Mohon tunggu...
Taufik Uieks
Taufik Uieks Mohon Tunggu... Dosen - Dosen , penulis buku travelling dan suka jalan-jalan kemana saja,

Hidup adalah sebuah perjalanan..Nikmati saja..

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Ziarah ke Makam Pendiri Pulau Pinang di Jalan Orang Kaya

4 Maret 2016   07:53 Diperbarui: 4 Maret 2016   17:43 547
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="dokpri"][/caption]

George Town, merupakan kota tua yang termasuk dalam Tapak Warisan Dunia atau World Heritage City di dalam daftar UNESCO. Tentunya karena di kota ini banyak sekali bangunan peninggalan jaman lampau yang harus dijaga kelestariannya. Dan ternyata yang saya jumpai di George Town, bukan hanya bangunan untuk orang hidup, melainkan juga bangunan untuk orang mati alias pemakaman yang juga harus dijaga kelestariannya.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Perjalanan dimulai dengan bus Rapid Penang gratisan atau Bas Percuma CAT alias Central Area Transit yang mengitari tempat-tempat menarik di kota ini. Dari Jetti atau pelabuhan Ferry yang membawa saya dari Butterworth saya naik bus yang menuju ke pusat kota Penang. Menurut informasi saya seharusnya turun di Halte no 7 Lebuh Muntri yang ada di Penang Road untuk menuju ke Old Protestant Cemetery, yang merupakan salah satu kompleks pemakaman tua di George Town.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Namun saya terlewat satu halte dan baru turun di halte no 8 Lebuh Campbell yang letaknya kira-kira beberapa ratus meter dari halte no 7. Untungnya keduanya masih di Penang Road juga. Turun dari bus saya berjalan perlahan sambil menikmati suasana santai di kota tua George Town dengan bangunan tua dan kehidupan jalanannya yang khas.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]

Salah satu gedung yang cukup menarik adalah bangunan tua bercat putih dengan sentuhan warna biru muda yang cerah. Gedung berlantai dua ini memiliki nama IPK Pulau Pinang dengan penjelasan Estb, 25 March 1907 dibawahnya. Wah gedung ini ternyata sudah berusia lebih dari 100 tahun dan sekarang berfungsi sebagai Ibu Pejabat Polis Kontinjen Pulau Pinang. Kalau di Indonesia mungkin sebagai Polres atau Polda .

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Berjalan di kaki lima yang nyaman menuju kearah timur di kota tua George Town memang mengasyikan. Selain bangunan tua, pedagang kaki lima, pasar dan toko-toko, ada juga kendaraan roda tiga alias becak dengan bentuknya yang khas. Yaitu memiliki tempat letak kaki yang menjorok kedepan. Pastinya penumpang akan lebih nyaman naik becak seperti ini dibandingkan dengan becak di Jakarta (kalau masih ada) .

