Mohon tunggu...
Tri Sukmono Joko PBS
Tri Sukmono Joko PBS Mohon Tunggu... Dosen - Tenaga Pengajar

Hobi membaca, senang menjadi narasumber di Bidang Manajemen Risiko

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Belajar untuk Tetap Rendah Hati

12 Juli 2024   16:09 Diperbarui: 12 Juli 2024   16:11 28
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Belajar untuk tetap rendah hati bukanlah hal yang mudah. Kita sering kali dipesani nasihat oleh orang tua untuk tetap rendah hati ketika kita mencapai puncak kesuksesan atau ada pada puncak karier. Sebenarnya kerendahan hati itu harus tetap ada di level mana pun karier kita. Kita sering kali bisa lulus berbagai ujian kesulitan di dalam hidup, diuji dengan kemiskinan, diuji dengan kedengkian teman sekerja, diuji dengan berbagai keterbatasan namun  dituntut untuk bisa meraih capaian yang tinggi yang seakan mustahil untuk diraih.

Ujian demi ujian yang dialami akan membentuk karakter dan kompetensi seseorang, dan ketika telah terbentuk kompetensinya biasanya orang yang bersangkutan berubah menjadi spesialis atau kekhususan terkait kemampuan yang dimiliki. Orang mulai mengenalnya sebagai ahli dan mulai banyak orang mengundangnya untuk jadi pembicara ataupun menemuinya untuk berkonsultasi. Ketika sudah sampai pada tahap ini, kebanyakan orang lupa dengan ujian-ujian perih yang telah dilaluinya yang telah membentuk karakter dan kompetensinya saat ini. Ia merasa sudah ada pada puncaknya dan memandang orang lain ada di bawah ketinggian kariernya. Semakin lama ia semakin lupa akan siapa dirinya, ia merasa sudah menjadi ahli dibidangnya, sehingga ia merasa semua orang harus mendengarkan pendapatnya dan memberikan imbalan yang mahal untuk keahliannya.

Tuhan pun mendorongnya untuk bisa naik ke puncak yang lebih tinggi lagi hingga munculnya rasa kebanggaan yang berlebih dan merasa tidak ada orang yang bisa menyamai kemampuannya. waktu demi waktu berlalu dan ia berubah karakternya yang semula rendah hati menjadi penyombong dan minta diakui. Hingga suatu saat Tuhan menjatuhkannya dari puncak karier dengan pertanyaan sederhana dari seorang yang dianggap bukan ahli namun dapat membuka semua kepalsuan yang selama ini dia mainkan. Maka hilanglah sudah apa yang telah lama diperjuangkan seperti debu atau pun setetes air di gurun yang panas.

Ternyata kebanyakan manusia bisa lulus bila diuji dengan penderitaan, kemiskinan dan kebodohan tetapi banyak yang tidak lulus bila diuji dengan  dikaruniai kecerdasan dan kekuasaan. Banyak orang ketika kecerdasan dan kekuasaan berpadu dalam dirinya maka berbagai godaan kenikamatan dunia mengubah karakternya menjadi sombong dan tak mampu untuk rendah hati.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun