"Aku belum siap." Ketiknya, dalam isi sebuah pesan singkat.
Sudah lebih dari seminggu mereka rutin bertukar kabar, atau hanya sekadar menanyakan hal-hal sepele semacam sedang apa, di mana dan sudah makan atau belum. Perhatian-perhatian kecil, pemahaman pada pribadi masing-masing, serta kehangatan yang ditunjukan oleh keduanya, rupanya menyisakan pertanyaan-pertanyaan mendasar atas perasaan yang abstrak; apakah tanpa bertemu, mereka bisa jatuh cinta?
Terlebih di dalam benak Mirna. Meski pun dia belum pernah menemui seseorang yang mengaku bernama Martin itu, ia merasa amat terkesan dengan perhatian dan kehangatan-kehangatan lewat pertukaran pesan yang sering mereka lakukan. Karena memang, Martin tidak pernah mengunggah atau pun mengirimkan foto pribadi kepadanya. Dia mengaku terlalu pemalu, bahkan hanya untuk sekadar melakukan hal itu.
Sementara di sisi lain, Martin tengah merawat kecemasan yang tumbuh dari perasaan takut kehilangan. Atau barangkali ia akan dijauhi oleh Mirna saat mereka berdua bertemu, saat Mirna tahu tentang dirinya.
"Mungkin begini saja sudah cukup," pikirnya.
Dia takut Mirna akan menjauhinya. Dia takut Mirna merasa jijik bila berada di dekatnya.
Di dalam kamarnya, dia sedang bercermin, menatap dirinya dalam-dalam. Mulai bergumam pada dirinya sendiri, bahwa hal paling buruk yang pernah dia lakukan adalah bersembunyi karena takut akan merasa patah dan dipermalukan sekali lagi. Persisnya, mungkin seperti saat ini.
Kemudian dia mengambil ponselnya, memutuskan untuk segera membuat panggilan ke nomor Mirna. Dia gugup sekali. Karena lebih dari seminggu berkenalan, dia belum pernah sekali pun menghubungi Mirna dengan suara.
Dia sedang merencanakan sesuatu, membuat sebuah keputusan untuk mengajak Mirna bertemu, bahwa dia akan menemui Mirna sebagai dirinya sendiri.Â
Ketika telepon diangkat.....
"Ehmm.. Ehmmm.." Ia berdehem, memastikan bahwa suaranya cukup keras dan tegas.