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Tidak berapa lama kemudian, ada sebuah lapangan kecil dimana banyak sekali burung dara berterbangan. Suasananya mirip dengan kota-kota di Eropah, dan di kejauhan terlihat masjid Bengali dengan menaranya yang berlantai tiga dan sangat manis dengan kombinasi warna hijau dan kuning yang cerah.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Saya terus berjalan ke arah timur dan akhirnya sampai ke persimpangan Penang Road dan Jalan Sultan Ahmad Shah dimana ada stasiun pompa bensin Shell. Di sini ada sebuah plakat berwarna biru dengan tulisan warna putih yang menjelaskan sejarah Jalan Sultan Ahmad Shah ini. Dulunya jalan ini bernama Northam Road yang diambil dari nama sebuah kota di Devonshire, Inggris. Asyiknya jalan ini juga pernah dijuluki sebagai Jalan Jutawan karena di jalan ini banyak terdapat rumah besar dan mewah milik para orang kaya di George Town. Orang non eropah pertama yang tinggal di jalan ini adalah keluarga Khaw , keturunan Cina yang berasal dari Thailand selatan dan juga kerabat kerajaan dari kesultanan Kedah.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Tidak jauh dari perapatan jalan inilah terdapat sebuah kompleks pemakaman yang disebut “Old Protestand Cemetery”, sebuah tempat dimana Gubernur pertama Pulau Pinang beserta para ambtennarnya dimakamkan.Berjalan menyusuri Jalan Jutawan ini dengan pagar kuburan ada di sebelah kiri, Saya mencari pintu masuknya yang letaknya lumayan jauh. Dan akhirnya , hampir di pojok kompleks pemakaman, terdapat pintu gerbang ke kuburan yang terbuka dengan lebar. Hanya ada sebuah plakat kecil bertuliskan “Protestant Cemetery, 1789-1892”.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Saya masuk beberapa langkha ke dalam dan menemukan sebuah prasasti berjudul”Nordham Road Protestant Cemetery”. Prasasti ini bercerita secara singkat mengenai pemakaman yang pertama kali digunakan pada 1789 dan kemudian ditutup untuk pemakaman pada 1892 ini. Selain itu ada juga daftar nama-nama orang terkenal yang dimakamkan disini.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Saya kemudian berjalan di lorong utama pekuburan yang dikedua sisinya dinaungi pohon-pohon kamboja yang cukup rindang. Sementara ratusan makam tua dalam berbagai bentuk tersebar secara acak di kompleks pemakaman ini. Sebagian besar nisan terbuat dari batu pasir, marmer, maupun granit. Bentuk nisan juga bermacam-macam, ada yang sederhana dengan bentuk segi empat , ada juga yang berbentu tugu,, dan bahkan berbentuk rumah-rumahan .

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Disini, juga dimakamkan Captain Sir Francis Light, yang merupakan pendiri Pulau Pinang atau juga kota George Town, beserta beberapa orang gubernur seperti Philip Dundas, Sir William Petrie dan Kolonel John Alexander Bannerman. Selain itu ada juga makam James Richardson Logan, yang konon mempopulerkan nama Indonesia pada masa kolonial dahulu. “Beneath this stone lie the remains of Francis Light Esq who first estabilhed this island as a British settkement Died 21st October 1794”, demikian tertera pada nisan yang sederhana berbentuk empat persegi panjang. Di atas pusara ini, terlihat bertebaran dedaunan yang sudah menguning. 

[caption caption="dokpri"]

[/caption]

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Saya terus berjalan, melihat-lihat berbagai makam . Kalau diperhatikan usia mereka yang meninggal, cukup banyak yang meninggal di usia muda bahkan masih dibawah 30 tahun saja. Salah satunya adalah batu nisan dengan nama Edmund Gerald Colclough Lowder, yang meninggal pada usia 23 tahun pada 12 Februari 1830. “Absent from the body, present with the Lord”, demikian kata mutiara yang tertukir pada nisan yang sederhana ini. Konon, hal ini karena dimasa itu banyak sekali penyakit tropis yang cukup mematikan buat pendatang dari Eropa.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Sementara itu, salah seorang gubernur Penang, yaitu William Petrie, beruntung memiliki nisan yang cukup megah dan besar lengkap dengan plakat yang menceritakan kilasan riwayat hidupnya . Diceritakan bahwa sang gubernur telah bertugas lebih dari 51 tahun di East India Company dan meninggal pada 27 Oktober 1816 sebagai gubernur Prince of Wales Island. Demikianlah nama Pulau Pinang pada saat itu.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Yang menarik lagi saya juga menemukan beberapa makam dengan aksara cina yang menurut parasasti merupakan beberapa dari Etnis Hakka yang beragama kristen dan juga kebetulan pengungsi dari daratan Cina ketika terjadi pergolakan pemberontakan Taiping pada tahun 1850-1864.

[caption caption="dokpri"]

[/caption]
Selama perjalanan ini hampir tidak ada pengunjung lain yang ditemukan kecuali seorang tunawisma yang kemungkinan besar memang tinggal di salah satu nisan tua di pemakaman ini. Sampai di ujung saya tiba di tembok yang memisahkan kuburan ini dengan kuburan Katolik yang ada di sebelahnya.

Setelah hampir satu jam berkelana di dunia orang mati di pemakamam tua di George Town yang terletak di Jalan Jutawan ini, saya pun meninggalkan tempat ini untuk kembali ke dunia nyata. Dunia orang hidup yang penuh dengan suka cita di kota warisan dunia George Town.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun