Jika dulu nelayan dikenal sebagai profesi yang identik dengan kemiskinan, bagaimana sekarang?
Mengukur kesejahteraan nelayan dapat menggunakan indikator nilai tukar nelayan (NTN), kesejahteraan nelayan pada tahun 2018 (113,28 %) mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2017 (109,85%), tahun 2016 (106,69%), dan tahun 2015 (105,48%).
NTN merupakan perbandingan indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar (dinyatakan dalam persen). Jika NTN lebih dari 100 maka jumlah pengeluaran lebih kecil dibandingkan pendapatan.Â
Berdasarkan teori NTN, nelayan makin jauh meninggalkan garis kemiskinan, tapi kondisi ini tidak bisa digeneralisasi. Mengingat kondisi demografi, kecil kemungkinan pengambilan data pada nelayan dapat dilakukan secara representatif.
Selain itu, variabel penghasilan nelayan dari aktivitas selain perikanan juga belum dilakukan perhitungan yang tepat. Tanggal 6 April diperingati sebagai hari nelayan nasional. Sejak penetapannya pada musyarawah nasional di Solo tahun 1961, usia hari nelayan pada tahun 2019 sudah 58 tahun.
Jika nelayan adalah pegawai negeri sipil, maka usia 58 adalah usia kebanyakan PNS untuk pensiun, masa menggantung pena dan menikmati masa senja yang mungkin awal dari bahagia.Â
Bahagia? Apa ukuran bahagia itu? Bahagia itu sederhana, semu-tidak bisa diukur, hanya dapat dirasakan, kebahagiaan hadir dari rasa syukur. Sama seperti hari nelayan, diawali dari tradisi di pantai Pelabuhan Ratu, tradisi untuk mengungkapkan syukur atas nikmat hidup yang telah diberikan.Â
Saat ini, peringatan hari nelayan tidak cukup hanya sekadar untuk diperingati. Lebih dari itu, sebagai obor penerang dan pembakar semangat untuk peningkatan taraf hidup. Upacara adat labu saji di Pelabuhan Ratu merupakan bentuk kearifan lokal yang dinasionalkan dan diperingati dalam bentuk hari nelayan.Â

Bahan baku yang terbatas menyebabkan menipisnya keuntungan, ongkos produksi tetap mengalir deras walaupun volume produksi sedikit. Tidak sedikit pabrik pengolahan ikan yang gulung tikar karena permasalahan ini. Pada kasus ini kebahagiaan dapat didefinisikan sebagai keuntungan finansial, kebahagiaan yang semu. Kearifan lokal seperti perayaan adat istiadat nelayan dapat mengurangi jumlah hari (effort) dalam upaya penangkapan ikan.Â
Liburnya nelayan berarti memberikan kesempatan sumber daya ikan untuk recover, sejenak ikan diberi kesempatan bereproduksi dan berpadu untuk pertumbuhan biomassa populasi yang lebih besar.Â
Saat bahan baku terbatas, idealnya industri pengolahan dapat menghasilkan ikan-ikan dengan kualitas yang lebih baik, melahirkan ide kreatif untuk peningkatan daya saing produk. Lebih mudah meminimalkan risiko keamanan pangan pada volume produksi yang sedikit, dari pada harus memaksakan peningkatan volume namun mutu dan keamanan pangannya diragukan.Â
Dalam bisnis, ada kualitas ada harga, ada harga banyak untung, banyak untung banyak juga sedekahnya, sedekah dapat melipatkangandakan rezeki, begitu ajaran agama saya.Â
Di tahun-tahun ke depan, tantangan terhadap sektor perikanan semakin berat. Transformasi sektor agraria menjadi sektor industri, ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim, penurunan jumlah nelayan, serta pencemaran lingkungan menjadi bayang-bayang hitam yang sangat mengusik.
Menyambut masa kritis tersebut, dibutuhkan komitmen politik, komitmen yang tidak ditunggangi oleh kepentingan, komitmen untuk menjunjung tinggi amanat UUD 1945 ".....memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia".
Di Indonesia, jumlah nelayan pada tahun 2003 sebanyak 1,6 juta jiwa, menurut drastis pada tahun 2013 menjadi 868 ribu jiwa (katadata.co.id). Jika masyarakat Indonesia wajib pilih pada pemilu 2019 sebanyak 192 juta jiwa, maka persentase jumlah suara yang berasal dari nelayan hanya sebesar 0,45 persen, jumlah yang sangat sedikit.
Kita sudah terlalu lama memunggungi laut, namun dalam 4 (empat) tahun terakhir perikanan Indonesia telah banyak berbenah. Bermetamorfosis dari illegal/unreported/unregulated fishing (IUU Fishing) menjadi legal/reported and regulated fishing (LRR Fishing), dari penangkapan kurang lestari menjadi pengelolaan yang lestari dan berkelanjutan, dari yang terjajah menjadi yang berdaulat.Â
Dari skeptis melawan pencemaran di laut menjadi optimis melawan segala bentuk pencemaran dalam tindakan nyata, dari kurang berani dalam penegakkan hukum menjadi tangguh dalam penindakan dan menjerakan pelaku pelanggaran. Dari yang rendah konsumsi makan ikan menjadi meningkat konsumsi makan ikannya, dari yang diremehkan oleh dunia menjadi yang disegani.Â
Meski hingga saat ini, saya belum memperoleh data terupdate tentang berapa jumlah nelayan dan pembudidaya ikan, semoga jumlahnya makin bertambah.
Harapan penulis, semoga mereka yang terpilih adalah yang dapat melihat perikanan dari dimensi yang lebih luas, holistik, integral dan menyeluruh. Tidak ada ruang bagi mereka yang tidak pro terhadap kelestarian, karena kelestarian akan mengantarkan pada kesejahteraan dan kedaulatan.
*) Penulis adalah penanggung jawab pengawasan, pengendalian dan informasi BKIPM Perwakilan Palu
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI