Ada dua burung besar yaitu Rajawali (sub famili Aquilinae) dan Burung Condor Andes (Vultur Gryphus) yang keduanya merupakan icon kepemimpinan simbolik. Condor adalah burung terbesar di planet bumi yang memiliki kemampuan untuk bisa melayang di udara (gliding) lebih baik dibanding Rajawali, yaitu sejauh 172 kilometer tanpa kepakan sayap.
Mereka senang makan bangkai dengan gaya hidupnya yang suka berpesta pora bersama hewan besar, dan liar.  Rajawali memiliki sifat berbeda dari Condor, yaitu mereka  tidak mau makan bangkai dan karenanya tidak suka berpesta pora.Â
Metafora burung Condor sebagai pihak yang suka memanfaatkan kesusahan orang lain ditengah bencana, sangatlah dekat dengan realita dalam dinamika kehidupan sosial kita.
Ironis memang jika ada pihak berpesta pora mengambil kesempatan untuk kenikmatan dan keuntungan pribadi melalui pandemi covid-19.
Penerapan program nasional vaksinasi Covid-19 di Indonesia mencerminkan harapan perkembangan pandemi yang membaik memasuki awal tahun 2021 sejak diawali Presiden Joko Widodo pada 13 Januari 2021.Â
Para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi menjadi prioritas pemerintah dalam pemberian vaksin Covid-19. Data per tanggal 14 Februari 2021 menurut laman covid19.go.id jumlah capaian sasaran vaksinasi SDMK (Sumber Daya Manusia Kesehatan) telah mencapai 1.468.764, sedangkan sasaran vaksinasi tahap 1 telah mencapai 1.068.747 dan sasaran vaksinasi tahap 2 telah mencapai 425.578.
Pada sisi lain, jumlah kasus Covid-19 per tanggal 14 Februari 2021 tercatat 1.217.468 positif, dan 1.025.273 sembuh, serta 33.183 meninggal, menunjukkan angka konfirmasi kasus Covid-19 yang terus meninggi. Hal ini tentunya juga menjadi indikator memburuknya persoalan pandemi di negara kita. Artinya ada fenomena kemandekan (stagnasi) kemajuan penanganan Covid-19 yang harus kita hadapi bersama.Â
Jika kita bandingkan data dari Pusat Pengendalian Penyakit AS (CDC) bahwa  8.317.180 orang AS (setara 2.5% populasi) telah menerima kedua dosis vaksin Covid-19, terdapat kemajuan jumlah pasien rawat inap akibat Covid-19 di Amerika Serikat (AS) yang menurun.
Fenomena ketidakpastian dan kompleksitas pandemi tersebut telah kita kenal dalam akronim manajerial yang populer sejak era tahun'90an yaitu VUCA (volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity), sebuah situasi untuk menggambarkan fenomena dunia yang mengalami perubahan drastis, serta cenderung sulit diprediksi.Â
Para pemimpin dengan mentalitas Condor akan cenderung memperburuk situasi VUCA dimasa pandemi. Presiden Joko Widodo perlu segera mencopot siapapun dalam penangan pandemi Covid-19 ini yang memiliki mentalitas Condor, karena sangat berbahaya dan menghambat kemajuan. Kita membutuhkan pemimpin dengan kualitas mental Rajawali yang tidak kenal takut dan tidak mudah menyerah serta tidak suka berpesta pora atas hasil orang lain.
Tingginya angka kasus Covid-19 sangat bisa diturunkan melalui kedisiplinan, kejujuran serta karakter kepemimpinan efektif dan tangkas yang mengendalikan penularan penyakit ini.Â
Waktu maksimal kekebalan terhadap Covid-19 sesudah menerima lengkap Vaksin Sinovac belum diketahui pasti, namun setidaknya masih bertahan 3 bulan sesudah suntik terakhir.
Artinya pengendalian penyakit Covid-19 ini tidak bisa hanya bergantung pada daya efikasi vaksin, melainkan justru sangat bergantung pada upaya promotif dan preemtif pencegahan serta pemutusan rantai penularannya.
