Bila sebagian diserahkan pada pendaki lain untuk dibawa, maka kemandirian akan terganggu. Misalnya, saat peralatan atau logistik dibutuhkan dengan cepat malah tidak ada karena dibawah teman yang berjalan di depan atau di belakang.
Konsep independent hiking demikian bukan semata untuk mempertahankan prinsip independent hiker an sich, tetapi juga demi keselamatan pribadi si pendaki itu sendiri.
Bukan tak mungkin seorang independent hiker ditawari naik gunung gratis oleh pengelola pos pendaftaran yang kebetulan dikenal baik secara pribadi, apalagi bila si pendaki dianggap berjasa pada jalur itu.
Penolakan itu, tentu dilakukan dengan cara yang baik dan halus, dilakukan demi mempertahankan prinsip seorang independent hiker sekaligus agar dana pemasukan posko tidak berkurang.
Malahan, bila ada dana berlebih, seorang independent hiker rela membayar lebih atau memberikan donasi untuk perbaikan jalur, pemeliharaan posko, dan sebagainya.
Sikap independen demikian kadang diperlukan dalam situasi praktis, misalnya: kita tidak terikat beban moral saat mau memberi kritik atau masukan baik disampaikan secara langsung atau dalam bentuk ulasan (review) di media massa, blog, media sosial pribadi, dan YouTube.
Ulasan atau review yang diberikan oleh seorang independent hiker benar-benar bisa dipercaya sebagai pandangan dan penilaiannya secara independen.
Masyarakat dan pengelola yang sportif dan berlapang dada tentu membutuhkan ulasan atau masukan yang jujur dan independen demikian, bukan sekedar kata-kata "angkat telur", jadi tidak ada penyesatan informasi, dan yakin untuk perbaikan dan kemajuan jalur yang dikelolanya.
Ketiga, seorang independent hiker tidak menerima endorse berbayar dari brand produk peralatan luar ruang yang dipakainya.
Sikap ini penting untuk menjaga independensi saat berhadapan (vis-a-vis) brand produk yang dipakainya saat memberikan ulasan atau review; bebas memberikan penilaian positif, negatif atau berimbang (positif dan negatif).