Di mana logikanya, sebuah federasi sepak bola yang salah satu fungsinya dapat membentuk Timnas untuk negaranya. Timnas dapat dibentuk, hasil dari kompetisi yang diputar oleh federasi, namun dengan berbagai dalih, membuat kompetisi Liga 2 dan 3 dihentikan. kompetisi Liga 1 tanpa degradasi. Ini di mana logikanya?
Sebelumnya, semua kompetisi harus dihentikan karena tragedi Kanjuruhan. Itu adalah buah dari ketidakecusan PSSI, Operator kompetisi, Polisi, serta beberapa stakeholder terkait menyikapi dan menangani masalah suporter yang kampungan (tidak tahu sopan santun, tidak terdidik, kurang ajar). Terjadi di Liga 1.
Akibatnya liga 2 dan 3 ikut kena getah, diberhentikan juga kompetisinya. Mirisnya, Liga 1 yang menjadi biang kerok semua kompetisi dihentikan, justru dapat melenggang melanjutkan kompetisi. Alih-alih mendapat berita menyenangkan, sebab kompetisi Liga 2 dan 3 tidak kunjung digelar, tahu-tahu semua tim Liga 2 dan Liga 3, serta publik sepak bola nasional seperti disambar petir.
Betapa sedih dan merana semua pihak yang makan dari Liga 2 dan 3, serta ekonomi turunannya?
Ada skenario busuk
Dengan alasan yang pastinya dapat ditelusuri bahwa di dalamnya ada skenario busuk dari para mafla di PSSI ini, Â serta berlindung di balik dekatnya pelaksanaan Piala Dunia U-20, jelas, penghentian kompetisi Liga 2, Liga 3, dan Liga 1 tanpa degradasi, nampaknya ada udang di balik batu, sebab KLB tinggal menghitung hari.
Maka, bila publik marah hingga mengerucut tuntutan bubarkan PSSI, sepertinya hanya akan menjadi angin lalu bagi mafia dan pihak berkepentingan yang kini masih kokoh mencengkram PSSI untuk kepentingan-kepentingannya, mereka tentu tetap dapat terbahak, pasalnya, PSSI memang hanya milik voters.
Dan, para voters pun terus menjadi bagian mafia yang saling melayani kepentingan. Pemerintah pun tidak dapat melakukan intervensi ke PSSI. Yang dapat dilakukan pemerintah melalui stakeholdernya adalah tidak memberikan izin kompetisi izin-izin lainnya.
Publik pun bertanya, meski pemerintah tidak dapat mengintervensi PSSI, apakah penghentian Liga 1 dan 2 bukan pesanan dari pemerintah? Pemerintah yang tentunya dikendalikan oleh partai politik, sejatinya juga sangat berkepentingan dengan sepak bola, karena apa, menjelang KLB PSSI.
Ada apa dengan KLB PSSI? KLB PSSI akan menghasilkan pemimpin PSSI baru akibat dari tuntutan tragedi Kanjuruhan, namun skenarionya, KLB adalah produk dari statuta PSSI, tidak ada intervensi. Namun, siapa pemimpin PSSI baru nanti, apakah tidak akan ada kaitannya dengan kepentingan politik?
Rasanya, penghentian Liga 2 dan Liga 3 yang buntutnya Liga 1 tanpa degradasi, ini adalah skenario yang sudah dirancang sesuai permintaan pihak yang punya kepentingan. Luar biasa. PSSI hanyalah sarang mafia untuk kepentingan-kepentingan. Membuat keputusan apa pun, siapa yang dapat mengintervensi?
Ganti menjadi OSI