Mohon tunggu...
Ragu Theodolfi
Ragu Theodolfi Mohon Tunggu... Lainnya - Penikmat seni, pencinta keindahan

Happiness never decreases by being shared

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Dari Ada Menjadi Tiada, Refleksi di Balik Proses Ngaben

29 September 2024   21:47 Diperbarui: 30 September 2024   07:13 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kami menatap dari kejauhan, api yang menyala besar di dalam krematorium. Rasa sedih menjalar begitu dalam, menatap jasad sahabat,  teman dan saudara kami, menuju keabadian. 

Ngaben—ritual sakral yang mempertemukan kehidupan dan kematian dalam  harmoni yang sempurna. Di sini  saya belajar bahwa hidup hanyalah sebuah perjalanan singkat, dari ada menjadi tiada. 

Pagi ini, setelah melalui upacara kedinasan singkat di rumah duka, kami menuju krematorium areal Pura Prajati Alak, Kota Kupang. Kami ingin menemani perjalanan sahabat yang telah berjuang bersama kami selama hampir tigapuluh tahun menuju keabadiannya. 

Krematorium yang berdiri di atas ketinggian itu, menyambut kedatangan sahabat kami. Banten, canang sari, dupa, tirta, bunga dan lain-lain yang digunakan dalam acara sudah disiapkan oleh keluarga dan umat Hindu di Kupang. Semua sudah diatur secara rapi. 

Adapun upacara Ngaben dipimpin oleh Pinandita Ida Resi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba. Rangkaian acara mulai dari Matur Piuning (memohon ijin atau restu kepada leluhur atau dewa, supaya acara berjalan lancar) di Pura Prajapati hingga Ngelinggihang  (menempatkan roh leluhur atau dewa pada tempat suci) dilaksanakan dari pagi hingga sore hari ini. 

Proses Ngaben 

Suara gamelan terus berirama, bersama doa-doa yang dilantunkan oleh keluarga dan sahabat.  Ada kesedihan dalam raut anggota keluarga terdekat, meski mereka berusaha tetap tegar. Kami pun merasakan hal yang sama. 

Foto : Adobe stock
Foto : Adobe stock

Proses kremasi dilakukan oleh petugas khusus.  Api suci pertama kali dinyalakan oleh anggota keluarga terdekat. Keluarga kemudian diminta untuk duduk menunggu di pelataran krematorium hingga proses berakhir. 

Satu jam kemudian, pembatas yang diletakkan di pintu kemudian dibuka oleh petugas. Tidak ada lagi tubuh yang utuh, yang tersisa hanya tulang yang sudah mulai hancur akibat panas dari api.

Tidak lama menunggu, api dipadamkan. Keluarga diminta untuk mengumpulkan abu dan sisa tulang yang terbakar untuk mengikuti proses upacara selanjutnya.

Menemukan makna

 Proses ngaben hari ini lebih dari sekedar ritual keagamaan.  Ada hal yang lebih dalam dari itu, tentang rapuhnya hidup ini. Ketika api suci mulai dinyalakan, ada perasaan sedih di dalam hati, seperti sesuatu yang hilang... dari ada, menjadi tiada.

Ada pelajaran yang Saya dapatkan dari peristiwa ini. 

Setiap peristiwa kematian selalu mengingatkan kita bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Kematian sahabat kami , dan proses ngaben yang dilalui, menjadi pengingat betapa singkatnya hidup ini. Pada akhirnya, semua akan memudar.

Apakah yang sesungguhnya kita kejar dalam hidup? Harta, jabatan, atau kebahagiaan sesaat? Kita hidup seolah tak ada lagi hari esok, mengejar mimpi dan ambisi yang tiada pernah habis. 

Pada saatnya, kita akan sampai pada titik ini. Tubuh fisik yang dibanggakan tak lagi bersisa. Karena yang tersisa kemudian hanyalah kenangan, cinta, dan apa yang ditinggalkan di hati orang lain. Bila meninggalkan kebaikan, bersyukurlah. 

Ilustrasi melarung abu di laut (Foto : Adobe stock)
Ilustrasi melarung abu di laut (Foto : Adobe stock)

Lalu, ketika abu sahabat kami dilarung ke laut Namosain, Saya pun belajar dari gelombang lautan yang sebentar datang, kemudian pergi menghilang. 

Hidup tak ubahnya seperti gelombang lautan, kadang besar, kadang kecil, hanya butuh kesabaran dan ketekunan menghadapinya. Setiap gelombang pasti akan membawa perubahan, karenanya harus lebih fleksibel dan adaptif menyikapi perubahan. 

Dan, karena setiap perubahan tidak selalu indah, belajarlah untuk selalu bersyukur untuk dapat menikmati setiap perubahan tersebut tanpa mengeluh atau bersungut-sungut.

Dari ada menjadi tiada... begitulah siklus ini berjalan. Ciptakan makna, sebelum waktunya tiba.

Kupang, 29 September 2024

Ragu Theodolfi, untuk Kompasiana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun