Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Purna tugas - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

[Ketapels Berdaya] Fingertalk Deaf Café & Workshop, Upaya Memberdayakan Tuna Rungu

17 April 2016   05:15 Diperbarui: 17 April 2016   10:22 66
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Selain ke dua makanan utama di atas, masih ada pilihan makanan lain seperti Roti Canai dan Kari, Fried Rice atau Nasi Goreng dengan telur, ayam, sosis daging atau udang, ayam bakar, ayam goreng dan makanan khas Amerika Latin, yakni Homemade Tortilla yang dikombinasikan dengan sosis daging dan chicken nugget. Semua makanan ini dihargai dari 20-25 ribu Rupiah.

[caption caption="Tuna Lemon Sauce (Sumber: Gapey)"]

[/caption]

[caption caption="Chicken Garlic Sauce (Sumber: Gapey)"]

[/caption]

Sebagai makanan penutup atau dessert, café ini menyediakan Super Roll Cake with ice cream dengan harga yang cukup murah, hanya 15 ribu Rupiah.

Untuk minuman, tersedia minuman panas dan dingin, dari mulai Café Latte, Caramel Machiato, White Koffie, Cappuccino, Mocafrio, Kopi Kampung dan Vanilla Latte. Bila Anda tidak gemar minum kopi, juga tersedia Teh Manis, Teh Tarik dan Teh Lemon serta Lime Juice. Semua minuman ini dipasarkan dengan harga 10 ribu Rupiah. Juga tersedia air putih baik dingin maupun biasa.

Saat berkunjung di café ini, penulis sempat menikmati ayam bakar yang disajikan  dengan nasi dan sambal. Masakannya sangat nikmat, tidak kalah dengan rumah makan ternama. Hal ini karena pada café ini bekerja Frisca asal Bali, yang lulusan Kursus Tata Boga di Bali. Frisca adalah andalan café ini, yang sering diajak berdiskusi mengenai menu-menu baru oleh pemiliknya, Dissa.

Café ini juga menyediakan layar lebar untuk keperluan rapat kecil maupun seminar, termasuk sound systemnya. Pada event-event khusus seperti Lebaran, café ini juga menyediakan menu khusus buka puasa dengan menu Nasi Rawon, atau Soto Ayam yang didampingi kolak dan takjil.

Café dengan pelayan 100% kaum tuna rungu ini diinspirasi dari sebuah café di Granada, Nicaragua, yakni café De Las Sonrisas yang artinya Café Senyuman. Sejak melihat café in, jiwa Dissa bergolak ingin segera mewujudkan di Indonesia. Untungnya Dissa berhasil belajar bahasa isyarat di Singapore dan bertemu dengan tokoh tuna rungu Ibu Pat dan Ibu Santi (seorang penerjemah bahasa isyarat) yang akhirnya menjadi guru-gurunya dalam belajar bahasa isyarat.

Disamping café ini, juga terdapat sebuah workshop yang dimanfaatkan oleh kaum tuna rungu untuk membuat barang kerajinan seperti tas, baju, kaus kaki dan lain-lain, melalui olah merajut dan menjahit. Mereka juga membatik. Melalui kegiatan café dan workshop ini, Dissa bercita-cita ingin memberdayakan kaum tuna rungu. Nantinya akan dikembangkan dengan pusat pelatihan bagi kaum tuna rungu agar lebih siap bersaing di dunia kerja. Tentunya juga akan membuka café lebih banyak lagi di pusat daerah Pamulang, Bintaro maupun Serpong.

[caption caption="Tas hasil kerajinan (Sumber: Gapey)"]

[/caption]

Dengan makanan yang lezat, menu yang beragam, dan lokasi yang nyaman, Fingertalk Deaf Café tentu dapat bersaing ditengah kerasnya persaingan bisnis restoran, apalagi café ini memiliki keunikan yang merupakan diferensiasi dalam bisnis restoran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun