Mohon tunggu...
Tauhidin Ananda
Tauhidin Ananda Mohon Tunggu... Administrasi - Hari ini mimpi jadi kenyataan

pegiat sosial, hobi jalan-jalan kuliner dan nonton bola

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Beda Pilihan Politik dalam Pemilu? Hadapi dengan Santai

24 Januari 2019   16:26 Diperbarui: 24 Januari 2019   16:34 1352
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak lama lagi. Pemilihan Umum serentak tahun 2019 ini tinggal  tersisa sekitar 12 pekan saja. Tanggal 17 April 2019 nanti, para calon pemilih akan masuk ke dalam bilik suara dan menetapkan pilihannya. Harapannya, ya tentu saja tidak sampai terjadi gesekan di  akar rumput yang dapat mengakibatkan terjadinya perpecahaan.

Tapi apakah setiap kegiatan pemilihan umum, baik itu pemilihan legislatif, pemilihan presiden, atau pun pemilihan kepala daerah harus diiringi dengan rasa takut? Ketakutan dan kecemasan bahwa akan terjadi gesekan serta keributan? 

Bila iya, lalu sampai kapan masyarakat akan menjadi dewasa? Padahal, langkah paling mudah memaknainya  adalah bahwa semua ini merupakan bagian dari demokrasi. 

Memberikan ruang bagi perbedaan pendapat serta pilihan adalah makna dari demokrasi. Jadi, masyarakat harus serta merta menyikapinya dengan bijak. Hadapi dengan senyum dan santai saja!

Dasar untuk saling memahami

Sudah seharusnya jika tiap perbedaan yang ada justru menjadi titik temu dalam masyarakat untuk saling memahami antara satu dengan lainnya. Sikap saling menghormati dan bertenggang rasa ini penting untuk memperkokoh persaudaraan kita sesama anak bangsa.

Mari kita menghadapi perbedaan pilihan calon presiden atau partai politik, atau pun kepala daerah dengan cara saling menghargai. Sejatinya, perbedaan pilihan itu adalah suatu hal yang manusiawi. 

Berbeda pilihan itu sunnatullah, Iya, karena isi kepala dan hati tiap individu itu berbeda. Jangan karena berbeda pilihan, di antara kita jadi saling ribut dan bertengkar sesama teman, sahabat,keluarga, pindah kantor bahkan ada yang sampai memutuskan tali silaturahmi. 

Bila disikapi demikian, sesuatu hal yang tadinya lucu dan menyenangkan, akhirnya jadi sesuatu yang ingin dihindari. Masyarakat bisa menjadi apatis.

Bangsa ini dibangun dari keberagaman

Memang, untuk pertama kalinya pada 2019 ini, pemerintah menyelenggarakan Pemilu serentak yang menggabungkan Pileg dan Pilpres. Tapi sebenarnya pengalaman Indonesia dengan pesta demokrasi ini sudah berlangsung lama. Bangsa Indonesia sepanjang sejarahnya sudah pernah menyelenggarakan 11 kali pemilu legislatif. Yaitu tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, 2009, 2014. 

Setelah reformasi, Indonesia pun sudah 3 kali menyelenggarakan pemilihan presiden, yaitu tahun 2004, 2009, dan 2014. Jadi, pada tahun 2019 ini pengalaman bangsa dan negara sudah ke sekian kalinya menyelenggarakan Pemilu. Baik pemilu legislatif (pileg) maupun pemilu presiden (pilpres).

Kita harus mengingat sejarah, bahwa Indonesia terbentuk dari berbagai ragam suku bangsa. Jadi memang berbeda adalah hal wajar. Namun, para pendiri bangsa sudah berikrar setia untuk saling bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tapi satu.

Negara ini mampu kokoh berdiri hingga kini karena adanya sikap saling menghargai perbedaan, baik dalam hal suku, ras, maupun keyakinan beragama. Jangan sampai luntur karena perbedaan politik di antara kita.

Boleh berbeda, tapi jangan merendahkan dan menghina

Pemilu 2019 ini, memang berbeda. Selain dilakukan serentak memilih anggota legislatif dan presiden, kini masyarakat semakin terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan politik. Media sosial menjadi sarana utama untuk menyuarakan pendapat tersebut. Kemungkinan terjadinya gesekan pun tidak dapat dipungkiri.

Memang tidak ada salahnya masyarakat berani terbuka mengungkapkan perbedaan pilihan melalui media sosial. Hanya saja, butuh kedewasaan untuk menyikapi perbedaan tersebut. Harus disadari bahwa media sosial adalah ruang publik. Ruang dimana orang lain pun berhak menyuarakan opininya. 

Asalkan opini tersebut tidak disertai dengan menyebarkan ungkapan kebencian atau merendahkan, bahkan menyebarkan hoaks atau berita bohong yang memancing emosi. Masyarakat dituntut untuk semakin cerdas dalam berpolitik, agar tidak mudah termakan emosi akibat informasi hoaks.

Menang tunaikan janji, kalah jadi oposisi kritis

Beri kesempatan bagi pemenang Pemilu untuk bekerja dan menunaikan janjinya. 5 tahun adalah waktu untuk membuktikan janji-janji tersebut. 

Sedangkan bagi pihak yang kalah, menjadi oposisi yang cerdas dan kritis sejak hari pertama. Dengan demikian langkah pemenang akan dapat dikontrol dengan baik oleh oposisi. 

Bila ini terjadi, akhirnya masyarakat yang akan diuntungkan, siapa pun pemenangnya. Karena semuanya bekerja untuk kebaikan rakyat. Tidak perlu berselisih atau terjadi gesekan hanya karena berbeda pilihan politik. Betul?

Jadi, mari kita saling menghargai pilihan yang berbeda. Yuk kita sukseskan pemilu damai. Mari berpolitik dengan santun, mengungkapkan pendapat tanpa harus membenci siapa pun yang berbeda dengan kita. (#)

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun