Mohon tunggu...
Mumin Boli
Mumin Boli Mohon Tunggu... Seniman - Human Rights Activist

Hidupilah hidupmu sehidup-hidupnya.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Menilik Eksistensi Kurikulum Merdeka

3 Juni 2022   06:53 Diperbarui: 3 Juni 2022   07:00 1080
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Program Merdeka Belajar Mendikbud Nadiem Makarim(DOK. KEMENDIKBUD via Kompas.com)

Dari semua pergantian kurikulum itu dengan perubahan metode dan model pembelajaran yang variatif, tak satupun yang mengoptimalkan sistem Higher Order Thinking Skills (HOTS), sebuah turunan metode belajar yang dicetuskan oleh Benjamin Bloom lewat teori "Taksonomi Bloom". 

Ataupun metode belajar menurut Bapak Pendidikan Nasional kita yakni Ki Hajar Dewantara dengan "Konsep Tringa". Kalau Bloom ada kognitif, afektif, dan psikomotorik maka Ki Hajar dengan ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Secara substansi kedua konsepsi ini sama hanya saja berbeda istilah dan penggunaan dalam institusi pendidikan.

Kita kembali lagi kepada soal skor PISA Indonesia yang konsisten rendah. Apakah ini pure kesalahan dari penerapan kurikulum yang tidak kompatibel ataukah ada faktor lain? Menukil kajian dari CFEE Annual Research Digest 2016/2017, menyimpulkan anak Indonesia akan siap menghadapi abad 21 tapi nanti di abad 31. 

Artinya, pendidikan anak indonesia tertinggal 1.000 tahun. Hal ini diafirmasi pula oleh pengamat pendidikan Indra Charismiadji dari Vox Populi Institute, Ia mengatakan bahwa selain kurikulum sebagai sarana untuk mengukur kemampuan diri dan konsumsi pendidikan, model pembelajaran satu arah yang masih berjalan di sebagian besar sekolah membuat anak-anak Indonesia tidak siap menghadapi abad 21.

Dalam kapasitasnya sebagai pakar pendidikan Abad 21, Indra menambahkan bahwa agar mutu pendidikan indoneisa tidak tertiggal maka kurikulum Computer Science sudah harus diterapkan di Indonesia, sebab kurikulum ini sudah populer di banyak negara lain. Menurutnya, informatika akan mengajarkan anak untuk menjadi pencipta dalam artian mereka mampu menciptakan solusi atas permasalahan yang mereka temukan.

Selain itu, Menurut Indra, Indonesia telah mengalami learning loss sejak sebelum pandemi ini ada. Kondisi ini dilihat dari kebiasaan anak-anak yang tidak bersikap kreatif, inovatif, dan mampu memecahkan masalah. Siswa hanya tahu menghafal dan mendengarkan penjelasan guru, tanpa dibiasakan untuk komunikasi dua arah.

Lantas bagaimana sehingga ketika tahun 2022 ini skor PISA Indonesia bisa di atas rata-rata dan tidak dalam posisi terendah seperti tahun-tahun sebelumnya? Apakah kurikulum merdeka ini adalah formula sekaligus gebrakan dari Mas Menteri Nadiem untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia? Bisa iya, bisa tidak. Yang perlu digaris bawahi adalah pendidikan adalah tanggung jawab bersama.

 Ini juga selaras dengan "Tripusat Pendidikan" ala Ki Hajar. Dalam membentuk siswa Indonesia menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan berkarakter maka bukan hanya tanggung jawab guru semata, melainkan keluarga dan masyarakat pun harus ikut serta dalam mewujudkan tujuan tersebut, karena semua saling berpengaruh.

Belajar Merdeka

Pendidikan Indonesia kini mengalami transformasi yang begitu signifikan. Di bawah kepemimpinan "Mas Menteri" Nadiem Makariem dengan gebrakan kebijakan "merdeka belajar" cukup merubah wajah pendidikan Indonesia saat ini. Kebijakan "merdeka belajar" ini merupakan langkah Mas Menteri Nadiem untuk mentransformasi pendidikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Indonesia yang memiliki Profil Pelajar Pancasila.

Namun, seiring berjalannya pelaksanaan program-program dari kebijakan "merdeka belajar" ini, dunia pendidikan kita terasa masih stagnan dan belum menunjukan wajah cerah yang menyinari masa depan anak bangsa. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun