Jakarta waktu pagi. Arifin melangkah keluar dari Stasiun Gambir. Ia menengok ke samping kiri dan kanan mencari seseorang. Namun ia mendapati lalu lalang orang tidak mengenali. Derit kereta bersusulan diikuti suara peluit panjang masinis. Kebisingan memekakkan telinga. Telepon gengamnya berdering, belum juga mengangkat kembali berhenti, berganti datangnya pesan masuk dari Afika.
Lelaki itu melangkah menuju pangkalan taksi. Setelah tawar menawar harga karena pengemudi tidak menyalakan argonya. Ia menyebutkan alamat. Duduk termangu memandangi dari dalam kaca jendela mobil umum. Masih sama semrawut, kemacetan yang tak kunjungberubah. Lelaki itu memejamkan mata. Kembali memikirkan apa yang akan dikatakan pada Afika? Apa tanggapan setelah ia mengutarakan maksudnya?
Suara ponsel membuyarkan lamunannya. Ia meraih ponsel dalam saku celananya. Ada nama Asih terlihat memanggil. Ada keenganan untuk menjawab. Mendiamkan sejenak mengambil napas panjang dan menghembuskan.
“Ya Asih?” Ada suara berat ketika mulai menyapanya.
“Kamu sudah tiba di Jakarta?” Suara Asih terdengar mencemaskan.
“Tadi ngopi dulu, sudah di dalam taksi menuju rumah Afika.”
“Aku menunggu kabar baik darimu ya, Mas.” Suara Asih terdengar sedikit lega.
Kembali Arifin mendesah. “Sih, sudah dulu, kalau urusan sudah selesai aku segera pulang.”
“Ya udah, aku menantimu, Mas.”
Afirin meletakkan ponsel. Menahan gemuruh dalam dadanya. Sesak dan berat seperti kehidupan yang harus ia alami kini.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H