Nah yang ini Kompasianer dengan usia yang kelewat matang. Malang melintang dari dunia Jurnalistik jaman dulu hingga dunia publisitas literasi. Meski laki-laki, tapi bolehlah Kang Thamrin, ini disebut bidannya para Kompasianer yang ingin menjadikan tulisan-tulisannya menjadi buku, sebuah karya nan abadi. Usia boleh uzur, tapi literasi bak medan tempur yang tak pernah membuat syarafnya mengendur. Beberapa perjalanan seperti ke Cilegon, Cianjur, Bandung menjadi medan laga tuk menebar semangat dan mengabarkan kegiatan penuh manfaat dia jabani . Salah satu punggawa komunitas Kutu BUku kompasiana ini tampilannya amat sangat sederhana, kaos oblong dan sandal gunung model kekunoan. Membaca tulisan Kang Thamrin, bahasanya renyah, ada unsur intonasi yang khas dalam pilihan kata. Seperti sengata menyematkan gaya bicara khas pesisir utara Jawa Tengah sebagai tanah lahirnya. Rutin menuliskan cerpen minggu pagi yang membawa suasana cerita santai menjadi karya berkesinambungan yang dia pertahankan.
Monggo, dua nama diatas saya serahkan sepenuhnya kepada pada dewan penyeleksi. Ada banyak Kompasianer lintas generasi yang masih konsisten menulis di Kompasiana. Sebut saja generasi awal misalnya mbak Muthiah Al hasany, Bang Isson Khoirul, sementara generasi kekinian yang konten tulisannya lumayan sebut saja mbak Riap Windhu, mas Agung Han. Mas Hendra Wardhana dari Jogja, ada juga mbak Dewi Puspa
JIka boleh menitip harap dan aspirasi kepada para penerima K Award nanti tetaplah rendah hati dan memiliki loyalitas kepada rumah bersma kita. Bersikap ramah, hangat dan penuh rasa persahabatanlah kepada warga K yang biasa-biasa saja seperti saya ini misalnya. Sebab biar bagaimanapun simbolisasi sebuah award bukan sekedar terima piala dan hadiah semata. Ada faktor keteladanan sifat , sikap bisa dicontoh. Sebab tulisannya yang pasti tidak bisa dicontoh, apalagi dijiplak, nanti malah jadi Plagiat.
Jika belum mampu sebijaksana Pak Tjiptadinata Effendi , Seterbuka mbak Christie Damayanti, Atau Sehangat sifat keibuannya Ibu Maria G Soemitro, atau serendah hati meski kadang sedikit narsis dan mendayu dayu nya bang Armand maulana Eh Muhammad Arman...maka cukup beri saya senyum, sapa dan jalinan ramah ala persahabatan. Meski rivalitas itu konon memupuk mental agar bisa berprestasi, namun bagi saya, sejatinya Kompasianer semua adalah keluarga. Maka jangan ada saling ketus diantara kita. Sebab disitulah saya merasa sedih (dikutip dengan gaya bahasa dan ekspresi ala Polwan yang pernah tenar di tayangan televisi dan sempat menjadi model meme).
Kiranya sekian sari saya, atas waktu dan kesempatan yang diberikan saya haturkan terima kasih. Mohon Maaf atas segala tulisan yaaang memiliki efek samping mual, rasa tidak enak hati apalagi sampai kebawa perasaan dan fikiran. Jika dalam jangka waktu tertentu efek tersebut masih terasa, lekas-lekaslah menghubungi dokter. Semoga semua dalam kondisi sehat senantiasa. Sehingga bisa berjumpa dengan saya dan -kawan-kawan semua pada acara Ksianival yang sudah ditunggu-tunggu
last but not least, akhirul kata..wabillahi taufik walhidayah
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaaaaaaatuuhhhhh
hadirin dipersilahkan menikmati hidangan dan minuman yang tersedia dirumah masing-masing, sebab membaca tulisan panjang saya bisa jadi menimbulkan haus dahaga
love and Peace for all kompasianers
From Kediri with....
salam lima jari gerakkan ke kanan dan ke kiri