Mohon tunggu...
Almira Tatyana
Almira Tatyana Mohon Tunggu... Freelancer - Hanya Mahasiswa

Seorang terpelajar harus sudah adil sejak dalam pikiran maupun tindakan

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Pulau Buru, Orde Baru, dan Romansa Picisan Film "Bumi Manusia"

20 Agustus 2019   11:47 Diperbarui: 21 Agustus 2019   19:58 231
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Pertama kali saya mendengar nama Pramoedya Ananta Toer dari sebuah judul berita yang mengatakan bahwa pernah ada salah satu pengarang asal Indonesia yang masuk sebagai kandidat peraih nobel sastra, entah bagaimana kebenarannya namun tajuk itu cukup membuat saya penasaran untuk membaca karyanya. Karena saya cukup sulit untuk menemukan buku karya Pram di daerah saya akhirnya baru beberapa tahun kemudian, saya berkesempatan untuk membaca karyanya dan saya tidak akan pernah lupa "aftertaste" setelah saya membaca buku pertama dari tetralogi pulau buru, kisah yang baru saja diangkat menjadi film dan  sedang booming boomingnya saat ini, Bumi Manusia.

Banyak alasan mengapa Bumi Manusia dan Pramoedya menjadi perhatian jagat lini masa saat ini. Ada romantisme masa lalu yang sebenernya tidak romantis sama sekali dalam angkatan orangtua saya sekitar tahun 80an atau  masa dimana rezim paling otoriter yang pernah menguasai negeri ini, Orde Baru sedang jaya jayanya. Saat itu segala sesuatu tentang Komunisme diberangus habis.  Pada masa itu membaca Tetralogi Buru  adalah sesuatu yang dilarang dan harus nekat nekatan, diam diam lewat pintu belakang, dari mulut ke mulut, hanya untuk menikmati karya fenomenal dari Pram. 

Bagaimana tidak, sang pengarang yang melahirkan karyanya yang fenomenal ketika dalam masa pembuangan, adalah salah satu tahanan politik yang disingkirkan ke salah satu pulau terbesar di kepulauan Maluku, Pulau Buru. Bukan hanya Pram, ada sekitar 12000 orang yang dianggap sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI), partai paling terlarang dalam masa orde baru. Mereka diharuskan bertahan hidup melawan ganasnya alam kepulauan Maluku yang gersang yang hanya dibekali peralatan seadanya dan tidak dipungkiri diikuti dengan berbagai siksaan yang didera. 

Pembuangan ini dilakukan secara bertahap dari tahun 1969 sampai 1976 oleh Orde Baru, diasingkan dari keluarga dan kerabat bahkan tanpa pengadilan sama sekali. Sebuah ketakutan buta dari orde baru yang belakangan ini digaungkan kembali ketika masa pemilihan pemimpin negeri ini. 

Pram dibuang ke Pulau Buru karena tergabung dalam Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat yang merupakan salah satu afiliasi PKI dalam bidang seni.  

Lekra memang sempat lekat dengan PKI, namun lembaga yang menaungi kaum sastrawan dan seniman revolusioner ini tidak pernah menjadi bagian resmi dari partai politik berhaluan kiri tersebut. 

Awal mula pram bergabung dengan lembaga seni ini adalah ketika ia ditawari untuk menerjamahkan salah satu karya Marxim Gorky salah satu sastrawan rusia dengan aliran sosialisme realis. Karya Pram selanjutnya diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan, penerbitan yang dimiliki oleh PKI yang membuat pram diundang ke RRC. 

Setelah bergabung ke Lekra, banyak orang yang menganggap Pram sebagai orang kiri, meskipun terdapat perdebatan apakah Pram hanya diperalat sebagai "anak yang di emaskan", vokal terdepan PKI dalam menghadapi lawan lawannya  dalam bidang keusustaraan. 

Setelah peristiwa G30SPKI (meskipun sekali lagi masih disangsikan siapa dalang dibalik peristiwa ini) Pram yang sudah dikenal sebagai orang kiri, tanpa diadili, dibuang dan disiksa di Pulau Buru. Selama di Pulau Buru, Pram masih aktif menulis meskipun dengan peralatan seadanya. Tetralogi Pulau Buru dianggap sebagai refleksi dan pandangan dirinya terhadap bangsa Indonesia. 

Meskipun beberapa kali lembar lembar tulisannya dirampas namun berhasil bertahan salah satunya dengan cara penuturan langsung kisah dalam Tetralogi Buru dari mulut ke mulut sesama tahanan politik. (teguh, 2018) Meskipun demikian penghargaan ini mengalami penolakan dari berbagai sastrawan karena menganggap masa lalu Pram "Tidak Bersih". 

Meskipun begitu Pram masih menelurkan sejumlah karyanya lewat Hata Mirta, penerbit yang dia dirikan sendri, ditengah berbagai perseteruan tentang masa lalunya.

Saya pernah mengunjungi pameran yang didekasikan untuk Pram pada tahun 2018. Dalam  pameran itu diperlihatkan kronologi waktu karya karya Pram dan  berbagai cerita yang mengikuti dibaliknya.  Beberapa surat menyurat Pram dengan keluarganya terutama anak anaknya membuat hati saya tersentuh, diluar sikap politiknya dan perdebatannya. 

