Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Novel | Menyusuri Elegi Seorang Hamba

25 April 2020   14:22 Diperbarui: 25 April 2020   14:26 242
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebelum lulus diterima dalam seleksi penerimaan calon PNS tahun ini, pak Saragih adalah seorang buruh kasar di perusahaan pengolahan kayu di kampung tetangga. Sehari-harinya pak Saragih bertugas menebang kayu-kayu besar di sebuah kawasan hutan produksi. Mengenakan sepatu bot, menenteng gergaji mesin, keluar masuk hutan dengan bertelanjang dada, adalah rutinitas yang dijalananinya, hampir setiap hari selama 15 tahun terakhir.

Sepenggal kisah pak Saragih ini, terus terngiang di benak Tegar di kamar asrama tempat berlangsungnya diklat itu. Di kamar seorang diri, Tegar merenungkan kembali ucapan pak Saragih yang sangat mensyukuri nasibnya sebagai calon PNS, guru SD di sekolah kecil di sebuah desa terpencil.

Tegar membayangkan apakah ia juga akan mensyukuri pekerjaannya begitu ia ditempatkan, dimanapun itu segera setelah masa magangnya selesai di lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan PNS ini. Bukan saja karena ia belum bisa membayangkan apa yang akan dikerjakannya nanti di tempat tugasnya, tetapi jalan hidup yang membuatnya akhirnya memilih sekolah pamong pemerintahan di Pulau Jawa itupun tidak terlepas dari rasa prihatinnya kepada keadaan ekonomi kedua orang tuanya yang pas-pasan.

Dengan ganjaran sekolah dibiayai negara di akademi yang dia masuki, waktu itu ia hanya berharap orang tuanya akan terbantu karena tidak perlu memikirkan biaya sekolahnya, dan setamatnya dari sana bisa langsung bekerja sebagai PNS. Apakah hidup akan berjalan sesederhana itu? Adakah alasan lain baginya seperti pak Saragih untuk bersyukur seandainya kenyataannya nanti tidak sebaik harapannya? Oh, kehidupan masih terlalu singkat untuk aku menemukan jawabannya, batin Tegar.

Tugas-tugas Tegar setiap harinya sebagai pegawai magang dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan bagi calon-calon PNS itu adalah memastikan semua peserta bangun sesuai jadwal yang sudah ditetapkan, memimpin senam pagi, menyiapkan apel pagi dan apel sore, serta memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan peserta, kebutuhan di kelas maupun kalau-kalau ada peserta yang sakit sehingga membutuhkan pengobatan atau yang ibu-ibu muda yang sesekali meminta permisi menemui suami atau anggota keluarga di jam-jam istirahat untuk menyusui. Sebagian peserta diklat adalah ibu-ibu menyusui yang baru melahirkan sesaat sebelum pelaksanaan diklat.

Berbeda dengan Tegar, yang baru berumur dua puluh dua tahun, lulusan sekolah pamong pemerintahan di Pulau Jawa, yang langsung diangkat menjadi PNS saat masih menjalani pendidikan, sehingga begitu menamatkan pendidikannya langsung ditempatkan dan tidak perlu lagi menjalani proses pendidikan dan pelatihan pra jabatan di daerah penempatan sebagaimana hari ini dia saksikan.

Seluruh peserta, yang adalah calon-calon PNS golongan dua itu, bersemangat mengikuti kegiatan. Walaupun kadang-kadang ada bapak-bapak yang mengeluh karena berjam-jam harus menahan diri untuk tidak merokok, ibu-ibu yang terkadang kerepotan mendiamkan anaknya yang masih ingin menyusu, semua itu terrekam dalam penglihatan Tegar. Bayangan yang merasuk ke benaknya dan menyisakan berjuta pertanyaan dalam hatinya, akan seperti apa kehidupan sebagai seorang PNS yang nanti akan dilajaninya.

Selang waktu berganti, setalah dua minggu kegiatan itu segera akan berakhir. Tampak raut keceriaan di wajah seluruh peserta, ibu-ibu dan bapak-bapak, sebagian kecil lagi mereka anak gadis dan pemuda. Tidak saja karena telah berhasil melewati proses pendidikan dan latihan yang mengekang selama dua minggu, tetapi karena akhirnya mereka akan kembali menjalani kehidupan bebas, di kampung-kampung tempat tinggalnya.

Diadakanlah sebuah acara perpisahan antara panitia dan peserta yang digagas oleh peserta sendiri. Di antaranya ada acara penyampaian kesan dan pesan, dari yang mewakili peserta maupun yang mewakili panitia. Satu persatu peserta, mewakili yang pria dan yang wanita, menyampaikan kesan dan pesannya secara bergantian.

Mulai dari masalah tempat tidur bertingkat di asrama yang terkadang menyusahkan bagi ibu-ibu, juga bagi bapak-bapak yang agak kegemukan, masalah menu makan setiap hari, masalah jadwal kegiatan yang padat hingga malam hari, sampai hal-hal yang lucu dan konyol di antara sesama peserta, senam pagi dengan gerakan-gerakan Tegar sebagai instruktur senam aerobik dadakan yang kadang menjadi lelucon, dan keramahtamahan para panitia dalam melayani peserta. Kesan yang terakhir ini terasa agak dibuat-buat untuk menyenangkan hati panitia.

Selesai bagian para peserta, dimintalah kesediaan salah seorang mewakili panitia untuk menceritakan kesan dan pesannya. Si pembawa acara memanggil Tegar untuk tampil mewakili panitia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun