(Lelaki dan perempuan berlarian di atas genangan air hujan hanya memakai celana dalam. Tapi tidak ada rasa malu karena tabu dan takut akan dilecehkan. Ketika saling menendang air ke arah muka, tanpa ada rasa sakit hati. Justru muncul keinginan kuat untuk membalas serangan itu, sebisa mungkin lebih banyak. Â Saling serang air ke bagian-bagian tubuh tertentu sangat menyenangkan. Saling berteriak, berlarian atau melempar lumpur atau tanah liat. Berhenti saat hujan reda, ada yang menangis atau jika orang tua memanggil pulang. Setelah itu, semua pulang ke rumah masing-masing. Lain hari diulang lagi).
Bocah jaman siki akeh sing aleman. Sethithik-sethithik dipenggak. Â Ora ulih temandang sing kaya kiye, kaya kuwe. Apa maning kecehan utawa sempyokan. Wong playon bae bisa didomehi. Wong tuwane modo-modo. Ngluputna anake liyan. Anake dhewek dialem bener nganti sundhul puyul. Nek perlu nembus batese langit. Ora tau ngerti wadanan "cungi-cungi cung..".Â
(Anak jaman sekarang banyak yang manja. Sedikit sedikit dilarang. Dilarang melakukan ini itu . Apalagi baku injak dan tendang air hujan. Berlarian saja bisa kena marah. Orang-orang tua akan berteriak nyaring. Suka menyalahkan anak lain. Anaknya dipuja-puji senantiasa benar, kalau perlu sampai menembus batas langit. Tak pernah paham dengan candaan "filosofi jari jemari, yang satu ke depan dan sisanya buat pribadi".Â
Jerene, jaman siki jaman maju. Ngunthet dhuwit negara dianggep biasa. Ora diarani saru, malah rumangsa jumawa. Keceh dhuwit gole ngunthet rumangsane bandhane Kompeni. Didemek KPK malah bangga. Ben kaya selebritis sing disorot media.Â
(Kata orang-orang, jaman sekarang adalah jaman maju. Korupsi adalah hal biasa. Bukan tabu, justru merasa hebat. Berkubang uang hasil korupsi seperti mengambil milik Kompeni. Â Ditangkap KPK malahan bangga. Seperti selebritis yang disorot media.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H