Mohon tunggu...
Tansah Ati
Tansah Ati Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Empat Ulama Keren yang Berjasa bagi Bangsa

28 Agustus 2018   15:23 Diperbarui: 28 Agustus 2018   15:45 444
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
kredit: blog mengenal Islam

Orang mungkin memicingkan mata ketika Presiden Jokowi memutuskan untuk menggandeng KH. Ma'ruf Amin sebagai Wakil Presiden pada Pemilu Presiden 2019 mendatang. Sinisme dan kekecewaan, sekaligus pandangan sebelah mata, memang tidak bisa dihindari ketika Jokowi memutuskan menggandeng KH. Ma'ruf Amin, ulama keren yang pengetahuan agamanya tidak diragukan lagi.

Beberapa orang yang kecewa tadinya berharap Jokowi memilih Mahfud MD, meski akhirnya bukan itu yang terjadi. Sementara itu ada juga suara yang tidak meragukan kapasitas KH. Ma'ruf Amin sebagai seorang ulama, namun di sisi lain keraguan muncul ketika pembahasan beralih ke usia dan kapabilitas Ma'ruf Amin dalam tata kelola pemerintahan.

Meski ada banyak suara kecewa yang senada, namun Indonesia sebetulnya sudah akrab dengan sepak terjang ulama, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Peran ulama tidak bisa ditepikan begitu saja dalam sejarah Indonesia, dan Ma'ruf Amin bukan orang pertama yang mengemban tugas besar menjaga tata kelola pemerintahan.

Nah, siapa saja sih ulama Indonesia yang pernah berjasa besar dalam sejarah Indonesia? Setidaknya ada empat ulama keren yang berperan besar dalam sejarah bangsa Indonesia, tentu dengan porsinya masing-masing. Tiga dari mereka tercatat tidak pernah terlibat dalam tata kelola pemerintahan, namun jasa-jasanya untuk Indonesia tidak diragukan lagi.

1.    KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

kredit : newspkbjombang
kredit : newspkbjombang
Gus Dur, lahir pada 7 September 1940,  naik sebagai Presiden Indonesia ketiga, persis ketika negara ini berada dalam masa transisi dari era Orde Baru ke Reformasi. Di tengah pekerjaan rumah yang menumpuk, Gus Dur meninggalkan jejak perjuangan untuk Indonesia. 

Satu yang paling terkenal adalah perhatiannya kepada kaum minoritas Indonesia. Pernah suatu kali Gus Dur menetapkan hari libur di Tahun Baru Imlek, dan juga menetapkan Kong Hu Cu sebagai salah satu agama yang diakui negara. Keduanya adalah bentuk kebijakan Gus Dur yang berjasa menghapus diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.

Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009.

2. KH. Hasyim Asy'ari

kredit: NUkhatulistiwa
kredit: NUkhatulistiwa
Lahir pada 14 Februari 1871, kakek Gus Dur, sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia ini, adalah ulama pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan juga sosok agamawan yang terlibat langsung dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. 

Semasa hidupnya, KH. Hasyim Asy'ari tak pernah tunduk pada penjajah. Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan 17 Agustus 1945, dia adalah tokoh Islam pertama yang menyatakan bahwa negara Indonesia sudah sah secara Islam. Mengingat Hasyim Asy'ari juga berarti mengingat pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, di mana para pejuang Indonesia mati-matian mempertahankan kemerdekaan.

KH. Hasyim Asy'ari berperan besar dalam pertempuran tersebut, terutama karena Fatwa Jihad-nya yang mendasari lahirnya Resolusi Jihad 21-22 Oktober 1945. Inti dari fatwa ini sederhana: wajib hukumnya bagi setiap orang Indonesia untuk angkat senjata melawan penjajah. Berkat fatwa Mbah Hasyim (panggilan akrab murid-muridnya) itu, terbakarlah semangat para pejuang Indonesia dalam melawan penjajahan. Mbah Hasyim mewariskan semangat anti penjajahan yang tak lekang oleh zaman.

KH. Hasyim Asy'ari meninggal pada 25 Juli 1947.

3.   KH. Abdullah Syafi'i

kredit: blog mengenal Islam
kredit: blog mengenal Islam
Sosok satu ini dikenal dengan nama singa betawi. Bicaranya blak-blakan, dengan perawakan sedikit gemuk. Syafi'i disegani karena kerasnya dia ketika mengkritik kebijakan penguasa yang menurutnya tidak sesuai dengan nilai-nilai agama. Pernah suatu kali di tahun 1970-an, KH. Syafi'i menentang keras kebijakan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin yang ketika itu ingin melegalkan prostitusi dan perjudian.

Walau usahanya gagal, karena toh kebijakan tersebut direalisasikan oleh Ali Sadikin, namun banyak orang mengingatnya sebagai ulama yang berani untuk berkata tidak, terutama ketika agama melarangnya. Namun sekeras apapun hati dan pikiran singa betawi, hal itu selalu diimbangi dengan dakwah persuasif.

KH. Abdullah Syafi'i meninggal pada 3 September 1985.

4. KH. Ahmad Dahlan

kredit: Dakwahalummah
kredit: Dakwahalummah
Lahir pada 1 Agustus 1868, kebanyakan orang mengenal KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Memilih untuk meminggirkan diri dari dunia politik, Muhammadiyah menapaki jejak di bidang pendidikan, kesehatan, dan kemasyarakatan. 

Dari sanalah Ahmad Dahlan dikekalkan namanya sebagai pahlawan nasional, dan diingat sebagai sosok yang percaya bahwa pendidikan dan amal usaha sosial sebagai dua hal yang amat penting bagi kemajuan dan kebangkitan bangsa.  

Muhammadiyah kemudian dikenal sebagai organisasi yang berjasa besar dalam pengembangan pendidikan modern yang tidak meninggalkan nafas agama. Dari sana pula lahir gagasan tentang kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam pendidikan.

KH. Ahmad Dahlan meninggal pada 23 Februari 1923.

Itulah empat sosok ulama kharismatik yang punya porsinya masing-masing dalam memajukan bangsa. Jadi dalam kehidupan berbangsa, bukan kali ini saja seorang ulama keren menduduki jabatan strategis di dalam pemerintahan. Kamu punya nama lain untuk ditambahkan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun