Revolusi Mental Jokowidodo Sudah Mulai Berbuah
Sejak dari awal Pemilu Presiden di tahun 2014, Presiden R.I.terpilih Joko Widodo,telah mengusung frasa :"Revolusi Mental". Yang sempat menjadi bahan tertawaan bagi lawan politiknya,karena menganggap,bagaimana mungkin sosok Jokowi yang imut imut ini,akan mampu melakukan revolusi mental ? Sementara sebelumnya sudah ada Jendral yang menjadi Presiden,tapi tak mampu berbuat banyak untuk melakukan revolusi mental,yang sudah terlanjur membusuk selama puluhan tahun.
Ditambah lagi Pak Jokowi,pada awalnya tidak secara gamblang membuka,apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan revolusi mental. Baru belakangan dijelaskan,bahwa revolusi tidak selalu berarti mengangkat senjata untuk berperang, tetapi dapat juga bermakna berperang melawan ketidak adilan yang telah berlangsung selama kurun waktu puluhan tahun.
Indonesia, yang digembar gemborkan , merupakan bangsa yang berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotong royong,serta saling asah dan saling asuh,kemudian menjadi semboyan basi yang memalukan.
Buatlah Tulisan Yang Membangun
Saya merupakan salah satu dari antara 100 orang yang diberikan kesempatan oleh Kompasiana untuk hadir dalam acara makan siang di istana .Dan amat yakin juga,bahwa Kompasiana yang memberikan kesempatan kepada saya ,untuk duduk semeja dengan pak Jokowi. Sebuah kesempatan langka, sebagai warga dki ,yang bukan siapa siapa,mendapatkan kesempatan untuk dapat  berbicara secara langsung dengan Presiden RI ,hanya dalam jarak 20 cm.
Satu hal yang saya catat dalam hati adalah pesan Jokowi agar berhentilah menulis kalimat :" ekonomi Indonesia anjlok. Saya anti kata anjlok.Apanya yang anjlok? Bilang sama teman teman,buatlah tulisan yang bersifat membangun,yang optimis"
Akan tetapi tulisan ini saya postingkan,tentu bukan dengan maksud mau mengambil muka atau mengambil hati ,agar diundang lagi makan siang keistana.Melainkan hasil catatan dari pengalaman pribadi selama saya berhubungan dengan beberapa instansi Pemerintah.
Catatan Dari Warga Biasa
Instansi Yang Sudah Saya KunjungiÂ
- Polres Kemayoran
- Kelurahan Kebon Kosong -Kemayoran
- KPP Pratama - Kemayoran
- Kementerian Kehakiman dan Ham  di Jakarta
- Kementerian Kesehatan RI Â di jakarta
- Kementerian Dalam Negeri di jakarta
Polres Kemayoran
Saya dan istri mengurus perpanjangan SIM A di Polres Kemayoran. Layanan santun dan ramah dan tidak sampai 7 menit,perpanjangan SIM sudah ditangan.Tidak ada uang rokok,uang stempel atau uang apapun,kecuali pembayaran resmi.
Kelurahan Kebun Kosong
Bolak balik mengurus surat pindah dan keterangan domisili,urusan e-ktp,semua staf memberikan layanan prima dan tidak ada satu senpun pengeluaran uang,selama berurusan disana.
Kementerian Kehakiman dan Ham
kami mengurus perpanjangan Hak Patent Merk.Layanan prima dan pembayaran resmi Rp.1.000.000.-- (satu juta rupiah) dan diberikan kuitansi tanda penerimaan..Uang distor langsung dengan kartu debit. Bersih dari pungli ,maupun pungsa
Kementerian Kesehatan RI
kami kesini untuk mengurus surat surat  asosiasi dan ditemui oleh dokter Agus,dokter Gabe dan Bu Ratri,diruang terbuka. Diterima dengan santun dan tidak ada pengeluaran uang satu peserpun.
Kementerian Dalam Negeri RI
kami kesini untuk urusan pendaftaran asosiasi .sama sekali tidak dipersulit,bahkan diterima dengan sangat baik. semua clear,tidak ada uang siluman atau apapun namanya.
Data data yang ditulis adalah pengalaman pribadi dan dapat dipertanggung jawabkan. Jadi tulisan ini,bukan ditulis untuk mengambil muka ,tapi semata mata ,menunjukkan bahwa memang benar,revolusi mental Jokowidodo sudah mulai tumbuh subur dan berbuah.Dan tentu saja bukan pula berarti bahwa selain dari yang disebut diatas ,semuanya Pungli, Karena yang saya tulis adalah sebatas yang dialami secara pribadi.
Semoga diikuti oleh instansi lainnya, sehingga DKI akan menjadi proyek percontohan ,tentang keberhasilan revolusi mental dibidang birokrasi di instansi Pemerintah. Yang selama puluhan tahun sudah sempat  mengalami penyakit yang menahun bahkan sudah membusuk. Sehingga terbitlah kata kata"mutiara": Kalau bisa diperlambat,mengapa harus di percepat? Kalau bisa dipersulit,mengapa dipermudah? Kalau bisa jadi uang,mengapa dikasih gratis?"
Nah,semua semboyan gila tersebut ,perlahan tapi pasti sudah mulai tersingkir .Setidaknya  menurut catatan ,seperti yang saya tuliskan diatas
Tjiptadinata Effendi
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI