Mohon tunggu...
Susanto
Susanto Mohon Tunggu... Guru - Seorang pendidik, ayah empat orang anak.

Tergerak, bergerak, menggerakkan. Belajar terus dan terus belajar menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ketika Andika Mau Pulang

2 Maret 2024   04:58 Diperbarui: 2 Maret 2024   05:41 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sabtu sore, Anton masih menikmati rebusan ubi sang istri. Segelas teh hangat yang tinggal separuh menemaninya menikmati ubi rebus yang menurutnya mempur sekali.

"Enak, Yah, ubinya?" tanya Adinda, anak keduanya. Ia menyusul ayahnya duduk di beranda rumah sambil membawa sepiring kecil ubi yang masih beruap panas.

Adinda, anak kedua Anton, mahasiswi perguruan swasta di Palembang pulang. Ada libur beberapa hari. Jarak kota Palembang ke rumahnya hanya perjalanan mobil tujuh jam.

"Sini Din. Ayah mau nambah lagi ubinya," pinta Anton.

Kedua anak beranak itu pun menikmati ubi rebus ditemani teh celup kesenangan mereka.

"Ibumu sudah selesai? Panggil, mumpung kita bertiga, ada sedikit yang mau ayah omongkan," perintah Anton yang segera dipenuhi anak bungsunya.

Ketiga orang itu pun terlihat berbincang dan sambil menikmati air teh yang mulai mendingin.

"Besok kita bersihkan gudang," ajak sang ayah.

"Andika berpesan, ia mau pulang dan ingin memakai sepeda motor tuanya," ujar Anton.

Ibu dan anak saling pandang dan mengangguk mengiyakan.

Keesokan harinya, pas betul hari Minggu, ketiga anak-beranak itu pun sibuk membersihkan rumah dan membuka gudang samping rumahnya.

Sang ibu menyapu ruangan, Adinda menyapu halaman dan merapikan pot bunga. Ia pun membersihkan rumput yang tumbuh dengan mencabutnya.

Anton terlihat mengeluarkan motor sport miliknya yang akhirnya dirawat dan dimodifikasi sebagai kendaraan roda dua ala anak muda.

Terlihat debu yang cukup teba. Terlihat beberapa sarang laba-laba ada di sana-sini. Motor itu sudah setahun ini tidak dipakai. Anton lebih suka ke kantor menggunakan motor matik yang lebih praktis.

Setelah dicuci dan dibersihkan, motor tua yang penampilannya sudah jauh berbeda dengan aslinya itu pun bersih sudah.

Halaman rumah mereka pun terlihat bersih. Setelah merapikan beberapa barang di gudang kecil samping rumah mereka dan membersihkan lantai serta dindingnya, Anton menutup dan menguncinya.

"Adin, Ayah, sudah selesai, belum. Kalau sudah selesai, segera bersihkan badan, makanan sudah siap. Gulai tempoyak, kesukaan kalian sudah siap!" kata sang ibu setengah berteriak.

Adinda dan ayahnya segera menuruti perintah perempuan paruh baya itu. 

Di meja makan terhidang gulai tempoyak seperti dikatakan sang ibu, kerupuk, sambal kemang, tahu goreng, dan sebakul nasi. 

"Ibu, Adin, sore ini nanti kita ke makam. Kita bersihkan makam Andika, juga makan kedua nenekmu. Malam kemarin ayah bermimpi bertemu Andika dan mendapat pesan darinya bahwa ia mau pulang. Kita doakan semoga kakakmu mendapat tempat layak di sisi-Nya," kata Anton di sela-sela makan siang mereka.

Andika, anak sulung mereka sudah setahun meninggal karena sakit. Penyuka motor modifikasi itu menghembuskan napas setelah dua bulan terbaring, sakit.

"Kebetulan juga besok kita berpuasa. Maklumat Persyarikatan sudah menyebutkan bahwa Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1445 H jatuh pada hari Senin, 11 Maret 2024," jelas Anton.

Selesai makan, mereka beristirahat dan bersiap-siap bakda Asar nanti mereka akan ke makam bersama-sama.

Musi Rawas, 2 Maret 2024
PakDSus

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun