Mohon tunggu...
Tabrani Yunis
Tabrani Yunis Mohon Tunggu... Guru - Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Tabrani Yunis adalah Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, juga sebagai Chief editor majalah POTRET, majalah Anak Cerdas. Gemar menulis dan memfasilitasi berbagai training bagi kaum perempuan.

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Sumur Kering, Sumur Bor Pun Ikut Kering

3 Agustus 2018   01:09 Diperbarui: 3 Agustus 2018   02:25 1291
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tampak sebuah bak air yang besar untuk menampung air yang tampaknya sengaja disimpan untuk keperluan mencuci atau mandi, tetapi airnya sudah kelihatan warna hijaunya. Mungkin karena kualitas air dari sumber yang kurang jernih. Bukan hanya sekali itu, ketika sedang menikmati sajian kopi Arabika Gayo di sebuah warung kopi, kebelet ke toilet, kita sering dihadapkan dengan kesulitan air. Kacau bukan?

 Jelas kacau. Untunglah untuk kebutuhan mandi dan lainnya, penulis yang hanya bertandang tiga hari di Idi tersebut, bisa melakukannya di hotel, karena menginap di hotel. Walau sebenarnya saat sarapan pagi, penulis juga melihat ada mobil pengangkut air yang mengantarkan air ke hotel untuk kebutuhan stock air di kamar mandi hotel tersebut. Artinya, pihak hotel harus membeli air dengan mengangkut air ke hotel, tidak lewat pipa PDAM, sebagaimana layaknya di kota-kota lain. 

Masih lumayan hotel punya income dari orang-orang yang menginap, kalau jumlah tamunya besar, namun bagaimana dengan masyarakat yang kondisi ekonominya melarat? Pasti tambah melarat bukan?

Pasti melarat. Masyarakat dari berbagai tingkat kehidupan dan atau strata social, harus membeli air dengan harga Rp 80.000 satu tangki air. Bayangkan saja, bila dalam satu rumah atau keluarga ada lebih dari empat orang, berapa banyak air yang dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari? Cukup besar bukan? Lalu bagimana mereka bisa mampu membeli?

Jadi Galau

Dari pengamatan dan penggalian informasi secara singkat selama tiga hari, sembari melakukan aktivitas lain di Idi dan Peureulak, Aceh Timur tersebut, sebagai outsider.Penulis ikut merasakan galau dengan kondisi krisis air yang terjadi di Idi tersebut. Kegalauan itu di antaranya adalah apa yang dirasakan saat ini adalah galau dengan kekurangan air sebagai akibat dari mengeringnya sumur-sumur mereka. 

Kedua, ketika sumur-sumur mereka mengering, jalan keluar atau solusi yang mereka tempuh adalah dengan cara ramai-ramai membuat sumur bor. Dari pengakuan atau cerita dari beberapa sumber yang penulis tanyakan, hampir setiap rumah menggunakan sumur bor. Bukan hanya di rumah-rumah, tetapi juga di sawah-sawah, seperti yang penulis lihat di kecamatan Peureulak.

Ya, semakin banyak sumur bor, maka semakin kering sumur masyarakat. Jadi, sangat berisiko bukan? Risiko pertama, sumber air akan terus habis dan risiko kedua adalah bisa terjadi turunnya permukaan tanah kelak. 

Ternyata lebih parah lagi, saat ini banyak sumur bor di rumah masyarakat yang juga mengalami kekeringan. Keringnya sumur bor-sumur bor di rumah tersebut, kini dibuat sumur bor yang besar yang dikelola untuk memenuhi kebutuhan air di Idi tersebut. Nah, ketika sumur bos yang besar ada yang mengisap air di lapisan terbawah, maka dampaknya bisa jadi sumur bor di rumah masyarakat semakin kering.

Jadi, keberadaan sumur bor yang besar di satu sisi memang sudah bisa memberi solusi terhadap kebutuhan air masyarakat yang didapatkan dengan cara membeli, di pihak lain, sumur bor akan bisa mendatangkan bencana bagi masyarakat di wilayah ini. 

Kiranya sangat banyak referensi mengenai dampak sumur bor. Salah satu sumber Kaskus.co.id menyebutkan bahwa sumur bor memiliki dampak buruk bagi lingkungan. Selain dapat merusak permukaan tanah, juga merusak siklus hidrologi, karena sumur bor dapat menghabiskan cadangan air tanah dalam yang berakibat terjadinya longsor dan amblasnya permukaan tanah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun