Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Purna tugas - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Petualangan Seru: Liburan Nataru ke Yogyakarta dengan Kereta Api

13 Januari 2025   05:00 Diperbarui: 12 Januari 2025   09:41 29
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Biasanya, bila liburan Nataru tiba, saya pasti sudah memiliki rencana, berlibur ke mana. Namun semenjak sembuh dari sakit, saya agak gamang bila harus ke luar negeri atau ke luar kota sendiri.

Meski saya pernah ke Yogyakarta dengan Click dan pak Taufik, serta ke Semarang bersama teman-teman kampus di Salatiga. Ketiganys menggunakan kereta api.

Maklum sudah pensiun, jadi harus berhemat. Ketika masih kerja, ya naik pesawat udara. Lagi pula tiket pesawat udara sekarang lagi tinggi-yingginya. Namun naik kereta api sekarang juga menyenangkan, ber AC dan toilet bersih dan tepat waktu.

Seperti pada liburan Nataru 2024, saya juga tidak memiliki rencana apapun. Hingga tiba pesan singkat dari teman saya di Yogyakarta.

"Tidak ada acara khan ? Yuk ke Yogya, ada syukuran ulang tahun toko saya".

Setelah mendapat jaminan, teman saya dapat mencarikan hotel di dekat rumahnya, saya langsung berburu tiket kereta api. Walah kereta api rkonomis, harga tiket sudah melonjak tinggi, maklum musim liburan. Karena pada akhir tahun masih banyak kerjaan, saya hanya berlibur 2 hari / 1 malam.

Untung masih dapat tiket kereta api Progo yang sudah mendapat tsmbahan nama "New Generation".

KA Progo (dokpri)
KA Progo (dokpri)


Berangkat dari rumah melalui stasiun Sudimara, dengan commuter line menuju stasiun transit Tanah Abang. Lalu pindah ke jurusan stasiun transit Maggarai. Dari Manggarai naik jurusan Bekasi, tapi turun di stasiun Jatinegara. Pkndah lagi ke jurusan Kampung Bandan yang berhenti di stasiun Pasar Senen.

Wah rumit ya, tapi saya sudah biasa, dan bawaan saya hanya satu ransel saja, jadi tidak masalah harus berkali-kali pindah trayek.

Tiba di stasiun Pasar Senen, saya langsung mencetak tiket. Memang agak rumit, beda dengan stasiun Gambir, kita yang sudah mendaftar "face recognition" tidak perlu lagi mencetak tiket. Tapi di stasiun Pasar Senen, polsuska menanyakan tiket, padahal di pintu dekat peron sudah tersedia fasilitas "face recognition".

Duduk santai di dalam kereta api. Saya penasaran yang disebut "New Generation" itu ternyata kursi dibuat searah, tidak berhadapan seperti dulu. Juga fasilitas restorasi lebih bagus.

Berhenti sebentar di beberapa stasiun, yang cukup lama di Cirebon dan Kebumen.

Di perjalanan sempat diajak pak Taufik ke Yogyakarta melalui WA, karena pak Taufik naik mobil liburan ke Yogyakarta. Padahal saya sudah memesan hotel, jadi saya tolak dengan halus ajakan pak Taufik, alasannya tiket mahal. Karena bila menginap di rumah pak Taufik paling sedikit bisa satu minggu.

Selama dalam perjalanan, bepergian dengan kereta api menyuguhkan pemandangan alam yang menakjubkan. Juga banyak mendapat kenalan baru.

Karena menggunakan kereta api malam, pagi hari sudah tiba di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Dijemput teman saya dan diantar ke hotel.

Karena syukuran diadakan malam hari, siangnya kami sempat singgah di Keraton Yogyakarta dan Malioboro. Sebenarnya dua destinasi wisata ini sudah biasa saya kunjungi. Tapi saya diam saja agar tuan rumah merasa senang.

Kami sempat makan pagi di daerah Widjilan, yang merupakan sentra kuliner gudeg di kawasan Keraton, lalu makan siang di The House of Raminten, di ujung jalan Malioboro,  sebuah rumah makan yang sekaligus digunakan untuk kabaret. Seorang waitress nya berbusana Jawa seperti tokoh Raminten, sedang yang lain berbusana formal biasa.

Sore harinya kami menuju lokasi syukuran, yang menggunakan rumah seorang teman yang cukup luas di kawasan Monjali. Hidangan kuliner Jawa jadi mengingatkan masa lalu, ketika ikut penyaringan Sipenmaru di UGM.

Kami menikmati kuliner Jawa yang sangat lezat. Tentunya sambil berbagi cerita dan pengalaman, karena kami sudah lama tidak saling bertemu.

Setelah beristirahat di hotel, keesokan paginya saya sudah dijemput. Rencananya mengunjungi Candi Borobudur, tapi saya tidak naik, karena keseimbangan tubuh saya yang jelek. Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang selalu digunakan untuk upacara keagamaan saat Waisak.

Pulangnya, kami mampir di Muntilan, untuk makan siang di Sop Empal  yang sudah melegenda.

Selesai sudah petualangan seru 2 hari / 1 malam di Yogyakarta. Saya diantar kembali ke stasiun Lempuyangan. Meski sudah sering ke Yogyakarta, namun tidak ada perasaan bosan.

Subuh sudah tiba di stasiun Pasar Senen, setelah perjalanan selama tujuh jam. Tinggal menunggu beroperasinya commuter line ke stasiun Kampung Bandan. Lalu lanjut ke stasiun Duri dan Tanah Abang. Untuk menuju ke rumah, seperti biasa melanjutkan ke jurusan Rangkas Bitung, dan turun di stasiun  Sudimara.

Sebuah liburan dadakan yang menyenangkan. Menggunakan transportasi kereta api adalah pilihan yang tepat. Nyaman, seru,  bersih, dan pemandangan alam yang indah. Jadi, jangan ragu menggunakan kereta api sebagai pilihan Anda.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun