Serta Membekas  Dalam Dihati
Setiap orang tentu punya cara dan gaya masing masing untuk mengekspresikan rasa hormat dan penghargaan terhadap jasa para Pahlawan kita. Semasa para Pejuang rela  mengorbankan diri mereka demi kemerdekaan Indonesia tercinta,saya baru lahir dan tidak tahu apa apa. Karena lahir di era Dai Nippon ,tepatnya tanggal 21 Mei 1943.Â
Karena itu setelah dewasa,saya berusaha dengan cara sendiri,untuk merasakan secercah perjuangan para Pahlawan, untuk merebut kemerdekaan dari penjajah. Salah satunya adalah mengunjungi tugu Pahlawan ,serta monumen apa saja yang dapat menghadirkan setitik pencerahan dalam diri saya,makna dari perjuangan para Pahlawan.Â
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi Tugu Pahlawan tak di kenal di kota Padang,yang merupakan kampung halaman saya .Dengan seksama saya meresapi kata demi kata,yang tertulis di Tugu Pahlawan Tak  Dikenal.Â
Walaupun tugu ini sudah tampak dimakan zaman,tapi  tulisan yang terpateri disana  dapat dibaca dengan jelas:
5 Maret 1950-Â
Baca juga: Penghargaan Bagi yang Kinerja TerburukPerjuangan Padang dan sekitarnya-
Achirnya Pinang pulang ketampuknya-
Dirajakan dengan perasaan gembira-
Akan djadi peringatan bangsa Negara Republik Indonesia,
idaman sutji-
Genggam teguh abadi
Dari kota kelahiran saya ,menuju ke BukittinggiÂ
Kemana ? Tentu saja menuju ke Lobang Japang (lubang Jepang) Kisah kekejaman Jepang yang membuat bulu tengkuk berdiri dan tubuh merinding.
Menurut sejarahnya dibangun pada tahun 1942 Disamping itu Lubang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m Menapak kaki di lorong sempit dan gelap ini,tentu bukan untuk mendapatkan rasa horor yang mendebarkan,serta membuat bulu kuduk berdiri.
Ke kota Payakumbuh
Kemudian saya ke  Jembatan Ratapan Ibu yang lokasinya di Payakumbuh, kota kelahiran ayah saya almarhum  Disana terpahat kata kata:
Disini pada tahun 1949
Gugur para Pemuda Pejuang
Demi pembebasan negeri ini
Merdeka dari belenggu penjajah
Ratapan ibu mengiringi kepergiannya
Apalagi mendengar langsung dari orang orang yang menjadi saksi hidup atas peristiwa ini,dimana para perjuang dijejerkan di tepi Sungai Batang Agam dan ditembak. Tubuh mereka terkulai ditembusi peluru dan jatuh kedalam sungai dan hanyut entah kemana
Mengunjungi Makam Cut Nyak Dhien
Mengunjungi makam Tjoet Nyak Dhien
Dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.Selama puluhan tahun tak seorangpun tahu.,bahwa Cut Nyak Dhien ,dimakamkan di sana. Baru pada tahun 1959 ,yakni 51 tahun kemudian, atas inisiatif gubernur Aceh pada waktu itu, diperoleh data data resmi dari Belanda Sejak saat itu makam Cut Nyak Dhien, di renovasi seperti yang tampak pada gambar .
Berkunjung ke Bengkulu
Menyebut tentang kemerdekaan,tentu saja tidak terlepas dari tokoh Proklamator Soekarno Hatta. Karena itu tidaklah lengkap rasanya mengunjungi tugu dan makam para Pahlawan,tanpa berkunjung ketempat Bung Karno di asingkan di Bengkulu
Dan tentu saja tidak lupa berkunjung kerumah Bung Hatta di Bukittinggi
Dengan mengunjungi tugu  pahlawan dan monumen tentang para Pahlawan,setidaknya sebagai salah seorang dari 250 juta orang Indonesia, kami sudah menyampaikan rasa hormat terhadap para Pahlawan ,yang gugur demi agar kita semua dapat menikmati kemerdekaan.
Selamat memperingati Hari Pahlawan
Catatan tambahan semua foto dokumentasi pribadiÂ
Tjiptadinata Effendi
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI