Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Jangan Menjerumuskan Anak-anak Kita

11 Agustus 2016   08:48 Diperbarui: 11 Agustus 2016   09:14 766
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

Tugas kita sebagai orang tua adalah mendidik anak anak sedini mungkin.menjadi manusia mandiri.Memanjakan berlebihan  justru akan menjerumuskan.mereka menjadi manusia yang gamang ketika memasukki kehidupan yang keras.

Didik Anak Kita Sedini Mungkin Menjadi Manusia Mandiri

Menyayangi anak anak dan memanjakan mereka ,tentu saja merupakan suatu hal yang  wajar.Karena kalau bukan kita yang memanjakan mereka,siapa lagi?

Namun memanjakan tentu ada batasnya. Karena memanjakan anak secara berlebihan ,bukan merupakan bukti kasih sayang kita kepada anak anak kita,malahan sebaliknya secara tanpa sadar kita sudah menjerumuskan mereka menjadi sosok yang penuh ketergantungan . Sebesar apapun kasih sayang kita terhadap anak anak,mustahil kita dapat menjaga mereka seumur hidup.

Suatu waktu,mereka harus hidup mandiri. Memiliki keluarga sendiri dan menentukan jalan hidup masing masing. Bila anak terlalu dimanja,ketika tiba saatnya  menjalani kehidupan secara mandiri,menjadi gamang..

Karena merasa tidak lagi di damping oleh orang yang selama ini selalu membimbing tangannya.Ibarat orang yang baru pertama kali meniti jembatan kecil dan licin,menjadi gamang ketika harus melaluinya sendiri.

Langkah Langkah Mempersiapkan Anak

Sejak kecil anak anak sudah harus diberitahukan,mana yang menjadi kewajibannya. Walaupun kita memiliki pembantu rumah tangga ,yang dapat menyelesaikan semuanya,namun anak anak harus dibiasakan memiliki rasa tanggung jawab. 

Tentu saja tidak mungkin menuntut pada anak anak kita untuk melakukan hal hal yang berat. Cukup mengawali dengan hal hal yang tampak sepele dan tak berarti. Jangan lupa,bahwa segala sesuatu yang besar,selalu diawali dengan sebuah langkah kecil.

Contoh

  1. Bangun pagi,tempat tidur dan kamar harus diberesin sendiri.
  2. Membersihkan dan merapikan rak buku dan sepatu sendiri
  3. Gosok gigi dan mandi ,tanpa perlu disuruh suruh
  4. Sarapan pagi
  5. setelah selesai tidak membiarkan piring bekas di meja makan
  6. Mengerjakan PR atau pekerjaan rumah

Coba Bayangkan Andaikata Semua Dilakukan Pembantu Rumah Tangga

  • Bangun pagi,tempat tidur berantakan
  • Mau mandi ,handuk harus disediakan pembantu
  • Habis makan, piring dan gelas bekas dibiarkan mengeletak dimeja makan
  • Mengerjakan PR harus disuruh suruh
  • Pulang sekolah sepatu dilempar sana sini
  • Karena dalam pikirannya ,toh ada pembantu

Kecil Teranja,Besar Terbawa

Secara psikologi,hal hal yang diterapkan semasa kecil ,akan sangat berbekas dalam jiwa seorang anak .Sadar ataupun tanpa sadar,akan terbawa hingga ia menjadi dewasa.Bahkan tidak jarang hingga sudah berumah tangga.

Sudah terbiasa diperlakukan sebagai raja kecil,maka ketika dewasa,juga menuntut perlakuan yang sama. Tentu saja hal ini,bukan hanya merugikan bagi dirinya sendiri,melainkan akan membawa dampak sangat negative bagi kehidupan berkeluarga. Dan tidak jarang,hal hal yang tampaknya sangat sepele inlah,menjadi awal rusaknya keharmonisan dalam rumah tangga.

Karena pasangan hidupnya akan sangat kecewa, menikahi :” anak mama”. Hal ini dipertontonkan dalam sikap dan  prilakunya, yang selalu membandingkan dengan masa kecilnya. “kalau dirumah aku, dulunya aku begini dan begitu. “ Kalaulah hidup keluarga cukup mapan,mungkin bisa menggaji pembantu rumah tangga.Tapi kalau hidup pas pasan dan masih merasakan sebagai :” anak mami” yang selalu dilayani,maka akan terjadi benturan benturan dalam keluarga.

Putra Putri kami  Usia 15 Tahun Study Keluar Negeri,Tanpa Diantar

Putra putri kami sejak kecil sudah kami didik,untuk menjadi orang yang mandiri,Sehingga ketika tiba saatnya mereka melanjutkan study ke Amerika Serikat, diusia yang relatif masih sangat muda,yakni usia belum genap 16 tahun ,berangkat sendiri ke sana.

Bahkan putri bungsu kami,dikelas 2 sma dan baru berusia belum genap 15 tahun sudah ke Seatle Amerika Serikat seorang diri.Walaupun kalau kami mau ,bisa saja mengantarkan anak anak ke Amerika,namun tidak kami lakukan.Kami kesana ketika menghadiri graduation day

Di Amerika, putra pertama kami tinggal di Chico Putra kedua di Sacramento dan Putri kami di Seatle.Mereka membeli mobil bekas dengan uang sendiri ,hasil kerja  part time.

Begitu selesai study, mereka sudah langsung mandiri dan sudah mampu membiayai hidup sendiri, Hal ini juga, diterapkan pada anak anak mereka atau cucu cucu kami. Yang sejak dari smp sudah bekerja part time,baik di toko roti,di restoran ,mengajar wushu,menjadi pelatih Gynstic  .

Tidak ada jedah waktu untuk menggangur bagi mereka. Kini cucu pertama kami Kevin ,tahun lalu sudah bekeluarga. Istrinya Astrid juga bekerja ,Masing masing membeli mobil dengan uang hasil kerja keras mereka sendiri.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya

On the train,11.08.16

Tjiptadinata Effendi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun