Mohon tunggu...
TABITA DEVI
TABITA DEVI Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Negeri Malang

Mahasiswa Pendidikan Geografi, yang tertarik dengan perubahan yang terjadi di lingkungan akibat proses interaksi manusia dan alam. Pendidikan dan ilmu pengetahuan mendorong untuk terus mempelajari perubahan-perubahan tersebut

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Semarakkan Merdeka Belajar: Meneladani Ki Hajar Dewantara Pejuang Kemerdekaan Belajar

31 Mei 2023   15:52 Diperbarui: 31 Mei 2023   16:23 561
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pelajar Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok Ki Hajar Dewantara. Ia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. 

Ki Hajar Dewantara merupakan cucu dari Pakualam III, yang termasuk dalam keluarga Keraton Yogyakarta. Oleh karena Politik Etis (balas budi) yang dilakukan Belanda, seorang Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang merupakan keluarga bangsawan dapat mengenyam pendidikan dengan baik.

Walaupun tidak dapat menyelesaikan pendidikannya, Ki Hajar Dewantara merupakan seorang yang kritis, berani, dan memiliki kepedulian besar terhadap nasib rakyat kecil. Banyak sekali perjuangan yang dilakukannya untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Salah satunya pada bidang pendidikan.

Ki Hajar Dewantara merasa bahwa terjadi penyimpangan pada politik balas budi yang dilakukan Belanda. Awalnya pendidikan ini diberikan kepada seluruh kalangan masyarakat. Namun, pada praktiknya hanya keluarga orang kaya dan bangsawan saja yang boleh bersekolah.

Sehingga, pada tahun 1922 Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang kita kenal sebagai Taman Siswa. Tujuannya adalah mengembalikan hak rakyat untuk dapat mengenyam pendidikan serta menumbuhkan rasa kebangsaan.

Banyak perubahan yang dilakukan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan. Seperti diterapkannya sistem among pada pendidikan di Taman Siswa. Dimana sebelumnya sistem yang diterapkan pada Pendidikan Kolonial mengandung unsur perintah dan sanksi. 

Dengan sistem pendidikan tersebut, Ki Hajar Dewantara berharap bahwa seorang guru dapat menjadi seorang pamong, yaitu guru yang dapat mendidik siswa dengan kasih berdasarkan perkembangan siswanya. 

Untuk menunjang hal tersebut, diperlukan peran guru yang amat besar. Sehingga, diciptakannya prinsip kepemimpinan guru oleh Ki Hajar Dewantara, yang terdiri atas:

  • Ing ngarso sung tuladho (guru di depan menjadi teladan bagi siswanya)

  • Ing madya mangun karso (guru memberikan semangat atau sebagai pendukung siswa dalam mengembangkan bakatnya)

  • Tut Wuri Handayani (guru memberikan motivasi kepada siswa)

Prinsip tersebut hingga saat ini dijadikan sebagai semboyan pendidikan Indonesia yaitu "Tut Wuri Handayani".

Menurutnya, pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Pendidikan yang dijalani seorang siswa hendaknya dapat menunjang dan mengembangkan bakat dan minatnya. 

Hendaknya seorang siswa mendapat kesempatan untuk merdeka dalam batin, pikiran, dan tenaganya. Sehingga siswa dapat merasakan merdeka dalam waktu belajar, berkreasi, berpendapat, dan berpikir tanpa merugikan orang lain.

Sejalan dengan pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia (Kemdikbud) mengusung program pendidikan yang disebut dengan Merdeka Belajar. Merdeka Belajar merupakan sistem pendidikan yang dilakukan Indonesia dalam merespons tantangan pendidikan pada era 4.0.

Semarak Merdeka belajar digaungkan untuk memberikan kesempatan kepada siswa beserta guru untuk mewujudkan pembelajaran yang berkualitas berdasarkan kebutuhan dan lingkungan siswa. Dengan program tersebut, siswa memiliki kebebasan dalam memilih mata pelajaran sesuai dengan bakat dan minatnya. Akhirnya, bakat dan minat siswa dapat berkembang dengan lebih optimal. Sehingga nantinya mereka dapat memberikan kontribusi pada perkembangan dan kemajuan negara.

Selama ini, sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia masih mengandung unsur-unsur pada pendidikan kolonial, salah satunya adalah perintah dan sanksi. Perintah menuntut anak untuk mengerti berbagai pengetahuan. Padahal belum tentu hal tersebut menjadi minatnya. Akibatnya siswa tidak melakukan kewajibannya sebagai pelajar dengan baik dan sungguh-sungguh, hanya karena perintah saja.

Berbeda apabila seorang siswa mempelajari hal-hal yang disukainya. Motivasi belajar dapat meningkat karena yang dipelajari adalah hal yang sudah dikuasai dan ingin lebih dikembangkan.

Selama ini siswa juga diarahkan untuk menjadi seorang dengan sikap intelektualisme. Siswa dituntut untuk dapat menguasai seluruh mata pelajaran. Kurikulum pendidikan seakan-akan menjajah kehidupan siswa. Terlebih persaingan dalam mendapatkan nilai tertinggi membuat banyak siswa merasa terjajah.

Merdeka Belajar menjadi harapan baru bagi perbaikan sistem pendidikan Indonesia. Sekolah diberikan kebebasan dalam mengolah dan mengembangkan kurikulum berdasarkan keadaan peserta didiknya. 

Selain itu, guru juga mendapat kebebasan dalam mengatur dan menggunakan perangkat pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan begitu, guru dapat mengatur materi apa saja yang akan diberikan kepada siswanya. Materi pelajaran dapat lebih fokus dan disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan bakat dan minat siswa.

Penilaian yang dilakukan tidak lagi berdasarkan pada besarnya angka yang diperoleh siswa. Penilaian yang diberikan berupa deskripsi mengenai ketuntasan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Penilaian karakter juga menjadi hal yang penting dilakukan. Nilai kebangsaan yang diajarkan Ki Hajar Dewantara ditanamkan dengan adanya projek penguatan profil pelajar Pancasila. Program tersebut merupakan usaha mencapai kompetensi serta karakter yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Program Merdeka Belajar ini menjadi langkah yang tepat dalam mengembalikan sistem pendidikan Indonesia yang sesuai dengan tujuan negara, yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa".

Menghadapi perkembangan dunia dan pendidikan yang begitu cepat, Semarak Merdeka Belajar harus digaungkan. Salah satunya adalah dengan meneladani dan mengamalkan perjuangan Ki Hajar Dewantara mengenai kemerdekaan siswa dalam belajar.

Karena kemerdekaan pada dasarnya adalah hak semua makhluk hidup. Keterpaksaaan dan perasaan dijajah karena sekolah dan belajar haruslah dihapuskan. Sehingga terwujudlah kehidupan bangsa yang cerdas. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun