Dalam persepakbolaan dunia, nama Jose Mourinho adalah salah satu legenda. Betapa tidak, dia adalah satu dari segelintir pelatih di kolong jagat yang mampu meraih trofi bergengsi Eropa---Piala Champions dan Piala UEFA---dengan tiga grup berbeda: FC Porto (Champions), Inter Milan (Champions), dan Manchester United (UEFA). Â Bersama AS Roma, Mourinho pun sempat menggondol gelar Conference League.
Boleh dibilang, Mourinho merupakan pelatih bertangan Midas yang sentuhannya pada hampir setiap klub yang dibesutnya selalu melahirkan prestasi. Tak tanggung-tanggung, juara empat liga berbeda pernah digondolnya bersama FC Porto (Liga Portugal), Chelsea (Liga Inggris), Inter Milan (Liga Italia), dan Real Madrid (Liga Spanyol). Memang, Mourinho juga sempat menorehkan kegagalan, seperti ketika melatih Tottenham Hotspur, tapi itu tertutupi dengan deretan prestasinya di atas.
Resep sukses
Mengingat sepakbola menurut kolomnis sepakbola Sindhunata (Air Mata Bola, Kompas, 2005) merupakan miniatur kehidupan, termasuk miniatur dunia politik, tak pelak kita tentunya bisa belajar banyak dari resep Mou atau The Special One---demikian Mourinho biasa dipanggil---dalam meracik sukses bagi tim-timnya.
Setidaknya ada sejumlah resep sukses yang bisa diidentifikasi. Pertama, Mou selalu mengutamakan aspek gelora batin atau renjana (passion) terlebih dulu dalam memoles pemain-pemainnya. Artinya, menanamkan karakter dan motivasi pada diri bawahan dan personel sumber daya manusia adalah sendi utama resep sukses Mourinho. Jadi, kemenangan dan popularitas serta gelimang uang bukanlah hal utama untuk ditanamkan Mou kepada para pemainnya.
Kedua, Mou selalu mengutamakan perekrutan pemain dari bibit-bibit muda yang masih mentah. Jadi, Mourinho tidak terlalu suka membeli pemain-pemain bintang yang sudah 'jadi' sebagai ujung tombak kesebelasannya. Justru, Mourinho mencari pemain-pemain di klub gurem untuk nantinya diorbitkan sebagai pemain bintang. Peter Cech, Juan Mata, Damien Duff, dan lain-lain saat melatih Chelsea adalah contoh kejelian Mou. Dari segi ini, Mou memiliki pakem yang sama dengan pelatih legendaris lain seperti Arsene Wenger (Arsenal) dan Sir Alex Ferguson (Manchester United). Dengan kata lain, Mou tidak silau akan 'citra' pemain bintang dan justru berfokus pada kinerja sang pemain.
Ketiga, Mou adalah tipe pemimpin yang sangat loyal terhadap para pemainnya. Sesalah apa pun pemainnya kepada pemain lawan atau wasit, Mou akan berada di garis paling depan untuk membela pemainnya. Bahkan saking loyalnya, Mou rela menjadi magnet kontroversi yang menyedot segala cercaan dan kecaman tertuju kepada dirinya alih-alih kepada para pemainnya. Tujuannya, supaya para pemain bisa berkonsentrasi pada latihan dan tidak dipusingkan oleh berbagai gosip dan berita yang kerap tak banyak hubungannya dengan pertandingan. Â Maka itu, kita sering melihat Mou menyajikan tingkah-polah aneh dan eksentrik serta mengundang polemik dengan berbagai pihak demi menjauhkan para pemainnya dari sasaran tembak media. Artinya, Mou menjalankan leadership yang prima sehingga para pemainnya pun loyal kepada Mou sebagai balasan.
Keempat, Mourinho itu tipe pelatih sekaligus pemimpin yang mau belajar dan bersifat adaptif di mana pun dia ditempatkan. Contoh paling gamblangnya adalah Mourinho selalu mengusahakan untuk mempelajari bahasa asli tempat dia melatih. Makanya, Mourinho dikenal sebagai poliglot (menguasai banyak bahasa). Dia bisa berbahasa Inggris karena dulu mengawali karier sebagai penerjemah Bryan Robson, dapat berbahasa Italia saat melatih Inter Milan dan AS Roma, dan kini sedang berupaya mempelajari bahasa Turki di kala melatih Fenerbahce.
Hikmah politik
Melihat kondisi politik Indonesia saat ini, jelaslah betapa karakteristik kepemimpinan sukses Mou bisa menjadi hikmah berharga untuk diteladani dan diterapkan oleh para pemimpin politik kita. Pertama, alih-alih mengobarkan semangat motivasi bagi para anak buahnya untuk berbuat yang terbaik bagi rakyat, para pemimpin politik kita justru terjebak pada politik transaksional yang mengutamakan bagi-bagi kekuasaan. Kita lihat saja, misalnya, peracikan kabinet pemerintahan sering sekali diwarnai politik balas budi seperti ini sampai melahirkan kabinet yang sangat gemuk. Apalagi jika figur yang dipilih minim kompetensi dan hanya kerap melahirkan kontroversi.
Kedua, pemimpin kita kerap terlena dengan citra dan akomodasi politik sesaat ketika memilih sosok-sosok anak buah atau anggota timnya. Maka itu, sering tokoh yang banyak dapat sorotan positif media, influencer dengan banyak subscribers, atau figur kuat yang diajukan oleh partai peserta koalisi langsung direkrut tanpa banyak memperhatikan rekam jejak dan kompetensinya. Sehingga, alih-alih perbaikan performa, yang terjadi justru penumpulan kinerja atau perburukan citra pemerintah secara keseluruhan.
Ketiga, banyak elit pemimpin kita kerap 'buang badan', alih-alih pasang badan, untuk membela kreativitas para anak buahnya dalam menggolkan suatu inisiatif kebijakan. Sebab, jika kreativitas itu tidak didukung, ini bisa berbuah demoralisasi besar-besaran
pada figur-figur yang menginginkan perubahan dan berujung pada kegagalan tim secara keseluruhan.
Keempat, para pemimpin politik kita harus mau belajar terus dan mencari masukan dari berbagai pihak untuk bisa terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Baru-baru ini, tindakan Presiden Prabowo Subianto yang menyambangi Prof Emil Salim dan tekun mencatat uraian beliau bisa kita sebut sebagai teladan yang baik.
Akhirul kalam, telah kita lihat betapa Jose Mourinho mampu memberikan pelajaran berharga bagi para pemimpin politik kita. Oleh karena itu, kita bisa belajar mendongkrak kinerja pemerintahan kita buat publik dengan mencontoh resep jitu The Special One.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI