Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Petani - Pecinta aksara

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

[Obituari] Arloji Kenangan dari Bu Ani

1 Juni 2019   17:05 Diperbarui: 2 Juni 2019   05:10 494
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mengenalmu sebuah kebanggan bagiku, dapat bersua denganmu walau sesaat merupakan momen yang tak terlupakan. Di akhir 2005 silam, di jantung kota Kuala Lumpur kita berbicara panjang lebar tentang women trafficking yang membuatmu gusar. 

Kamu tampak begitu sangat konsen akan hal ini, sampai suamimu sang Presiden memanggil Kapolda Sumatera Utara untuk mengklarifikasi maraknya penyelundupan perempuan dari Medan ke Malaysia. 

Suatu siang, saat mewakili sebuah kantor berita tanah air, aku mengikuti aktivitasmu mengunjungi ratusan perempuan korban eksploitasi oleh majikan yang tidak bertanggung jawab di negeri jiran. Hanya aku sendiri pewarta dan seorang juru foto istana yang akrab kupanggil bang Beg yang mengikutimu siang itu.

Lewat bang Beg kamu memintaku memberikan artikel yang kutulis untuk disebarkan kepada seluruh media massa lewat kantor berita nasional Antara. Kamu malah bersedia diwawancarai secara khusus kalau memang aku benar-benar mau memberikan draf asli ke Antara untuk disebarkan ke seluruh kantor berita lain di tanah air.

Karena ini merupakan masalah bersama demi mengerem lajunya praktek penyelundupan dan perdagangan perempuan, tanpa pikir panjang kupenuhi permintamu. Seusai solat Magrib beberapa draft berita yang tinggal tayang kuserahkan ke bang Beg untuk diteruskan ke Antara.

Tak lama kemudian, bang Beg muncul membawa sebuah tas ukuran sedang, katanya ada salam dari ibu negara sambil menyerahkan oleh-oleh darimu. Dengan riang kuterima dan membawanya ke hotel tempat menginapnya para pewarta dari berbagai negara dan para delegasi negara-negara sahabat termasuk kepala negaranya.

Arloji dan Dasi Merah Maroon

Tas yang diserahkan bang Beg langsung saja kubuka, ternyata di dalamnya ada sebuah arloji dan dasi motif batik warna merah maroon. 

Arloji pemberianmu yang di dalamnya berlambang Garuda bertuliskan Istana Negara masih kusimpan hingga hari ini sebagai koleksi pribadiku. Saat kutuliskan artikel ini, arloji tersebut sedang kupakai sebagai tanda ingat dan doa atas kebaikan dan keakrabanmu. 

Seperti halnya arloji, bertahun-tahun dasi motif batik warna merah maroon juga benar-benar menjadi kenangan pertemuan kita 13 tahun silam. Sekian lama dasi itu menjadi dasi favoritku sehingga sering sekali kupakai saat ke kantor.

Secara emosi, dua pemberian itu sangat mahal harganya yang tak dapat diukur dengan materi. Mungkin tidak akan mendapatkan lagi pemberian seperti itu dari seorang ibu negara. Saat kupakai, banyak yang meminta beli arloji tersebut dan kujawab not for sale. Tentang dasi merah maroon juga demikian, sering dikomentari orang karena bagus dan enak dipandang.

Kepergianmu

Selama ini kuikuti berita di media massa tentang dirimu yang terbaring lemah, berjuang melawat penyakit yang menggerogoti tubuhmu. Kesabaran dan ketabahanmu yang kusalut, jiwamu tetap tegar dan selalu menebarkan energi positif seperti sosokmu yang kukenal saat bersua belasan tahun silam.

Siang ini (01/06/2019), seorang yang dekat denganku menyampaikan berita duka tentang kepergianmu. Tuhan telah selesai menguji kesabaran dan ketabahanmu dan memanggilmu menuju alam peristirahatan. Semoga sakit yang kau derita menggugurkan dosa dan kesalahanmu sehingga saat bertemu dengan-Nya kamu benar-benar dalam keadaan husnul khotimah. 

Selamat jalan, semoga Allah menempatkanmu bersama-sama hambaNya yang soleh dan solehah di syurga. Aamiin ya Rabbal aalamiin.[]

Sekadar berbagi di saat berduka.

KL: 01062019

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun