Mohon tunggu...
Tamam irawan
Tamam irawan Mohon Tunggu... Jurnalis - Teman Menulis

Memulai Perubahan Besar Dari Hal Yang Paling Sederhana

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sawahi dan Pohon Apel Raksasa, Menemukan Makna Kekalahan

18 Juli 2024   06:12 Diperbarui: 18 Juli 2024   06:52 29
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Apel Kekalahan 

Sawahi, remaja matang, sedang berjalan-jalan menelusuri pasar. Pasar begitu ramai hari ini dengan sautan para pedagang menjajakan dagangan.

Di pasar ini, Sawahi dapat melihat pandai besi dengan pedang mengkilatnya, seorang dukun sibuk meramal pelanggan, dan masih banyak lagi berbagai macam manusia berkumpul di pasar.

Namun, Sawahi tidak mempedulikan kesemua itu, ia begitu fokus untuk menuju kios buah, karna hari ini sang pemilik toko sedang mengadakan sayembara kecil

Sayembara kios buah sangat sederhana: Pemilik toko, memiliki sebuah kebun apel yang sangat luas di belakang rumahnya. Untuk memenangkan hadiah pengunjung pasar diharuskan mencari 1 buah apel yang terbaik dari kebun tersebut.

Kios buah sudah dipadati pengunjung yang tertarik untuk menonton ataupun mengikuti sayembara. Cukup, Sawahi tidak ingin menambah koleksi kekalahan yang ia miliki; Ia sudah hidup lama ditemani berbagai kekalahan

Berdiri di tengah kerumunan membuat Sawahi sulit keluar dari suasana antusias pengunjung pasar. Dan karna kerumunan itu, tanpa sengaja Sawahi terus terdorong lebih dalam ke pusat kerumunan.  Tidak banyak yang bisa dilakukan selain berusaha menjaga agar tubuhnya tidak jatuh terinjak-injak.

Semuanya berjalan begitu cepat. Sawahi terdorong hingga depan pendaftaran sayembara, wajah pemilik kios yang antusias, goresan tangan Sawahi, ukiran tinta hitam di atas kertas putih, semua terjadi begitu saja. Sawahi pulang dari pasar dengan berbagai pikiran yang berkecamuk.

...

Keesokan harinya, seluruh peserta sayembara sudah berbaris di tempat yang ditentukan. Sedikit peringatan dari seorang pria baruh baya, yang mungkin merupakan suruhan pemilik kios buah. Dan dimulailah perlombaan Sawahi yang tidak disengaja ini.

Semua peserta berlari melewati bukit - titik mereka mulai perlombaan -- besar, tak berselang lama, tampaklah kebun apel yang bukan main besarnya. Alih-alih melihat banyak pohon apel, para peserta justru sudah ditunggu oleh pohon apel raksasa. Ujungnya sangat tinggi, hanya bisa dilihat jika menaiki bukit ini. Rasa takjub menyelimuti perlombaan, tapi waktu tidak bisa membiarkan rasa itu lama menetap.

Sesampainya di kaki pohon, seluruh peserta terlihat sibuk mencari, apel mana kiranya dapat menghantarkan mereka menuju hadiah.

Seorang wanita, dengan anjing pendeknya, sibuk mengendus tanah sekitar pohon apel. Tidak berselang lama, wanita itu sudah menemukan sebuah apel merah yang terlihat lezat, dia sudah menentukan pilihannya.

Bocah berusia belasan tahun, menuruni salah satu bagian pohon. Tampak di tangannya, apel merah yang lain, yang kini membuat apel wanita dengan anjingnya bukan apa-apa. Bocah itu menemukannya setelah beberapa kali menaiki ranting pohon.

Dan seterusnya, berbagai peserta dengan beberapa apel lain sudah meninggalkan lokasi lomba. Sementara hari sudah beranjak gelap.

Di mana Sawahi kita? Sawahi sudah jauh berada di puncak pohon apel. Butuh waktu serta tenaga ekstra untuk sampai di sana. Ia berdiri diam di puncak pohon... Pada saat itulah, mentari mulai tenggelam dengan awan-awan yang memerah seperti kapas terbakar. Seluruh wajah kota dan pasar itu tersenyum menghantarkan kepergian mentari. Sawahi sudah mendapat hadiah yang dijanjikan pemilik kios buah.

Setelah berlama-lama di puncak pohon dan mendapati bahwa hari sudah malam, Ia turun ke tanah berjalan pulang ke rumah.

Diperjalanan, ia mulai menyusun koleksi kekalahan barunya. Ia juga sempat memperhatikan beberapa kekalahannya yang dulu, kini sudah berdebu dan sudah mulai mengelupas warna catnya. Ia lalui kekalahan tersebut.

Kini ia berdiri dengan kekalahan baru di tangan. Ia melihat semua pajangan dan kenangan itu. Tanpa ia sadari, wajahnya menghangat, tersimpul senyum tipis di bibirnya. Baru kali ini ia merasakan kekalahan yang terasa manis!

Tidak semua kekalahan itu pahit, tinggal bagaimana kita melihatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun