Mohon tunggu...
Syahiduz Zaman
Syahiduz Zaman Mohon Tunggu... Dosen - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Penyuka permainan bahasa, logika dan berpikir lateral, seorang dosen dan peneliti, pemerhati masalah-masalah pendidikan, juga pengamat politik.

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

14 Tingkatan Cinta

4 Oktober 2024   11:02 Diperbarui: 4 Oktober 2024   11:20 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
14 tingkatan cinta. (Sumber: Baynounah.ae)

Cinta sebagai Spektrum Pengalaman Emosional

Cinta dalam budaya Arab, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di atas, lebih dari sekadar perasaan sederhana. Ini adalah spektrum yang mencakup berbagai tingkatan emosi, dari dorongan awal hingga keterikatan total. Tingkatan pertama, seperti (Al-Hawa), mencerminkan aspek cinta yang lebih impulsif, ketertarikan fisik yang sering kali terjadi pada pandangan pertama. Ini adalah cinta yang belum teruji oleh waktu atau kedalaman emosional, sering kali bersifat sementara dan mungkin hanya berfokus pada daya tarik fisik.

Namun, ketika cinta berkembang, ia tidak hanya berhenti pada ketertarikan fisik. (As-Subwah) menunjukkan perasaan yang mulai beranjak ke kerinduan, di mana ketertarikan fisik menjadi lebih mendalam. Orang mulai merasakan hasrat dan dorongan emosional yang lebih intens. Ketika cinta terus berkembang, maka tibalah pada tingkatan (Asy-Syaghaf), yang menggambarkan perasaan cinta yang sudah menyentuh hati. Pada tahap ini, cinta bukan hanya fisik, tetapi juga emosional, menciptakan hubungan yang lebih dalam antara dua orang.

Setiap tingkatan awal cinta ini mencerminkan perkembangan yang alami dan bertahap dari hubungan manusia. Ini adalah tahapan di mana individu mulai mengenal dan memahami satu sama lain pada level yang lebih mendalam. Meskipun pada tingkatan ini cinta masih memiliki unsur kebahagiaan, gairah, dan keinginan untuk bersama, semakin cinta berkembang, kita juga mulai melihat unsur ketegangan dan penderitaan yang lebih signifikan. Pada titik inilah cinta mulai melibatkan perasaan kehilangan, kerinduan, dan bahkan rasa sakit.

Dari tiga tingkatan awal cinta ini, kita dapat melihat bahwa budaya Arab menekankan pada bagaimana cinta berkembang dari sesuatu yang spontan menjadi sesuatu yang lebih kompleks dan berlapis. Tidak ada perasaan yang statis; cinta adalah perjalanan emosional yang terus berubah dan bergerak seiring dengan pengalaman dan waktu.

Cinta yang Membawa Rasa Sakit dan Kerinduan

Ketika perjalanan cinta berlanjut ke tingkatan yang lebih dalam, kita mulai melihat perubahan signifikan dalam karakter emosi yang terlibat. (Al-Wajd) adalah tingkatan cinta yang mengisyaratkan perasaan kehilangan atau kesedihan karena merindukan orang yang dicintai. 

Pada tahap ini, cinta bukan lagi tentang kegembiraan atau kebahagiaan semata, tetapi tentang bagaimana ketidakhadiran orang yang dicintai memengaruhi perasaan seseorang. Ini menggambarkan betapa besar cinta dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang, bahkan menyebabkan rasa sakit yang mendalam.

Berikutnya, ada (Al-Kulf), yang menggambarkan cinta sebagai beban atau tanggung jawab yang melelahkan. Di sini, cinta tidak lagi hanya dilihat sebagai perasaan positif, tetapi juga sesuatu yang penuh dengan perjuangan. Pada tingkatan ini, seseorang mungkin rela menghadapi kesulitan demi mempertahankan cintanya. Hal ini menunjukkan betapa beratnya cinta pada tahap ini, ketika seseorang harus mengorbankan dirinya untuk cinta yang dia yakini atau perjuangkan.

Lalu, cinta memasuki tingkatan yang sangat intens, yaitu (Al-'Isyq). Ini adalah tahap cinta yang begitu mendalam dan mendominasi, di mana seseorang mulai kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Al-'Isyq bukan hanya cinta yang dalam, tetapi cinta yang mendominasi pikiran dan emosi, menguasai setiap aspek kehidupan seseorang. Pada titik ini, cinta bukan lagi sekadar hubungan emosional antara dua orang, melainkan menjadi bagian esensial dari eksistensi individu.

Tingkatan ini menunjukkan bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang penderitaan dan perjuangan. Perasaan yang intens dapat menyebabkan seseorang merasa sangat terikat atau bahkan terjebak dalam cinta yang mereka rasakan. Kerinduan, kesedihan, dan rasa sakit mulai menjadi elemen yang tak terpisahkan dari pengalaman cinta. Meskipun di satu sisi cinta membawa kebahagiaan dan kepuasan, di sisi lain cinta juga dapat menjadi beban emosional yang signifikan.

Pada tahapan ini, kita dapat melihat bahwa cinta telah berubah dari perasaan yang lebih spontan dan impulsif menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dan menantang. Setiap tingkatan cinta membawa beban emosional yang lebih berat, menunjukkan bahwa semakin dalam seseorang jatuh cinta, semakin besar pula kemungkinan untuk merasakan kerinduan dan penderitaan.

Puncak Cinta dan Pengabdian Tanpa Syarat

Memasuki tingkatan yang lebih tinggi, cinta berubah menjadi bentuk yang lebih intens, di mana perasaan kerinduan dan keterikatan mulai mengarah pada pengabdian total. 

Pada tingkatan (An-Najwa), cinta menjadi kerinduan yang mendalam, sering kali dipendam dan tidak diungkapkan. Di sini, cinta bukan lagi hanya tentang interaksi atau komunikasi terbuka, tetapi lebih tentang perasaan yang menyelimuti seseorang dalam keheningan. Ada kesedihan mendalam yang terpendam di balik cinta ini, mungkin karena jarak, ketidakmungkinan, atau bahkan pengorbanan.

Tingkatan berikutnya, (Asy-Syaqw), memperdalam rasa kerinduan itu menjadi kebutuhan yang lebih besar untuk bersatu dengan orang yang dicintai. Pada titik ini, cinta telah tumbuh menjadi sesuatu yang sangat kuat, di mana seseorang merasa sangat membutuhkan kehadiran orang yang mereka cintai. Ini menunjukkan bagaimana cinta bisa begitu mengakar dalam jiwa seseorang hingga kerinduan itu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Kemudian ada (Al-Washab), di mana cinta mulai memengaruhi fisik seseorang. Rasa cinta yang sangat mendalam ini menciptakan penderitaan fisik yang nyata, mungkin karena perpisahan atau ketidakmampuan untuk bersatu. Ini menggambarkan cinta yang melampaui batas emosional, merambah ke ranah fisik. 

Penderitaan karena cinta menjadi sangat nyata dan dapat merusak kesehatan seseorang. Pada tahap ini, cinta tidak lagi hanya dirasakan secara emosional, tetapi secara fisik, menggambarkan betapa kuatnya pengaruh cinta terhadap tubuh dan jiwa.

(Al-Istikanah) menggambarkan penerimaan dan ketundukan total kepada cinta. Di sini, seseorang sepenuhnya menyerah kepada cinta tanpa ada lagi perlawanan atau keraguan. Ini adalah bentuk cinta yang melibatkan pengabdian total, di mana seseorang rela memberikan segalanya demi cinta yang mereka rasakan. Tidak ada lagi penolakan atau keraguan; cinta telah menjadi bagian integral dari diri mereka.

Pada tingkatan (Al-Wudd), cinta menjadi lebih lembut dan penuh kasih sayang. Ini bukan lagi tentang hasrat atau keinginan yang mendominasi, tetapi tentang kedamaian, perhatian, dan kenyamanan yang datang dari cinta. 

Hubungan di sini lebih matang dan stabil, di mana kedua belah pihak merasakan kasih sayang yang mendalam dan saling peduli. Al-Wudd adalah bentuk cinta yang damai, yang menunjukkan kedekatan emosional dan ikatan yang kuat antara dua orang.

(Al-Khullah) menandai bentuk cinta yang tak terpisahkan, di mana dua orang merasa begitu terhubung satu sama lain hingga mereka tidak bisa dipisahkan. Ini adalah tahap di mana cinta telah tumbuh menjadi sesuatu yang begitu mendalam sehingga batas antara individu mulai kabur. Kedua orang ini tidak hanya terikat secara emosional, tetapi juga secara eksistensial, merasa seolah-olah mereka adalah bagian dari satu entitas yang sama.

Akhirnya, puncak dari semua ini adalah (Al-Gharam) dan (Al-Hiyam). Al-Gharam adalah cinta yang obsesif dan tidak dapat dihindari. Seseorang merasa tenggelam dalam cinta yang tidak terelakkan, penuh dengan intensitas yang tak tertandingi. Al-Hiyam adalah puncak dari cinta, ketika seseorang benar-benar mabuk cinta, kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ini adalah cinta yang paling murni, penuh dengan pengorbanan dan dedikasi total, tanpa ada lagi ruang untuk akal sehat atau logika.

Tingkatan-tingkatan akhir ini menunjukkan bahwa cinta, pada akhirnya, bisa menjadi kekuatan yang sangat menguasai dan menentukan hidup seseorang. Dari cinta yang paling sederhana hingga cinta yang paling mendalam dan penuh pengorbanan, cinta memiliki kekuatan untuk membentuk dan bahkan menghancurkan diri seseorang. 

Ini adalah perjalanan emosional yang penuh warna, dan setiap tingkatannya mencerminkan bagaimana cinta bisa menjadi kekuatan yang begitu memengaruhi hidup dan jiwa manusia.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun