Mbah Hadi Wijaya, salah seorang pelukis yang sempat juga bersinggungan dengan Mbah Nun, yang juga hadir pada malam hari itu menambahkan sedikit informasi selama 11 tahun di Jogja kisaran tahun 70'-'81 menjadi bagian dari Universita Jalanan para seniman di Malioboro. Menurut beliau, Mbah Nun dulu dikenal sebagai seorang yang nyentrik, tidak suka berbasa-basi, serta rasa setia kawannya yang luar biasa.
Puisi-puisi Mbah Nun pada waktu itu menurut Mbah Hadi memiliki karakertnya sendiri, yaitu tidak mengutamakan kalimat, tapi menggerakkan garis dan makna.Â
Mbah Nun merupakan seorang yang berpuasa terhadap hidupnya. Puasa dalam pengertian pengendalian diri yang sangat terjaga atas konsistensi serta kesadaran akan nilai-nilai kebenaran. Karena menurut Mbah Hadi sendiri, di dunia seniman banyak orang besar, namun hanya berfikir besar. Padahal, selain berfikir besar tentu mesti diimbangi dengan jiwa yang besar.
Mengapa hal tersebut penting? Karena banyak yang terjebak pada akhirnya kepada kemuliaannya dan 'lupa' terhadap dirinya sendiri. Mbah Hadi juga mengatakan, "sebaik orang adalah di dalam kemuliaan ia sadar, bahwa ia sedang mengemban tugas dari Sang Maha Hidup."
"Kita mewarisi DNA yang luar biasa, DNA apa itu? Maiyah!" pungkas Mbah Hadi.
Kali ini giliran Mas Agus dipersilahkan untuk memberikan ilmunya. Beliau langsung mengudar tentang kata werruh yang dalam bahasa Indonesia berarti melihat. Mas Agus mengisyaratkan bahwa itu didapat dari kata war-ruh, yang berarti cara pandang sampai menembus batas ruh/esensi. Hal ini menurut Mas Agus membuktikan bahwa orang Jawa telah dilatih untuk melihat sesuatu menembus tembok-tembok yang menghijabi pandangan terhadap kesejatian.
Setiap manusia mempunyai potensi leluhur, maka ada yang disebut trah. "Bagaimana kita bisa mengaktivasi potensi trah?" Mas Agus mengajak jamaah untuk masuk ke dalam lajur pemikirannya. Pertama, carilah informasi tentang leluhur kita, untuk bisa jadi petunjuk untuk mengenali diri kita. Suasana sufistik semakin malam semakin kental dengan pemaparan-pemaparan ilmu yang disampaikan oleh Mas Agus.
Disambung oleh Mas Fikri yang sedikit menyampaikan pendapatnya, terutama hal ini sangat erat berkaitan dengan pernyataan maiyah yang seperti ini-ini saja. Mas Fikri mengibaratkan perusahaan Sony yang telah menyiapkan roadmap Playstation 10 yang akan diluncurkan baru pada tahun 2050, mengapa tidak sekarang? Tentu karena ekosistem atau zaman pada saat ini belum kompatibel.
Lantas apa yang bisa kita lakukan sekarang sebagai organisme maiyah? Menuru Mas Fikri, "yang harus kita lakukan sekarang adalah membangun ekosistem dan setia beristiqomah dalam lingkaran Maiyah." Sebagai organisme maiyah seharusnya kita dapat werruh dan sadar terhadap perubahan zaman.Â
Saat ini kita sedang menerima warisan DNA dari peradaban baru, sekaligus kita sedang mewarikan DNA baru tersebut kepada orang lain. Dan tak terasa malam sudah menapaki arah langkah pukul 02.00. Acara pun dipungkasi dengan menlantunkan Hasbunallah sambil saling bersalaman. Sampai jumpa lagi tahun depan!