Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Mengunakan Bahasa Hati dalam Berkomunikasi

18 Juni 2016   20:56 Diperbarui: 18 Juni 2016   21:01 322
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kalau tidak bisa menolong, jangan menyakiti hati orang, Kalau tidak bisa meringankan ,jangan melukai

Banyak orang pintar, berpendidikan tinggi, namun kurang memahami bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena pada hakekatnya, manusia adalah makluk sosial yang saling membutuhkan. Ada saatnya orang membutuhkan kita, namun pasti ada saatnya kita yang membutuhkan bantuan orang lain. Karena itu bahasa yang digunakan untuk saling berkomunikasi dengan sahabat atau teman kita, tentu patut menjadi perhatian kita,

Adalah sebuah kekeliruan besar menganggap bahwa terus terang atau “to the point “ itu harus bersifat kasar dan kaku. Padahal sesungguhnya, kita dapat berterus terang tanpa membutuhkan bicara yang berbelit belit, tapi dengan menampilkan kata kata --hasil produk dari hati

Kata kata yang berasal dari produk pikiran akan sangat berbeda dengan kata kata yang berasal dari produk hati. Walaupun maknanya sama dan tujuannya sama, namun apa yang dihasilkan oleh pikiran akan melukai  orang lain, sedangkan bila diucapkan kata kata yang berasal dari produksi hati nurani, akan  dapat diterima dengan hati oleh orang lain.

Hal yang tampak sepele ,namun akan menimbulkan efek yang sangat berbeda, bahkan bisa jadi efek yang bertolak belakang.

Sekedar Contoh:

Ada yang datang atau menelpon, minta bantuan ,karena istrinya sakit. Maka ada dua jawaban yang dapat diberikan ,yakni

“Istri anda sakit, ada urusan apa dengan saya?”- produk dari pikiran

“Maaf ya mas, untuk saat ini, saya belum bisa bantu ya” – produk hati

Tujuannya sama sama tercapai,yakni menyatakan bahwa kita tidak bisa atau tidak mau membantu. Namun kalimat yang ditampilkan hasil produk pikiran,akan menciptakan rasa sakit hati dan kemungkinan juga rasa penghinaan mendalam ,bagi orang yang minta bantuan.

Sedangkan  kalimat hasil produk hati, dapat dipahami ,tanpa harus menyakiti hati orang.

Kalau  Tidak Bisa Meringankan ,jangan Menyakiti

Satu contoh saja ,sudah merupakan gambaran, bahwa cara berterus terang, yang tidak memiliki pertimbangan hati nurani, akan sangat melukai perasaan orang lain. Ia akan merasa sakit hati,karena tidak dapat pinjaman,malah mendapatkan jawaban yang sangat menyakiti hatinya.

Luka phisik gampang sembuhnya, sedangkan hati yang terluka, sangat sulit mempertautkannya kembali.Butuh waktu bertahun tahun atau mungkin saja seumur hidupnya, kata kata itu akan membekas dalam hati orang.

Bagaimana Kita Memperlakukan Orang ,Suatu Waktu Akan Kembali  Kepada Kita

Apapun yang kita ucapkan tidak akan hilang begitu saja,  Karena akan direkam oleh alam semesta dan suara kita akan beresonansi ,bergaung dan suatu waktu, apa yang kita ucapkan ,akan kembali lagi kepada kita.

Buktinya?

Cobalah  ke ngarai dan berteriaklah disana :” Pergi kamu..”maka dalam hitungan detik, ada suara yang bergaung dan kembali lagi kepada kita:” pergi kamu….pergi kamu… pergi kamuuu” Atau berteriaklan:" Kamu gila",,Maka sesaat lagi akan beresonansi dan kembali kepada kita:" kamu gilaa ..kamu gila...gila .."

Bagaimana kita memperlakukan orang lain,maka suatu waktu ,kita juga akan mendapatkan perlakuan yang sama.. Bila kita menghina orang, maka ada waktunya ,pengihinaan itu akan kembali kepada kita.

Salah seorang mantan boss saya ,yang karena kaya raya, selalu berbicara semaunya  .Yakin diri,bahwa akan selamanya ia kaya raya.Tapi 3o tahun kemudian, saya temui mantan boss saya sudah jadi pemulung di Kemayoran Jakarta.

Bukan menyumpahi orang, tapi itulah hukum tabur tuai. Yang menabur kebencian,kelak hidupnya akan dipenuhi kebencian. Yang senang menghina orang, maka ada waktunya ia akan hidup dalam kehinaan.Sebaliknya, yang dengan ikhlas membantu orang lain, suatu waktu dalam keadaan terdesak, akan ada yang akan membantu kita.

Saya adalah salah satu dari saksi hidup,bahwa hukum tabur dan tuai akan merambah siapapun.Apapun suku bangsanya, apapun latar belakangnya .

Iluka, 18 Juni, 2016

Tjiptadinata Effendi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Gaya Hidup Selengkapnya
Lihat Gaya Hidup Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun