Inisiasi
Jika situasi hal di atas tidak terjadi maka tentu saja akan mereduksi bagian esensi berikutnya, yakni proses inisiasi (initiation).
Dalam proses ini, pihak sekolah ingin membawa para siswa baru pada pemahaman pengetahuan dan informasi, pengenalan nilai-nilai dan keutamaan serta tradisi baik yang diyakini dan dimiliki sekolah itu.
Pemahaman atas lingkungan fisik sekolah, para guru dan tenaga administrasi sekolah, dan sejenisnya perlu dan mudah dilakukan. Tidak hanya itu, proses inisiasi dalam MOS menuntut sekolah untuk mulai membawa siswa baru pada pengenalan, eksperimen, pembiasaan, dan akhirnya penghayataan nilai-nilai dan keutamaan sekolah.
Bagian ini, tidak akan berhasil jika hanya mengadopsi pola penataran P4 ala Orde Baru. Proses penanaman karakter itu, menurut Lickona (1991), mesti berjalan secara simultan mulai meliputi: moral knowing (memahami secara persis nilai-nilai moral itu), moral feeling (membatinkan, percaya diri, berempati, mencintai, mengendalikan, serta terbuka terhadap setiap keutamaan), dan moral action (melakukan, membiasakan, menghidupi dalam tindakan). Interaksi ketiganya digambarkan, sbb:
Kegagalan penanaman nilai di sekolah selain terabaikannya hal di atas, terlebih juga tidak ada atau minimnya budaya teladan (role model) yang ditunjukkan oleh pendidik atau warga senior sekolah kepada para siswa baru.
Para siswa diminta disiplin, warga senior atau pendidik tidak melakukan. Siswa baru tidak boleh terlambat, kakak kelas yang terlambat justru ikut memarahi siswa baru. Para siswa diminta menjaga rasa hormat dan sopan santun, tetapi kata-kata kotor dan umpatan kebun binatang menghiasi acara MOS, dan seterusnya.
Suasana inkonsistensi ini akan memberi andil dan menjadi benih-benih kegagalan penanaman nilai di sekolah. Ibaratnya, “mereka mau memberi” namun “mereka tidak memiliki”.
Mudah ditebak apa implikasi kegagalan proses inisiasi ini pada tahap berikutnya. Siswa baru juga gagal mengintegrasikan nilai-nilai itu dalam pengalaman hidup mereka masing-masing. Proses menginisiasi atau “memenuhkan” siswa baru dengan nilai-nilai sekolah melalui MOS juga gagal dan hanya melahirkan ketidakpercayaan atau lebih seius “pemberontakan” nilai-nilai dan media subur praktik kekerasaan di sekolah.