Usholli fardhol subhi rok'ataini mustaqbilal qiblati adaa’an imaaman lillaahi ta'aalaa. Allahu akbar.
Kusedekapkan tanganku di dada. Dengan jiwa raga penuh kepasrahan, aku resapi setiap ayat bacaan sholat yang keluar dari bibirku. Mulai dari doa iftitah, umul qur’an sampai salam. Penghayatan yang mendalam seolah membawa diriku seorang diri berjalan di tengah gurun untuk menemui Tuhannya. Kulepaskan semua atribut duniawi yang melekat pada diriku dan menghamba pada dzat pemilik jiwa dan kehidupan.
Aku dan istriku semakin larut pada penghambaan yang panjang. Pada kepasrahan yang tidak bertepi. Dan butir-butir bening tak terasa mulai mengalir dari kedua sudut mataku. Dalam sujud yang panjang, aku berserah diri. Dalam sujud yang panjang, sungguh, aku dan istriku bukanlah siapa-siapa di depan Rab-ku.
Setelah dua rakaat subuh yang penuh kekhusukan aku lalui bersama istriku, aku panjatkan doa yang penuh kekhusukan. Aku berharap keridloan, ampunan, keberkahan dan istiqomah pada jalan kebaikan dan amal sholeh. Aku memohon agar dijadikan keluargaku sebuah bahtera rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warrohmah. Aku meminta dengan penuh ketulusan agar keturunanku dijadikan hamba-hamba yang berakhlak mulia serta selalu mendoakan kedua orang tuanya. Dan aku juga memohon agar setiap nafas yang kuhembuskan berisikan doa, dzikir dan istighfar yang terus menerus dan tiada putus.
Usai sholat, kudekati istriku dan kupeluk serta kukecup keningnya. Kuusap air mata yang membasahi pipinya. Setelah itu bersama-sama merapikan tempat sholat dan bersiap menyambut hari dengan penuh semangat dan keceriaan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H