Tak sampai 30 menit si anak sudah menerima resep itu dan menyerahkannya kepada apoteker. Berbagai pertanyaan muncul dari si apoteker ketika melihat bahwa resep itu dari Malaysia. Mulai dari kenapa tidak berobat saja ke rumah sakit kita, memangnya pelayanan kita jelek apa, dan sebagainya.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut sang anak. Ia hanya dapat diam terpaku melihat jam. Tatapannya tajam seakan melihat musuh, bunyi jarum jam terdengar bak cacian. Tiap detik kini begitu berharga, ia tak tahu bagaimana nasib sang ayah di rumah.
Benar saja, sesampainya di rumah ia menemukan sudah banyak orang berkerumun di rumahnya mengantar sang ayah untuk tidur selama-lamanya.
Pertanyaannya sekarang adalah, siapa yang patut di salahkan? (beri alasan agan)
1. Si anak yang lupa membawa resep dokter?
2. Si ibu yang lupa menitipkan resep dokter?
3. Si ayah yang menganggap sepele penyakit yang di deritanya?
4. Pihak rumah sakit yang memiliki aturan ketat dalam mengeluarkan obat tertentu walaupun dalam kondisi darurat?
5. Si apoteker yang terkesan cuek dan mengulur-ngulur waktu?
Jawaban orang mungkin berbeda-beda karena setiap orang pasti memiliki sudut pandangnya sendiri.
Tapi yang perlu di renungkan adalah apakah manusia sekarang masih memiliki moral? Atau mungkin itu hanyalah kata-yang kini di simpan di museum kata 'Laskar Pelangi'?
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H