"Iya, aku sudah baca puisi itu. Tapi, Pak Eko ngirim ke grup kan berarti dia ingin melanjutkan mengajar. Seolah-olah itu permintaan anak-anak? Begitu 'kan?" jawab ibu Rumiana.
"Ha ha ha ...," tawa Pak Eko pecah.
"Lah, kenapa Pak Eko malah tertawa?" tanya bu Rumiana sambil mengernyitkan kening.
"Biar Bu Martha yang menjelaskan. Silakan, Bu!" pinta Pak Eko.
"Begini, Bu. Anak-anak di sekolah kita sudah nyaman dengan guru kelas masing-masing. Oleh karena itu, ketika mereka tahu gurunya akan pensiun, mereka tidak ingin berpisah. Apalagi mereka ditinggalkan di tengah-tengah jalan. Bukan pada saat kenaikan kelas, misalnya. Seharusnya kita apresiasi karya siswa kita dan menjawabnya dengan bekerja lebih baik lagi. Agar, ketika kita berhenti meninggalkan kesan yang baik bagi mereka. Siapa sih yang ingin kehilangan? Tetapi, ketentuan kadang memaksa kita harus berpisah. Bukan begitu, Pak Eko?" jelas bu Martha sambil memandang Pak Eko. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak di benak bu Martha.
Lelaki tua yang lima bulan lalu kehilangan istrinya itu hanya bisa mengangguk. Bayangan Uti berkelebat. Senyumnya yang selalu ia rindukan seakan mengajaknya bercengkerama.
Musi Rawas, 12 September 2022
Salam sehat selalu
PakDSus
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H