasangannya atau pacarnya dibandingkan dengan diri sendiri atau Tuhan (Yesus).
Itu juga merupakan hal yang salah dimana lawan jenis kita itu berasal atau dengan kata lain diciptakan oleh Tuhan (Yesus). Jika tidak ada Tuhan (Yesus) darimanakah kita bisa bersama atau memiliki lawan jenis, dan bahkan jika Tuhan (Yesus) tidak mempertemukan, darimana kita dapat bertemu dengan lawan jenis tersebut.
Cinta diri sendiri adalah mencintai diri sendiri dengan sangat-sangat cintanya dibandingkan dengan orang yang lain. Mencintai diri sendiri wajar pada kondisi tertentu atau kadar tertentu.
Kita juga harus memberikan waktu kepada diri sendiri misalnya makan atau istirahat, tidur, dan lain-lain sebagainya, dimana kita memiliki batasan kemampuan tertentu. Kita hanya manusia yang berarti kita terbatas. Kita bukan Tuhan (Yesus) yang sangat tidak terbatas.
Beda jauh lah kita dengan Tuhan (Yesus). Tetapi sangat salah jika kita terlalu mencintai diri sendiri, bahkan sampai melupakan yang lain, terlebih-lebih Tuhan (Yesus). Padahal diri kita sendiri, apa kelebihan dan kekurangan diri kita sendiri berasal semua dari Tuhan (Yesus).
Jika, Tuhan (Yesus) tidak menciptakan kita maka kita tidak ada. Jika, Tuhan (Yesus) tidak membuat kita tubuhnya normal maka kita susah beraktivitas, bahkan jika tidak ada makanan dan minuman yang susah payah bahkan kita menerimanya, kita tidak akan bisa makan dan minum. Atau dengan kata lain tidak ada yang bisa kita makan dan minum untuk memenuhi keperluan fisik kita.
Serta berbagai cinta-cinta yang lain.
Wajarkah kita mencintai Tuhan (Yesus)? Wajar, karena semua atau segala sesuatu berasal dari Tuhan (Yesus), untuk Tuhan (Yesus) dan demi kebesaran Tuhan (Yesus). Apapun yang kita miliki atau terima hanya merupakan anugerah atau belas kasih saja dari Tuhan (Yesus). Bukan merupakan berkat hasil kerja keras kita, bukan berkat hasil pemikiran kita, bukan berkat hasil usaha kebaikan kita kepada sesama, dan lain-lain sebagainya, melainkan hanya anugerah atau belas kasih dari Tuhan (Yesus) semata. Bahkan sebenarnya pun kita sama sekali tidak layak untuk menerimanya.
Tidak pantas, tidak semestinya, dan lain-lain sebagainya. Tetapi karena Tuhan (Yesus) begita mencintai kita dan menginginkan supaya kita memperoleh yang terbaik, maka kita menerimanya dengan cuma-cuma. Kita saja manusia yang kadang terlalu melawan atau menjauh dari Tuhan (Yesus). Bahkan disaat kita melawan atau menjauh, Tuhan (Yesus) pun masih mencintai dan menginginkan yang terbaik bagi kita.
Lantas, masuk kita pada inti pembahasan kita, dimana kita akan menjawab pertanyaan judul kita.
Siapakah Cinta Pertama Kita? Apakah itu Tuhan (Yesus)?
Jawabannya, cinta pertama kita adalah Tuhan (Yesus). Ya, Tuhan (Yesus). Hanya Tuhan (Yesus) yang layak dan patut dijadikan sebagai yang pertama dan utama dalam hidup kita, bahkan dalam hal cinta. Jadi, jadikan Tuhan (Yesus) sebagai cinta pertama kita, yang berarti bahwa yang utama dan terutama dibandingkan yang lainnya.
Memang agak sulit atau berat karena kita masih atau kita berada di dalam dunia ini. Begitu gencar iblis merasuki kita untuk memusnahkan kita. Tapi tidak ada salahnya dicoba dan itu bukan merupakan suatu dosa melainkan suatu hal yang mesti atau wajib untuk dilakukan. Tanpa pertimbangan A, B, C, dan seterusnya, atau dengan kata lain tanpa ini dan itu.
Semoga bermanfaat. Semoga menjadi berkat. Tuhan Yesus Memberkati (GBU)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H