Seorang teman bercerita kalau orang tuanya sekarang sudah berubah setelah dia menikah. Dia kebetulan masih tinggal bersama orang tuanya. Ya, lebih tepatnya dia dan istrinya tinggal di rumah orang tuanya. Setelah menikah, orang tuanya jadi sering marah di rumah. Istrinya pun tak jarang kena "amukan" kemarahan orang tuanya.
Teman tadi mengaku kalau orang tuanya sangat luar biasa baik sebelum mereka menikah dan berubah 180 derajat setelah menikah. Setelah bercerita panjang lebar, akhirnya beberapa teman yang lain mencoba menyampaikan pendapatnya, yang ternyata juga mengalami hal yang serupa meski tak persis sama. Orang tua mereka mendadak menjadi lebih sensitif dan seterusnya.
Hal yang kebalikan terjadi untuk mereka yang tinggal tidak dengan orang tuanya, apakah membeli rumah atau mengontrak rumah. Orang tua mereka justru semakin sayang dengan mereka dan tak jarang membawakan makanan dan sebagainya ketika berkunjung ke rumah mereka. Muncul pertanyaan, kira-kira apa yang terjadi hingga situasinya bisa berbeda seperti ini?
Setelah mendengar banyak wejangan dari beberapa teman yang lain, akhirnya teman tadi meminta sudut pandang saya yang beruntungnya mengalami situasi berbeda dengannya. Saya coba memberinya sudut pandang yang berbeda dari apa yang disampaikan kawan-kawan lain. Begini ulasannya.
1. Jatahmu Sebagai Anak Sudah Selesai
Ketika kau sudah menikah, maka jatahmu sebagai anak sudah otomatis "selesai". Statusmu berubah menjadi orang tua baru sekarang. Ketika kau masih menjadi "anak", maka wajar kalau orang tuamu baik dan memberikan segalanya kepadamu. Tetapi ketika kau sudah menikah, maka sudah saat nya kau menjadi orang tua dan wajar orang tua ingin mendidikmu dan memberikanmu "pelajaran" bagaimana rasanya menjadi orang tua.
Dia tidak marah karena tidak sayang padamu, tetapi dia "marah" agar membangunkan semangatmu dan tanggung jawabmu yang berubah dari anak menjadi kepala rumah tangga, itu lah alasan pertama orang tuamu, menurutmu berubah.
Teman saya yang mendengar pernyataan ini tak berkedip matanya. Dia mempelototi saya tajam. Saya mencoba  berhenti dan minum sejenak. Mungkin dia berpikir dia akan mendengar dukungan dari saya, ternyata dia salah besar, kawan ! Tak lama kemudian teman saya tadi mulai menganggukkan kepalanya, sepertinya dia setuju. Beberapa teman lain juga melakukan hal yang sama.
Itu adalah alasan pertama.
2. Jatahmu Tinggal di Rumah Orang Tua Sudah Habis
Ketika kau sudah menikah, maka jatahmu untuk tinggal di rumah itu sudah habis, kawan! secepatnya kau harus membangun singgasana kerajaanmu sendiri bersama istrimu. Wajar kalau orang tuamu marah, karena dia tidak ingin anaknya menjadi manja dan terus di bawah bayang-bayang orang tuanya.
Kemarahan itu seolah-olah mengatakan, Anakku, sudah saat nya kau berdiri di atas kakimu sendiri. Jangan lagi tinggal bersamaku. Aku ingin tenang bersama ibumu di masa tua kami. Seharusnsya itu tamparan untuk mu, teman ! bangkit lah. Pindah lah! dan bangun kerajaan kecilmu bersama istrimu tercinta.
Lebih baik makan singkong berdua bersama istrimu, daripada makan roti tetapi masih tinggal di rumah orang tuamu. Itu mungkin alasan orang tuamu sering marah sekarang.
Wajah teman saya tadi kembali memerah. Tapi dia sudah tahu dan mengenal saya lama. Saya tidak pernah memberikan pendapat apalagi saran kalau tidak diminta. Karena manusia sudah cukup banyak mendapatkan nasihat dan masukan, bahkan bumi ini sudah penuh dengan nasihat dan pendapat, sehingga saya tidak mau menambahnya lagi kepada orang lain, apalagi tidak diminta. Dan kalau sudah diminta, maka dia tentu sudah tahu konsekuensinya.
Beberapa teman kembali mengangguk sepertinya mereka setuju dengan pendapat saya.Â
Itu adalah 2 alasan minimal kenapa orang tua bisa berubah menjadi pemarah setelah kita menikah. Alasan turunan itu ada banyak dan silakan dikembangkan sendiri. Orang tua selalu baik dan akan begitu selamanya. tetapi cara dia mendidik anaknya tentu punya pendekatan yang berbeda. Lalu, apa gunanya jika kita tinggal puluhan tahun bersama orang tua dan masih belum juga mengenal mereka?
Dan pertanyaan selanjutnya tentu saja adalah, apa gunakan menikah, jika tidak ada yang berubah dalam kehidupan kita. Ingat, tidak benar kalau orang tua atau mertua merupakan salah satu penyebab terjadinya perceraian dalam rumah tangga. Ramai Kasus Perceraian belakangan ini juga tidak bisa dikaitkan dengan campur tangan orang ketiga dan sebagainya.
Pada akhirnya, yang menentukan keputusan berpisah adalah orang yang berumah tangga dan bukan orang lain termasuk orang tua. Jika mereka berubah dan menjadi tidak ramah, semata-mata karena minimal 2 hal di atas yang sudah kita ulas.
Penting untuk selalu kita ingat bahwa pada akhirnya rumah tangga kita adalah tanggung jawab kita dan selamanya akan seperti itu.
Semoga bermanfaat
Be The New You
TauRa
Rabbani Motivator dan Penulis Buku Motivasi "The New You"
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H