Sehangat matahari
Sesejuk embun di pagi hari
Bukunya: Sehangat Matahari Pagi. Tentang Tjiptadinata Effendi. Yang menulis dan mengomentari para kompasianer. Baik berbentuk esai, opini, surat, maupun puisi.
Kebetulan saya didapuk oleh Pak TJip untuk mengeditori sehimpunan tulisan lama maupun baru tentang beliau – juga ada sebagian kecil tentang Bu Roselina Tjiptadinata. Kenapa Sehangat Matahari Pagi? Diambil dari penggalan lirik lagu tahun tujuh puluhan yang begitu menyentuh: lagu tentang Cinta Pertama – seperti saya petik di atas.
Rasanya ya, sosok Pak Tjip saya sarikan dengan Sehangat Matahari. Kepribadiannya seperti itu, bagi saya. Mungkin saya sudah entah berapa kali berhubungan langsung: ditraktir makan, diajari reiki, diminta sebagai pembicara di komunitas di luar kompasiana, dan diberi cinderamata, terutama dari luar negeri: Aussie maupun, “Ini jam tangan murahan dari Hongkong,” katanya di booth Kompasinival di Gancit, Gandaria City 12 Desember lalu.
“Tiap hari, terutama bagi Tjiptadinata, menuliskan apa yang menjadi unek-uneknya. Jalan hidupnya yang dirambah, diungkapkan dengan kesadaran penuh, agar bisa dipetik bagi kompasianer yang diharapkan tak melewati jalan terjal yang bisa menjungkalkan seseorang bila tak berbekal iman dan pribadi yang kuat. Dan keikhlasan.”