Mohon tunggu...
Thamrin Sonata
Thamrin Sonata Mohon Tunggu... Penulis - Wiswasta

Penulis, Pembaca, Penerbit, Penonton, dan penyuka seni-budaya. Penebar literasi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Di Kereta Malam dari Malang

7 Agustus 2018   01:28 Diperbarui: 7 Agustus 2018   01:50 1095
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Secangkir teh hangat mengusir dingin di gerbong paling belakang kusedot dari pet gepeng. Meski goyangan di resto masih terasa. Dan kepala kutempelkan ke kaca hitam untuk menguatkan pandangan mata ke luar jendela. Seribu kunang-kunang berkejaran di luar.

"Ini uang kembaliannya, Mas ...."

Oh, suara nelangsa. Tidak, kuralat. Suara sejuk dan bening dari wajah bulatnya. Sepasang alis tebal dan gelung modern. Rambut dari sisi pelipisnya disisir ke belakang, membuat telinganya yang seperti teratai indah tampak.

"Ini pemandangan indah tak terkirakan. Ketika dingin menyergap beberapa jam di kursi empuk menghadap ke belakang di sisiku wanita menyebalkan dengan dengkurannya tak peduli pada keadaanya sekeliling," aku menggerutu sepanjang tadi berangkat dari Malang.

"Saya pesan lagi, boleh?"

"Tentu. Membuat Lala menambah point penjualan malam ini," sahutnya dengan suara lebih menghujam dalam.

Betapa. Betapa ia jujur kepadaku dalam waktu singkat. Menyebutkan nama, dan menyebutkan sebuah hasrat pada sandangan predikat yang dijalankan hingga dini hari. Ah, hingga pagi nanti tiba di Jakarta.

"Apa pilihannya kalau boleh saya TS minta tolong  kepada Lala?"

Ia menggigit bibir bawahnya. Matanya berputar-putar bak bintang kejora di langit yang tak bisa kulihat di ruang restorasi kereta yang membawaku dan Lala. Yang lain, semua penumpang yang kedinginan, apa peduliku? Rasakan dinginnya penyejuk ruang yang kelewat itu. Biarkan aku dan Lala melakukan perbincangan hangat.

"Mie seduh instan, Mas?" Lala menawarkan.

"Berdua dengan Lala?" tanyaku nakal. Namun kusimpan. Itu terlalu jalang. Lala tak pas diperlkukan seperti itu. Ia Lala yang tak mengingatkan siapa-siapa wanita yang pernha singgah dan bersliweran. Ia istimewa. Karena telah membebaskanku dari dingin kereta malam yang sebentar lagi memasuki Solo Jebres.

"Sajikanlah Lala. TS akan memperlakukan mie itu dengan lembut."

Lala tersenyum.

"Sebentar, ya Mas ..."

Duh!

Kalau saja kunang-kunang di luar sana itu bisa kutangkap satu saja, maka akan kuperembahkan kepada Lala. Ia seorang. Dan dalam tangkupan telapak tanganku. Untuk disimak berdua dengannya. Dan pancaran cahanya bisa menyinari wajah kami berdua. Wajah yang memancar ....

"Itu lagu yang Lala suka," Lala menyodorkan segelas mie instan.

Oh, ia rupanya sudah berdiri cukup waktu untuk ikut nguping Surat Cinta untuk Starla yang kudengar dari laptop merahku.

"Bukan lagu kita?"

"Boleh. Kita nikmati. Hingga stasiun akhir...."

Bidadari malam. Bidadari dinihari. Yang mengusir dinginku, dan Lala yang msih berdiri di sisiku.

"Kenapa Lala tak duduk," aku mencoba meraih pergelangan tangannya.

Lal menarik dengan harus.

"Lala masih kerja, Mas."

Aku lepaskan.

"Baiklah. Kapan kupegang lagi?"

Ia memejamkam mata sebentar.

"Bisa sekarang. Tapi jangan main-main dengan yang lain."

Ia menyodorkan tangannya. Aku menangkapnya.

***

Di KA dari Malang, saat di Stasiun Solo, 7/8/18

   

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun