Bimbingan dan konseling memiliki dua kata makna yang berbeda. Bimbingan berarti pencegahan masalah dan pengembangan pendidikan secara umum. Contohnya seperti guru BK yang memberikan pembelajaran kepada seluruh siswa di sekolah. Konseling memiliki makna penanganan atau proses penyelesaian terhadap konseli yang bermasalah, seperti menangani anak atau peserta didik yang mengalami masalah.
Sebagai mahasiswa program studi bimbingan dan konseling, mengapa kita harus mempelajari bimbingan dan konseling? Karena kita memiliki rasa peduli terhadap anak-anak dan remaja. Kita ingin membantu peserta didik/konseli untuk mencapai kedewasaan dan kemandirian dalam kehidupan mereka serta menyelesaikan tanggung jawab mereka. Oleh karena itu, diperlukan peran bimbingan dan konseling yang berkarakter dan profesional.
Saat ini, kita bisa melihat banyak kasus kenakalan remaja. Dilansir dari Citra Ranah Medika, kasus kenakalan remaja pada 2020 mencapai 12.944 kasus. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dari 233 juta penduduk Indonesia, 28,6% adalah remaja berusia 10-24 tahun. Melihat masalah tersebut, jelas dibutuhkan peran profesi bimbingan dan konseling.
Tantangan masa depan peserta didik/konseli yang perlu kita ketahui dibagi menjadi empat:
- Volatility: Perubahan yang sangat cepat dan tidak terduga yang mempengaruhi pengalaman kehidupan sebelumnya. Contoh: perubahan teknologi, krisis sosial dan lingkungan, perubahan dalam pola pikir, dan lain-lain.
- Uncertainty: Ketidakpastian akan masa depan. Banyak faktor yang berperan sehingga tidak dapat diprediksi. Ketidakpastian ini mempengaruhi bagaimana peserta didik merencanakan masa depan mereka dan membuat keputusan penting. Misalnya, banyaknya pekerjaan baru karena perubahan teknologi.
- Complexity:Â Situasi di mana banyak faktor saling berkaitan mempengaruhi pengambilan keputusan dan tindakan. Misalnya, perubahan dalam area kehidupan seseorang (seperti perubahan karir) mungkin mempengaruhi banyak aspek lain (seperti kesehatan mental, hubungan pribadi, keuangan, dll). Ketika kompleksitas meningkat, metode yang digunakan sebelumnya mungkin tidak lagi efektif. Misalnya, strategi konseling yang dulunya berhasil mungkin tidak memadai dalam menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks.
- Ambiguity:Â Ketidakpastian menyebabkan kebingungan dalam mengidentifikasi masalah yang dialami, ditambah berbagai perspektif peserta didik dalam proses pengambilan keputusan.
Di balik terjadinya banyak perubahan dalam kehidupan manusia, kehidupan tersebut sudah berubah, sedang berubah, dan akan selalu berubah menuju kehidupan yang lebih baik. Bimbingan dan konseling berperan sebagai langkah strategis.
Strategi layanan dasar bimbingan dan konseling mencakup memaksimalkan layanan bimbingan dan konseling pribadi, sosial, belajar, dan karir untuk mengedukasi peserta didik dengan tema yang menarik dan sesuai dengan kondisi saat ini. Beberapa layanan tersebut adalah:
- Layanan Klasikal:Â Layanan individual/personal yang diberikan satu-satu kepada setiap peserta didik untuk menangani masalah khusus yang dihadapi peserta didik.
- Layanan Kelompok:Â Layanan yang diberikan secara berkelompok, seperti kepada beberapa peserta didik yang memiliki kebutuhan sama.
- Layanan Orientasi: Layanan pemberian materi atau penjelasan yang bertujuan memperkenalkan siswa pada informasi penting, lingkungan baru, dan keterampilan untuk beradaptasi dengan situasi terbaru.
- Layanan Informal: Layanan non-formal dan tidak terstruktur, seperti interaksi spontan, percakapan sehari-hari, dan lebih santai.
Tambahan layanan yang bisa dilakukan sebagai profesi bimbingan dan konseling meliputi:
- Layanan Responsif:Â Layanan yang menanggapi kebutuhan dan masalah yang dihadapi siswa secara langsung.
- Layanan Perencanaan Individual:Â Membantu peserta didik dalam merencanakan masa depan, seperti memilih pekerjaan yang cocok atau mencari sekolah lanjutan.
- Layanan Dukungan: Layanan tambahan yang diberikan oleh pihak lain untuk berkolaborasi.
Dari pemaparan layanan di atas, diperlukan konselor yang berkarakter dan bermanfaat. Apa saja yang perlu ada dalam jiwa konselor?
- Berpikir dengan Cinta:Â Konselor mampu mengidentifikasi, menyesuaikan diri, toleran, serta jeli dalam melihat situasi dan kondisi.
- Merasakan dengan Cinta:Â Memahami konseli dari perspektif orang tersebut, peduli terhadap kehidupan konseli, berbagi rasa, menolak bertindak di luar batasan, serta bersedia memperhatikan perasaan.
- Bertindak dengan Cinta: Rendah hati, berperilaku jujur, mampu memahami diri sendiri, serta memiliki keterbukaan dan integritas pribadi dan profesional.
- Berkehendak dengan Cinta:Â Memiliki kemauan untuk berkomunikasi dan mendengarkan orang lain, serta mengenali diri dan orang lain dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
- Merefleksi Diri dengan Cinta: Kemampuan memahami konseli dari segi sikap, perilaku, mental, emosi, dan segala aspek konseli.
Berbicara mengenai profesi guru, Indonesia mengalami kekurangan 1,3 juta guru pada 2024, dengan guru BK/konselor menduduki peringkat pertama, diikuti oleh guru SD, guru luar biasa, dan guru pendidikan jasmani.
Dalam proses konseling, profesi BK memerlukan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah interaksi yang digunakan sebagai pendekatan untuk membantu klien mengatasi masalah emosional, pribadi, atau sosial yang dihadapi konseli.
Berikut tujuan dari komunikasi terapeutik:
- Pengembangan Pribadi dan Penerimaan Diri: Proses mencapai potensi penuh dan mengembangkan diri secara optimal, atau disebut self-actualization.
- Kemampuan Membina Hubungan: Membangun saling membutuhkan dan mencintai.
- Meningkatkan Keterampilan dan Kemampuan Konseli: Membantu konseli memenuhi kebutuhan pribadi dan mencapai tujuan yang realistis.