krisis moneter pada 1997.
Waspada! Tampaknya itulah perasaan kolektif masyarakat Indonesia kala mendapati terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hingga menembus level Rp16.000.Masyarakat Indonesia tentu masih ingat pelajaran sejarah bahwa pelemahan nilai tukar-lah yang menjadi salah satu variabel utamaOleh karena itu, untuk merespons peringatan dini di atas, Indonesia harus melakukan langkah-langkah konkret lewat berbagai ujung tombak moneternya, salah satunya adalah bank sentral (Bank Indonesia/BI). Untuk itu, kita bisa belajar dari dua mazhab pemikiran soal bank sentral.
Dua Mazhab Bank Sentral
Sejatinya, dalam upaya merespons ancaman krisis, otoritas-otoritas moneter dunia pastilah berkiblat pada The Federal Reserves alias bank sentral Amerika. Dan, apabila terkait dengan The Fed, maka ada dua nama besar yang patut disebut karena menjadi referensi bagi penanganan krisis. Pertama, Alan Greenspan, mantan Chairman the Fed kawakan yang terkenal berhasil membawa AS melewati berbagai krisis ekonomi besar. Greenspan adalah orang yang dikenal sebagai penganjur utama produk sekuritas inovatif dan derivatif yang berbasiskan pinjaman (hipotik) perumahan serta telak-telak menolak segala macam bentuk intervensi atau pengaturan terhadap produk tersebut. Merujuk pada memoarnya The Age of Turbulence (2008), Greenspan adalah maestro pendekatan laissez-faire yang patuh total pada doktrin libertarianisme Adam Smith versi The Wealth of Nations. Yaitu, doktrin yang mengajarkan bahwa keserakahan masing-masing individu akan mengendalikan dirinya sendiri dan bahwa pasar akan bekerja optimal jika dibiarkan sendiri tanpa campur tangan pemerintah.
Dalam konteks pasar finansial, ini berarti pasar akan mengatur sendiri risiko produk-produk derivatif, sehingga berujung pada penolakan Greenspan untuk mengelurkan pengaturan bagi pemberian pinjaman hipotek. Tak kurang sampai dua kali Greenspan menolak pengaturan tersebut, yaitu pada 2002 dan 2003. Padahal, kita tahu pada akhirnya instrumen liar seperti itulah yang menyebabkan krisis global mahadahsyat 2008-2009.
Kedua, pengganti sekaligus murid Greenspan, Ben Bernanke, yang mengejutkannya justru memiliki pemikiran sangat berbeda dari sang suhu. Bernanke adalah salah satu dari segelintir orang yang menggondol gelar Ph.D. dari MIT dengan topik disertasi yang terkenal sebagai salah satu topik tersulit: Apa penyebab Great Depression atau Krisis 1929---yang dikenal sebagai the Crash of 1929.
Dalam penelitian doktoral itu, yang menjadi referensi utamanya kala menangani krisis perekonomian AS, Bernanke mengatakan bahwa penyebab utama Depresi Besar adalah bahwa dalam periode kritis selama 3 tahun antara rontoknya bursa saham pada 1929 dan kebijakan New Deal yang digagas Frank Delano Roosevelt pada Maret 1933, pemerintahan Presiden Herbert J. Hoover dan the Fed
membiarkan setidaknya sepertiga dari bank-bank di Amerika bangkrut atau kandas. Bernanke berhipotesis kalau saja itu tidak dilakukan---dikombinasikan dengan keputusan keliru the Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi---Depresi Besar mungkin tidak akan menjadi segawat kenyataannya ("The Money Man", Newsweek, October 27, 2008). Intinya, Bernanke mengajukan peran intervensi negara dan bank sentral yang lebih besar sebagai solusi.
Berbekal perspektif ini, Bernanke sebagai Chairman the Fed kala itu (2006 - 2014) bergerak menyelamatkan atau mem-bailout berbagai lembaga keuangan. Kemudian, Bernanke mengkoordinasikan langkah untuk melakukan pemangkasan suku bunga global demi menghindari deflasi. Â Pemangkasan ini diikuti dengan himbauan keras bernada memaksa dari The Fed untuk menurunkan suku
bunga pinjaman sehingga bank didorong meminjamkan dana ke sektor konsumsi dan sektor riil. Alhasil, konsumsi dan investasi meningkat sehingga pertumbuhan ekonomi bisa dicapai.
Hikmah
Hikmah dari kedua mazhab di atas bagi perekonomian kita adalah bahwa perjalanan sejarah sejauh ini lebih mendukung Ben Bernanke ketimbang Alan Greenspan. Artinya, jika ada alarm krisis di negara kita, Bank Indonesia harus mengikuti langkah Bernanke. Pertama, sigap bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mengidentifikasi bank berisiko sistemik.Â
Kedua, bank sentral seyogianya mendesak industri perbankan untuk memberikan kredit bersuku bunga rasional kepada sektor konsumsi dan, utamanya, sektor riil dan produktif, seperti sektor infrastruktur, manufaktur, dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terbukti ampuh sebagai bemper di setiap krisis, dan lain sebagainya. Hal demikian akan menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan mencegah risiko krisis ekonomi.
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H