1. Amal untuk mendukung perilaku membaca buku dan belajar anak-anak. Apalagi di tengah pandemi Covid-19. Â Taman bacaan terbukti menjadi tempat alternatif yang diperlukan sebagai pengganti sekolah.
2. Amal untuk memberikan informasi dan motivasi kepada anak-anak. Agar tetap semangat dalam belajar dan sekolah untuk meraih cita-cita di masa depan.
3. Amal untuk kegiatan kepedulian sosial kepada sesama, utamanya dari kalangan yang membutuhkan bantuan akibat kemiskinan. Terjun langsung melihat realitas yang terjadi di masyarakat. Â
4. Amal untuk menghibur yang bersifat edukatif sehingga terjadi interaksi sosial yang positif dan menyenangkan. Sambil mengisi waktu senggang dengan kegiatan yang bermanfaat.
Itulah amalan sederhana di taman bacaam. Sebagai bagian untuk menegakkan tradisi baca dan budaya literasi anak-anak. Apalagi di tengah gempuran era digtal, maka anak-anak Indonesia harus dibantu dan diselamatkan. Spirit itu pula yang terjadi di Taman Bacaan Masyarakat (TBM ) Lentera Pustaka yang terletak di Kaki Gunung Salak Bogor. Sejak didirikan 4 tahun lalu, TBM Lentera Pustaka kini memiliki 8 program, yaitu: 1) TABA (TAman BAcaan) sebagai tempat membaca 170 anak-anak dari 3 desa (Sukaluyu, tamansari, Sukajaya), 2) GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 10 ibu-ibu warga belajar buta huruf, 3) KEPRA (Kelas PRAsekolah) yang diikuti 21 anak-anak, 4) YABI (YAtim BInaan) dengan 16 anak yatim yang mendapat santunan setiap bulan, 5) JOMBI (JOMpo BInaan) yang menyantuni 7 orang tua usia lanjut, 6) DONBUK (DONasi BUKu) untuk menerima dan menyalurkan buku bacaan ke taman bacaan, 7) RABU (RAjin MenaBUng) sebagai gerakan menabung anak-anak sejak dini, dan 8) KOPERASI LENTERA sebagai upaya untuk memberantas rentenir dan membebaskan warga dari jeratan hutang berbunga tinggi.
Apa artinya taman bacaan? Dalam konteks mengoptimalkan amalan pascalebaran, maka taman bacaan bisa jadi alternatif tempat orang-orang yang mau beramal sambil berinteraksi dan terjun langsung ke masyarakat. Amal, sungguh menjadi perbuatan sederhana yang berdampak besar. Mulailah dengan amalan yang sederhana, selagi ada waktu untuk melakukannya.
Karena di zaman now. Banyak orang berani mendaki gunung, menyeberangi lautan. Tapi sayang, amal dilupakan bahkan ibadah pun dilewatkan. Hidup itu singkat dan sementara. Maka isilah dengan amal perbuatan baik yang bermanfaat. Jangan terlalu sering mengisi hidup dengan perbuatan yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Jangan terpukau dengan media sosial, karena ketenaran itu bak minum dari air lautan yang asin. Semakin diminum, maka semakin haus untuk mendapatkannya.
Dan ketahuilah, beramal memang  mudah. Tapi menjaga amal agar tidak rusak dan terhapus itu yang lebih sulit. Selamat beramal dan salam literasi. #AmalanSederhana #KampanyeLiterasi #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H