Kalau kita berkunjung ke Naha, ibu kota Prefecture Okinawa ,salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan adalah Former Navy headquarter Bunker yang terletak di kawasan Tomigusuku di sebelah barat daya kota Naha.
Taksi berhenti di sebuah tugu yang bertuliskah huruf Kanji. Ini adalah Memorial Tower dimana kita bisa melihat pemandangan yang indah Laut Cina Timur, bagian selatan kota Naha dan juga sampai ke Shuri Castle di bagian timur.
Perjalanan dilanjutkan ke lantai 2 "Visitor Centre" dimana dipamerkan foto-foto mengenai "The Battle of Okinawa" yang berlangsung dari April sampai Juni 1945. Disini kita bisa melihat betapa dahsyat dan mengerikannya pertempuran ini.
Dalam pertempuran paling sengit selama Perang Dunia II di Okinawa itu, Â lebih dari 200 ribu orang menjadi korban pertempuran selama 83 hari ini. Korban tersebut terdiri dari sekitar 188 ribu orang Jepang dan 12 ribu tentara Amerika.
Saya kemudian turun ke lantai satu dan kemudian masuk ke museum. Disini dipamerkan benda-benda seperti dokumen, surat, seragam tentara, senjata, dan bahkan sebuah tombak yang dibuat tentara Jepang.
Sebuah surat dari Satoshi Ota, cucu Laksamana Muda Ota Minoru yang ada saat ini menjadi pimpinan angkatan laut Jepang yang bertugas di markas besar ini, Dalam surat yang ditulis pada 1977 itu, sang cucu menyatakan kekagumannya kepada rakyat Okinawa yang telah banyak berkorban selama perang dan menegaskan kembali realisasi sebuah telegram yang dikirim sang kakek kepada atasannya sebelum beliau melakukan bunuh diri .
Dalam telegram itu ada sebuah kalimat yang berbunyi "This is how the Okinawan people have fought the war", dan menceritakan saat-saat terakhir pertempuran maha dahsyat di Okinawa.
Kunjungan dilanjutkan menuju ke lorong-lorong di bawah tanah. Pada pintu masuk di dinding digantung seribu origami bangau kertas warna-warni yang dibuat untuk mengenang kesedihan dan juga doa untuk perdamaian dunia bagi orang-orang yang menjadi korban perang di Okinawa.Â
Perjalanan menuju ke bunker bawah tanah dimulai dengan menuruni anak tangga setinggi sekitar 20 meter. Menurut leaflet ada 105 anak tangga walau saya tidak sempat menghitungnya.
Sesampainya di bunker ada dua cabang jalan dan kita bisa menyusuri terowongan dan bunker yang dibangun pada tahun 1944 dengan menggunakan alat-alat sederhana secara manual .Di dalam lorong ini juga dipamerkan sebuah cangkul yang dulu dipakai untuk menggali terowongan. Dan kita juga bisa melihat beberapa ruangan misalnya saja ruangan komandan lengkap dengan meja dan kursi kayunya.
Berada di dalam bunker dengan terowongan dan lorong yang muram ini membuat jiwa dan hati terbawa kembali ke sekitar pertengahan 1945 ,ketika pertempuran sedang sengit-sengitnya antara tentara Amerika dan Jepang. Amerika yang ingin merebut Okinawa untuk digunakan sebagai pangkalan menyerbu pulau --pulau utara Jepang di sebelah utara dan juga tentara Jepang yang tidak kenal menyerah mempertahankan setiap jengkal tanah negeri ini.
Di salah satu dinding, masih terdapat sisa-sisa granat yang digunakan oleh tentara Jepang yang melakukan bunuh diri. Bagi mereka mati dan bunuh diri memang jauh lebih terhormat daripada ditawan oleh Amerika.
Namun ada juga kisah-kisah seram yang masih menjadi kontroversi akan pertempuran di Okinawa ini. Konon,hampir seperempat penduduk sipil di Okinawa tewas dalam pertempuran ini. Sebagian tewas dalam invasi dan sebagian besar lagi diperintahkan untuk bunuh diri oleh tentara Jepang.
Pertempuran Okinawa yang berakhir Juni 1945 ini juga merubah jalannya sejarah. Mengingat besarnya korban baik di pihak tentara Amerika dan Jepang serta penduduk sipil, akhirnya Amerika memutuskan untuk menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki untuk mengakhiri perang dunia kedua pada Agustus 1945.
Foto-foto: dokumentasi pribadi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H