Menakut nakuti anak,dianggap oleh sebagian orang tua, sebagai cara untuk: "menaklukan" anak anak. Agar mereka patuh pada orang tua dan menjadi anak baik.Bilamana "berhasil" menakuti anak anak,maka bagi sebagian orang tua,dianggap sebuah kesenangan dan tidak jarang dibuat bahan lelucon. Misalnya menengok anak terbirit birit lari dari laman rumah karena harus melewati pohon beringin ,yang katanya ada hantunya.Maksud hati orang tua, untuk menakuti,agar anak anak tidak lagi bermain diluar rumah,bila hari sudah senja.
Namun ternyata,banyak kasus yang membuktikan, bahwa akibat kesalahan cara berpikir orang tua, menyebabkan anak anak mendapat gangguan kejiwaan hingga mereka dewasa dan berkeluarga. Bila hal ini sampai terjadi, maka penyesalan yang kelak timbul,sudah tidak akan mampu mengubah keadaan.
Awalnya Dianggap Lucu, Akhirnya Jadi Penyesalan
Bila dianalogikan, ibarat api,bila masih kecil dapat dibuat mainan, misalnya kembang api atau petasan. Dalam kapasitas yang lebih besar jadi fireworks, yang dapat menjadi tontonan orang banyak. Tetapi bila api semakin besar dan tidak diwaspadai, dapat melalap habis apapun yang ada.
Dalam kehidupan banyak orang yang lupa atau melupakan hal ini.. Karena banyak kejadian kejadian yang terjadi pada anak anak, dianggap sesuatu yang lucu dan menjadi bahan tertawaan. Dibelakang hari ternyata hal yang awalnya dianggap lucu ini, menjadi sesalan seumur hidup.
Beberapa Kejadian
Senang Bisa Menakuti Anak
Untuk menanamkan pada diri anak, bahwa sebelum makan ,harus cuci tangan terlebih dulu, maka teman saya khusus membeli sebuah alat yang namanya mikroskop,yang dapat dimanfaatkan untuk menengok sesuatu yang secara kasat mata tak terjamah. Disana diperlihatkan bagaimana tangan yang belum dicuci penuh dengan bateri bateri. Â Hal ini diulangi berkali kali dan tujuannya untuk menakuti nakuti anak berhasil.
Sejak saat itu, tanpa disuruh lagi, sang anak selalu mencuci tangannya. Bahkan bukan hanya sebelum makan, tapi apapun yang dipegangnya, maka ia berlari ke dapur untuk membasuh tangan. Hal ini sempat menjadi bahan tertawaan sekeluarga, karena dianggap sesuatu yang lucu. Namun terjadi ,ketakutan ini merasuk kedalam jiwa anaknya dan berlarut  hingga dewasa. Dan menjadi gangguan dalam dirinya, sepanjang hidup.
Bawa Bantal dan Selimut Kemanapun Pergi
Pernah menemukan teman dan sanak keluarga yang bila menginap di luar kota, selalu membawa sarung bantal dan selimut sendiri? Kalau saya tidak menengok sendiri, saya juga tidak akan percaya. Namun hal ini kami saksikan,karena kami sama sama menginap di hotel yang sama, karena ada seminar.Â
Ketika saya tanyakan, katanya, kuatir menggunakan selimut dan sarung bantal yang ada di hotel, karena siapa tahu tidak bersih dicuci. Dan kita tidak tahu, siapa yang mengunakan sebelumnya. Jadi daripada tertular penyakit orang lain, makanya ia membawa sarung bantal dan selimut sendiri. Bayangkan betapa repotnya. Namun  gangguan kejiwaan yang mungkin sejak kecil, dianggap lucu dan jadi bahan tertawaan, ternyata berdampak sangat negative dalam hidup seseorang.
Bawa Penyedot dan Gelas Sendiri
Ada lagi teman yang lain, bawa gelas dan sedotan sendiri. Karena kuatir gelas yang disediakan di hotel, bekas diminum oleh orang yang berpenyakit tbc..Sedangkan sedotan dibawa, karena kuatir sedotan yang disediakan di hotel adalah sedotan hasil daur ulang dari plastic plastic bekas sampah. Entah dari mana ia mendapatkan gangguan kejiwaan ini, saya tidak tega menanyakan. Namun menengok ada orang harus bawa gelas dan sedotan kemana mana, sepintas seakan lucu, tapi sesungguhnya merupakan gangguan kejiwaan yang cukup serius.
Tidak Bisa Ke toilet selain di rumah sendiri
Kuatir ketularan berbagai penyakit, ada teman yang tidak bisa "kebelakang" ,selain dari di rumahnya sendiri, Maka bisa dibayangkan selama 3 hari 3 malam,kami berada di salah satu hotel. ia tidak bisa 'stor" atau buang hajat. Selimut bisa dibawa,sarung bantal juga bisa dibawa, Gimana mau bawa bawa toilet? Kedengaran lucu, tapi ini sungguh terjadi
Tengah Malam Keluar Untuk Beli Sikat Gigi
Sikat gigi setiap pagi dan sehabis makan tentu saja sangat baik. Apalagi sebelum tidur,agar bateri tidak merusakkan saraf saraf gigi. Â Namun, bila hal ini sampai menimbulkan ketakutan yang amat sangat didalam diri, tentu sudah menjadi semacam gangguan kejiwaan.
Sehabis makan malam di restoran, kami pulang ke hotel. Namun menjelang tidur, pintu kamar diketuk, ternyata teman saya menanyakan apakan saya ada membawa sikat gigi yang masih baru, karena ia lupa membawa. Sedangkan hotel tidak menyediakan, karena bisnis centrenya sudah tutup. Karena saya tidak bawa bawa sikat gigi cadangan, maka malam itu juga teman saya naik taksi keliling kota,untuk mencari  mungkin ada mini market yang buka 24 jam, hanya untuk membeli sikat gigi.
Takut Kodok
Seorang wakil direktur dari sebuah perusahaan swasta, bercerita pada saya bahwa kalau menengok kodok ia gemetaran dan ketakutan. Padahal tubuhnya tegap. Masalahnya, ketika ia masih kecil, bila ia menangis, maka di dalam kamarnya dibawa masuk seekor kodok, agar ia mau tidur dan tidak rewel.. Karena hal itu dilakukan oleh orang tuanya untuk: "mendidik" nya menjadi: "anak baik dan tidak rewel", sudah menjadi semacam terapi wajib atas dirinya. Sehingga sejak itu tertanam ketakutan yang amat sangat terhadap kodok dan merasuk dalam dirinya hingga dewasa.
Bayangkan  betapa hal hal yang seharusnya merupakan informasi untuk menjaga kesehatan diri, ternyata berubah menjadi sesuatu yang menyiksa diri. Dengan:
mutlak harus ada  sabun di dalam tas
membawa sarung bantal dan selimut
Bawa gelas dan sedotan
Tengah malam kluyuran, hanya untuk beli sikat gigi
Pria dewasa, takut kodok
Catatan ini hanyalah secuil cuplikan saja, masih teramat banyak lagi hal hal aneh, namun nyata dan merupakan realita yang tak terbantahkan, bahwa cara mendidik anak dengan jalan menakuti nakutinya akan merusak sendi sendi kehidupan di dalam diri anak. Jangan sampai penyessalan datang sesudah terlambat.
Wollongong 7 Apri.2016
Tjiptadinata Effendi
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI