Seorang pedagang tua diam terpaku
Menatap selembar merah uang palsu
Baru didapatnya dari seorang pembeli
Perempuan muda yang tak punya hati
Orang di sekitar merasa iba
Mereka mengutuk perbuatan si penipu
Begitu tega melakukan pada orang tua
Dagangannya pun sedikit dan belum laku
Jangankan keuntungan yang diraih
Uang modal pun tak bisa kembali
Mau makan apa istri dan anakku hari ini
Batin sang kakek dengan hati gundah
Hari beranjak semakin siang
Tak ada pembeli lagi datang
Hatinya bingung bukan kepalang
Tiada ongkos untuk nanti pulang
Saat berkemas hatinya berdoa
Pasrah pada takdir yang menimpa diri
Hatinya ikhlas dengan apa yang terjadi
Semoga akan jadi pelebur dosa
Yuk kek saya antar sekarang
Seorang yang baik hati mengajaknya pulang
Diboncenglah kakek dengan sepeda motornya
Diantar kembali untuk berkumpul dengan keluarga
#Puisi solo ke-24
Cibadak, 30 Agustus 2022
Tati Ajeng Saidah untuk Kompasiana
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H