Dengan sepak terjang dan kisah dibalik pembuatan Tetralogi Bumi Manusia ini membuat saya sangat menghargai dan menempatkan Tetralogi Bumi Manusia sebagai salah satu karya yang saya apresiasi tinggi. Terdapat kesubjektifan memang, namun dalam kalangan sastraawan pun karya ini dianggap sebagai masterpiece dan telah diterjemahkan dalam 33 bahasa. 

Ketika saya mendengar bahwa Bumi Manusia akan diangkat ke layar lebar ada perasaan campur aduk didiri saya, antara senang karena imajinasi yang bersumber dari katakata akan divisualisasikan menjadi film layar lebar dengan sutradara yang tidak main main namanya, Mas Hanung Bramantyo. Namun ketika cast yang memerankan tokoh dalam film ini diumumkan, rasa khawatir saya membuncah.  Tanpa mengurangi sedikitpun hormat kepada Iqbaal Ramadhan yang merupakan salah satu aktor muda berbakat dan telah berhasil memvisualisasikan tokoh Dilan dengan sebegitu "badass" nya. Salah satu yang saya pikirkan dengan pemilihan Iqbaal sebagai minke adalah Mas Hanung ingin menyasar anak muda yang sudah terkena bius oleh pesona Dilan yang berhasil diperankan oleh Iqbaal. Namun satu hal yang saya prediksi adalah arah tema yang akan menjadi garis besar dalam film ini.

Dan kekhawatiran saya terbukti, sepanjang saya menonton Bumi Manusia, saya terus menerus menggerutu dalam hati, bukan ini yang saya harapkan, bukan ini  yang saya bayangkan. 

Meskipun memang ada kisah cinta antara Minke dan Annelis dalam buku Bumi Manusia, namun pemahaman saya pribadi bukanlah romansa itu yang ditonjolkan. Romansa antara Minke dan Annelis hanyalah sebagai bumbu dan analogi penggambaran dari ketidakmerdekaannya bangsa ini ketika dibawah cengkraman penjajahan dulu. Namun film yang saya tonton adalah sebuah persepeltif yang berbeda. Saya berusaha menempatkan diri seobjektif mungkin seolah olah sebagai seorang yang belum pernah membaca bukunya dan diri saya hanya  mendapatkan romansa yang terkesan picisan dengan setting kolonial. 

Hanya beberapa bagian terakhir yang menunjukkan "Bumi Manusianya". Sangat disayangkan dengan promosi yang gencar dan opening yang sakral diawali dengan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan lagu Ibu Pertiwi dan dibawakan oleh Once Mekel, Iwan Fals dan Fiersa Besari, penyanyi yang tidak main main pamornya.  

Saya sangat menyanyangkan perspektif yang dibawakan oleh film ini. Ada rasa kekhawatirkan misinterpretasi dari kalangan anak milenial yang memang menjadi sasaran dari film ini dalam memandang Bumi Manusia. 

Padahal Bumi Manusia bukanlah sekadar romansa antar anak muda yang masih setara SMA dan gadis cantik keturunan belanda saja. Ada perjuangan pantang tunduk pada penjajahan dan supremasi kulit putih.  Ada gerakan feminism yang kuat tergambar dari sosok Nyai Ontosoroh yang melampaui perempuan pada zamannya. Bahkan dalam hal pribadi seperti urusan percintaan yang seharusnya menjadi hak pribadi diri manusia, bukanlah milik diri sendiri karena memang belum merdeka.

Sekali lagi ini adalah preferensi yang dikembalikan ke diri masing masing. Memang agak tidak adil membandingkan buku yang setebal 500an halaman dan dikerjakan bertahun tahun dengan adaptasi film yang terbatas oleh waktu. Saya mengapresiasi keberanian dan keseriusan Mas Hanung Bramantyo untuk mengadaptasi film ini . 

Saya bukan mahaasiswa jurusan perfilman dan sangat awam dengan berbagai hal tentang sinematografi, namun pengambilan gambar yang memanjakan mata dan kalo temen saya bilang "tone warna estetik" yang menjadi salah satu keistimewaan film ini.  Ohya tidak lupa berkat film ini kita bisa mengenal dan menikmati masterpiece dari seorang penulis kebanggan Indonesia, yang hidupnya dihabiskan dalam pembuangan dan ketidakadilan,  sebuah keistimewaan yang tidak didapat oleh generasi orangtua kita dahulu. Saya berharap jika Hanung bersedia menggrarap seri selanjutnya dengan lebih menonjolkan sisi "Bumi Manusia" yang dimaksudkan Pram dalam karyanya.

Izinkan saya menulis sepotong kutipan favorit saya dari buku Bumi Manusia 

"Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan"

Baca selengkapnya di artikel "Bumi Manusia, Novel Sejarah Karya Pramoedya yang Dilarang Orde Baru", https://tirto.id/egkS

Bibliography

teguh, i. (2018, April 30). Humaniora. Retrieved from https://tirto.id/pramoedya-ananta-toer-di-antara-sastra-dan-politik-cJfQ.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun