Kota Metropolitan Tokyo, dulunya bernama Edo membentang luas lebih dari 2000 kilometer persegi dan secara administratif dibagi dalam berbagai tingkat pemerintahan. Salah satunya disebut ward dalam Bahasa Inggris atau ku dalam bahasa Jepang. Ada beberapa nama ku yang sudah akrab ditelinga, misalnya saja Shinjuku, Shibuya, ataupun Shinagawa dan Chuo.
img-5558-57aab3195797735c33a9c6de.png
Perjalanan hari ini menuju ke kawasan
Tsukiji Fish Market yang kebetulan terletak di
Chuo Ku. Dan tentu saja moda transportasi yang dipakai adalah kombinasi JR Yamanote Line dan metro. Dari stasiun
Tsukijishijo cukup berjalan kaki mengikuti peta yang untungnya terdapat di dekat pintu keluar.
img-5551-57aab3b5d17e61ea11a3658d.png
Jalan-jalan disini sangat mengasyikan. Kita dapat secara lebih dekat melihat kehidupan sehari-hari di pasar tradisional Jepang. Berbagai jenis dan ukuran ikan serta hewan laut tersedia disini. Baik yang mentah maupun yang siap santap. Kita bahkan bisa melihat penjualnya memasak sambill mencicipi sampel yang disediakan. Selain berbagai jenis ikan , cumi-cumi dan gurita menjadi kudapan favorit.
img-5552-57aab40a7297734710ede72d.png
Selain restoran shushi, ada gerai yang menjual berbagai jenis kerang dan dibandrol dengan harga 1000 Yen. Terlihat penjualnya sedang asyik beraksi di penggorengan yang khas. Di sebelahnya dipamerkan berbagai jenis kepiting dalam ukuran jumbo. Kepiting di Jepang memang terkenal dengan ukuran yang sangat besar.
img-5556-57aab4bbf19273de0d3dc754.png
Bukan cuma pasar ikan atau gerai seafood dan sushi, di Tsukiji juga terdapat beberapa kuil baik shinto maupun Buddha dalam berbagai bentuk arsitektur dan ukuran. Dari yang sepi sampai yang cukup ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Barangkali sejenis
wisata reliji dimana selain berwisata , mereka juga beribadah di kuil-kuil tersebut.
img-5527-57aab98f579773ff33a9c6e3.png
Pada sebuah persimpangan jalan, ada sebuah kuil yang terlihat cukup ramai, pintu gerbangnya khas berbentuk “Tori” diapit dengan sepasang rak yang berisi lampion berbentuk bejana berwarna putih dengan tulisan kanji berwarna hitam. Di setiap sisi ada dua bariis lampion yang terbagi tiga kolom dan masing-masing berisi tiga lampion. Total ada 18 lampion di setiap sisi.
Di dalam pekarangan, cukup ramai suasana pengunjung siang itu. Ada yang bewisata sambil berfoto, ada juga yang khusuk berdoa dengan memasang dupa di depan altar kuil. Bangunan utama kuil dengan dinding dan atap sebagian besar terbuat dari kayu berwarna hitam kecoklatan memberikan suasana yang cukup hening sekalipun dalam keramaian.
img-5529-57aae807f87a61d53a7f3fc4.png
Perhatian saya kemudian tertuju pada pagar pekarangan kuil yang terbuat dari tembok. Ada sebuah prasasti batu yang bertuliskan campuran huruf “Hiragana dan Kanji”. Saya hanya bisa membaca huruf “no” seperti yang terdapat di ajinomoto. Dan dua huruf kanji “daimaru” yang artinya lingkaran besar. Ada dua lagi huruf kanji yang tidak bisa saya baca.
Sebuah altar terbuat dari marmer hitam dengan dua huruf kanji juga ada di dekat prasasti tadi. Di depannya berderet gelas-gelas dari porselin dengan warna putih, biru dan hitam . Dihiasi dengan kaligrafi dan tulisan kanji. Di depannya lagi ada sebuah guci kecil berwarna kombinasi hitam merah, sebuah mangkuk besar warna biru putih dan guci berbentuk sepatu but berwarna merah krem.
img-5531-57aae86d52977331157162e5.png
Namun yang paling unik adalah sebuah altar berbentuk rumah kecil yang disekitarnya berserakan patung-patung tikus dalam berbagai ukuran. Satu , dua, tiga,...... sepuluh patung tikus yang semuanya diselimuti celemek kain warna merah ada di altar ini. Beberapa mangkuk , guci, dan teko yang semuanya terbuat dari porselin juga menggenapi altar yang misterius ini. Tidak ada tulisan ataupun keterangan yang menjelaskan tujan dan latar belakang mengenai tikus-tikus berpakaian merah yang ada di kuil ini.
img-5534-57aaba21b17e61fc0d2fecd7.png
Sejenak menikmati suasana kuil yang cukup ramai, saya kembali ke halaman. Di kelilingi orang-orang yang khususk berdoa, ada sebuah petunjuk cara beribadah . “How to worship” demikian judulnya dalam bahasa Inggris sementara di atasnya tertulis dalam aksara Hiragana dan Kanji . Singkatnya cara besembahyang diterangkan dalam tiga langkah, yaitu membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali dan berdoa , lalu diakhiri dengan membungkuk sekali saja.
Perjalanan di Tsukiji Fish Market terus bergulir sambil menikmati suasana siang di bagian Kota Metropolitan Tokyo yang bernama Chuo Ku ini. Setidaknya dalam perjalanan ini, jiwa dan hati telah menjadi sedikit lebih lengkap dengan belajar cara bersembahyang ala Jepang.
Tokyo, Juli 2016
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H
Lihat Travel Story Selengkapnya