Upaya pelaksanaan pengetatan secara terbatas kegiatan masyarakat (PTKM) untuk membatasi mobilitas warga pada tingkat mikro secara berjenjang perlu dibarengi dengan literasi COVID-19 yang cerdas dan kritis seperti yang dikeluarkan oleh drh. Moh. Indro Cahyono.
Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan serta menyebabkan Covid-19 hanya bisa bertahan hidup di luar tubuh manusia dalam media droplets yang gelap, basah, dan dingin. Virus tidak bisa bertahan hidup lama tanpa perantara media tersebut, jadi jika misalnya ada orang yang sudah terinfeksi mengeluarkan droplets (cairan lendir atau ludah), lalu kena di baju, kain, atau meja, maka virus tetap hidup selama droplet itu belum mengering.Â
Droplets yang mengering sendiri karena pengaruh lingkungan, misalnya karena panas atau disinfektan, maka virusnya akan otomatis mati.Â
Manusia yang sudah pernah terinfeksi virus tersebut dan sembuh masih bisa terkena infeksi strains virus itu tetapi sel memori tubuh akan mengeluarkan antibodi lebih cepat (bukan 7 hari seperti infeksi pertama), yang langsung keluar dalam waktu 1 hari (24 jam).
Banyak terobosan aksi dari pengetahuan dan praktek terbaik (best practices) untuk mengurangi laju penularan Covid-19 pada tingkat individu dan keluarga.
Salah satu upaya mudah dan murah itu adalah dengan cara membersihkan virus dari hidung kita menggunakan cairan garam non yodium. Air garam non yudium ini bisa digantikan cairan infus.Â
Banyak cara lainnya untuk memutuskan rantai penularan Covid-19 mulai dari tingkat individu. Literasi pencegahan penyakit ini harus dilakukan secara masif dalam frekuensi banyak agar menjadi habit di masyarakat.
Intinya ada tiga persoalan penanganan pandemi Covid-19 yaitu pertama persoalan pencegahan & pengendalian, kedua adalah persoalan tata kelola pandemi dan ketiga adalah persoalan pemulihan dampak pandemi di semua aspek utamanya ekonomi.
Hal yang justru sangat mengacaukan adalah adanya mentalitas Condor dibalik tingginya angka kasus Covid-19 dalam tata kelola pandemi di Indonesia. Moral hazard penanganan bencana alam maupun non alam selalu menjadi perhatian serius para pihak. Saya termasuk aktif dalam mengikuti perkembangan isu akuntabilitas kemanusiaan di tingkat Internasional yang salah satunya menggunakan sistem standardisasi HAP (Humanitarian Accountability Partnership).Â
Kita bisa mengembangkan tata kelola pandemi Covid-19 yang lebih baik dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.Â
Visibilitas respon tanggap darurat pandemi harus semakin dikuatkan. Peluang terjadinya
curang (fraudulence) harus dipersempit agar mentalitas condor sebagai salah satu moral hazard tata kelola pandemi Covid-19 makin lenyap.Â
Dalam kiriminologi ada dua pendekatan untuk mengurangi jumlah dan kualitas kejahatan yaitu dengan menekan motif dan memperbaiki sistem untuk mempersempit ruang kejahatan.
Semakin tipisnya mentalitas Condor akan menekan motif kriminal. Pendekatan kesadaran moral individu harus diikuti pengembangan sistem tata kelola yang cerdas, transparan dan akuntabel.
Kita membutuhkan literasi Covid-19 yang cerdas dan kritis dengan pendekatan andragogi yaitu proses pendidikan orang dewasa.Â
Alexander Kapp (1833), seorang pendidik dari Jerman, tercatat sebagai pionir pendidikan andragogi. Pendidikan orang dewasa diharapkan dapat membentuk perilaku dalam budi pekerti lubur yang tangkas dan cerdas dengan mentalitas Rajawali. (TA)
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI