Mohon tunggu...
Thomas Edison Duha
Thomas Edison Duha Mohon Tunggu... Relawan - Jangan hidupi hidup yg tidak membahagikan

Tidak ada kemutlakan sesuatu hal yang bersifat fisik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kebebasan yang Bertanggungjawab

2 April 2022   11:57 Diperbarui: 2 April 2022   12:09 2423
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suatu Seruan Paradoksal : Manusia adalah Makhluk yang Bebas dan Terikat

Manusia merupakan mahkluk paradoksal. Hal ini merupakan salah satu kekhasan manusia dalam kedudukannya terhadap mahkluk lain. Paradoks itu sendiri berarti dua kebenaran yang saling bertentangan namun dalam satu kesatuan. Kebenaran suatu paradoks terletak dalam kesatuan kebenaran yang bertentangan. Salah satu ciri paradoksal yang terdapat pada manusia adalah kebebasan yang terikat. Manusia adalah mahkluk yang bebas sekaligus terikat. Hal ini merupakan dua kebenaran yang bertentangan namun mutlak harus dimiliki oleh manusia.

Sifat paradoks tentang kebebasan manusia telah banyak dibahas oleh para filsuf. Berkaitan dengan manusia yang terikat sekaligus bebas, terdapat dua pandangan umum yang mencoba membahas bagaimana kebebasan manusia dapat dipahami. Pertama, aliran yang hanya menerima salah satu sifat baik kebebasan atau keterikatan. Aliran ini digolongkan dalam dua bentuk yakni (1) determinisme yang hanya menerima sifat keterikatan manusia sebagai makhluk dan (2) mempertahankan secara total kebebasan manusia. Kedua, aliran yang menganut paham dualisme yang melihat determinisme dan kebebasan sebagai hal yang berbeda. Determinisme berlaku bagi manusia ketika ia berkaitan dengan sisi jasmaniah sedangkan kebebasan berlaku bagi manusia sejauh ia merupakan mahkluk rohaniah.

Manusia merupakan mahluk paradoks. Pengertian ini berbeda dengan sifat dualisme yang saling bersifat kontradiksi. Manusia dalam dirinya memiliki sifat dualisme tetapi tetap mengandaikan bahwa di dalam diri manusia tidak terdapat pertentangan satu sama lain. Misalnya, manusia terdiri atas roh dan materi. Meskipun dua hal yang berbeda, kenyataan roh dan materi dihayati dalam kesatuan yang membentuk manusia yang utuh. Kesatuan merupakan kenyataan yang harus dihayati dalam diri seluruh manusia. Maka, sifat bebas dan terikat mengandaikan adanya dua dimensi yang berbeda namun harus tetap dihayati dalam satu kesatuan utuh.

Dasar untuk memahami bagaimana kebebasan yang sejati ialah dengan mengintensifkan kehadiran pada diri sendiri. Dengan kata lain, tindakan manusia berjalan bukan dengan keharusan melainkan dengan suatu pilihan yang bersumber pada diri manusia. Hal ini mengandaikan bahwa 'aku' sebagai subjek memilih dan menentukan suatu pilihan. Pada setiap kemungkinan yang ada, manusia dipanggil untuk tidak memilih sewenang-wenang. Manusia dipanggil agar menjadi manusia yang baik dengan taat pada keharusan yang hadir dalam kebebasan. Paradoks tidak menghapus kebebasan, tidak menghapus suatu keharusan dan tidak menghapus suatu kesatuan total. Manusia sebagai subjek yang utuh menghayati diri dalam suatu keharusan yang harus diaktulisasikan secara bebas. Maka, semakin manusia bebas, semakin ia terikat unuk menjadi seorang manusia karena diarahkan pada humanisme yang sejati.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun