Menghadiri Graduation SMP 4 Penajam Paser Utara, Kaltim
Tanggal 25 Mei 2023 saya tiba di ruang pengawas setelah pukul tujuh pagi. Pak Sarmidi sudah berada di ruang pengawas yang ber-AC tersebut. Tidak berapa lama setelah saya duduk, ada beberapa pengawas dan penilik sekolah hadir. Kami pun terlibat percakapan terkait tugas berkunjung ke sekolah.
Saya pun bercerita bahwa pada hari Selasa (24/5/23) ikut menghadiri acara pelepasan siswa kelas IX SMP 8 PPU yang dilaksanakan di objek wisata Lamin Etam Ambors.
Baca juga: Pelepasan Siswa Kelas IX SMP 8 PPU di Lamin Etam Ambors Kutai KartanegaraÂ
Pak Mokhamad Syafii yang sudah hadir di ruang pengawas dengan santai membuat minuman coklat oleh-oleh dari Hj. Sri Kamariah. Saya pun ikut membuat juga (lagi) karena saya lihat masih ada sisa di dalam kaleng susu coklat khas Malaysia tersebut.
Pak Mukafik dan Pak M. Arsyad ikut terlibat dalam percakapan. Masing-masing bercerita terkait kegiatan yang sudah dilaksanakan dan akan dikerjakan.
Waktu bergulir begitu cepat. Saya menunggu kehadiran Pak Sukma Widjaya yang sedang melakukan monitoring asesmen sekolah. Kami akan melakukan pembicaraan terkait keberangkatan ke Kota Samarinda pada hari Ahad (28/5/23). Ada kegiatan bimtek untuk pengawas pendamping sekolah penggerak angkatan pertama dan kedua.
Menjelang pukul sepuluh Pak Sukma Widjaya sudah muncul di ruang pengawas. Kami pun melakukan diskusi bersama Pak Mokhamad Syafii. Ada usulan dari Pak Sukma Widjaya untuk rental mobil dari Balikpapan. Biaya sudah ditentukan dari pihak pemilik mobil.
Kami pun melakukan diskusi mencari alternatif, apakah akan rental mobil atau menggunakan mobil yang ada milik pengawas. Pak Mokhamad Syafii mengusulkan mobil pribadinya untuk digunakan bersama. Penumpang sudah ada empat orang.
Diskusi belum selesai, ada panggilan telepon dari Pak Sugeng Mardisantoso. Ada instruksi untuk menghadiri undangan pelepasan siswa kelas IX SMP 4 PPU di Waru. Pak Mokhamad Syafii siap menghadiri. Saya diajak ikut serta.
Namun, mobil tidak ada di tempat. Terpaksa Pak Mokhamad Syafii pulang ke rumahnya untuk mengambil mobil. Saya diminta menunggu di kantor.
Pada pukul 10.13 wita kami sudah dalam perjalanan. Pak Mokhamad Syafii mengemudikan mobil lebih laju daripada biasanya. Namun, tetap mematuhi rambu lalu lintas. Saya ikut senang karena perjalanan akan cepat tiba di daerah Sesulu, lokasi SMP 4 PPU.
Pada pukul 10.20 wita kami sudah duduk pada deretan tamu undangan. Pada sisi kiri saya duduk tamu dari kepolisian. Terlihat pula pengawas pembina SMP 13 PPU, Pak Prayitno. Â Â
Pak Mokhamad Syafii duduk pada sebelah kanan saya. Para orang tua/wali siswa kelas IX duduk di kursi di belakang kami. Ada empat rombongan belajar (ronbel) siswa kelas IX. Kalau dibuat rata-rata satu kelas ada 30 siswa berarti ada lebih seratus orang tua/wali yang hadir.
Pada saat kami memasuki halaman SMP 4 PPU masih terdengar suara sambutan dari pengawas pembina SMP 4 PPU, Pak Prayitno. Kemudian setelah memarkir mobil dan berjalan menuju tempat duduk, sambutan itu sudah selesai.
Acara seni berupa tarian siswa ditampilkan. Saya belum sempat memotret para penari yang menggunakan pedang sebagai satu alat untuk menari. Pedang itu sesekali digigit oleh sang penari. Perlu keseimbangan untuk meletakkan pedang dan dijepit dengan kedua bibir.
Perubahan kondisi dari perjalanan naik mobil yang cukup laju ke posisi duduk di bawah tenda perlu beberapa saat untuk melakukan adaptasi. Untuk mengurangi kondisi agak stres, saya menikmati buah-buahan yang dihidangkan di atas meja. Ada buah kelengkeng. Ada buah anggur. Ada pula buah jeruk dan pisang mini (pisang Mauli).
Kondisi fisik pun mulai dapat beradaptasi. Saya sudah dapat melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu melakukan jeprat-jepret dan merekam dalam bentuk video.
Saya menyempatkan untuk merekam bagian awal sebuah tari yang diperagakan oleh empat siswi SMP 4 PPU.
 Acara demi acara pun berlangsung dengan lancar. Ada acara pelepasan atribut sekolah. Dua siswa yang mewakili rekan-rekan kelas IX dipanggil ke atas panggung. Bu Rosnah selaku kepala SMP 4 PPU melakukan pelepasan atribut tersebut. Berhubung letak panggung cukup jauh dari tempat kami duduk, saya tidak dapat memotret dengan baik.
Ada acara pemberian penghargaan kepada siswa-siswi yang berprestasi bidang akademik dan non-akademik. Kemudian puncak acara adalah pengalungan medali kelulusan dan pemberian album kenang-kenangan. Siswa putri mengenakan kebaya modern (pakaian muslimah) Â dan siswa putra mengenakan stelan jas.
Saya berusaha menjepret siswa yang berjalan di hadapan kami. Umumnya mereka berjalan dengan tergesa-gesa sehingga banyak foto yang kabur. Dalam artikel ini saya pilih beberapa foto yang agak bagus dibandingkan foto lain.
Sebagian siswa ada yang bingung mau jalan ke arah mana. Ada sebagian siswa yang begitu menerima pengalungan medali kelululusan langsung berjalan menuruni tangga dan akan kembali ke tempat duduk. Padahal ada petugas di bawah dekat tangga turun panggung yang menyerahkan buku album kenangan (Year Book SMP Negeri 4 PPU 2022/2023).
Acara pengalungan medali kelulusan dan album kenang-kenangan berjalan lancar. Meskipun banyak siswa yang antre, mereka melakukan gerakan yang cepat. Mulai dari duduk, berjalan menuju panggung, naik tangga ke atas panggung, menerima pengalungan medali kelulusan, berjabat tangan dengan kepsek, wali kelas, kemudian berjalan turun tangga, menerima buku album kenang-kenangan, baru kembali ke tempat duduk.
Pada saat turun tangga harus berhati-hati. Khususnya untuk pelajar putri yang mengenakan kain kebaya. Jika salah langkah, bisa jatuh.
Umumnya untuk bawahan putri sudah dimodifikasi sehingga tidak membuat ribet. Pelajar putri dapat berjalan dengan langkah yang normal, tidak seperti pengatin dengan pakaian adat Jawa yang ribet.
Usai acara pengalungan medali tanda kelulusan, seremoni ditutup oleh pembawa acara yang mengenakan pakaian khas.
Begitu acara ditutup, sebagian tamu undangan berpamitan, termasuk pak polisi yang duduk di sebelah kiri saya. Â Saya pun segera mengambil kesempatan untuk berfoto bersama kepsek SMP 4 PPU dan beberapa tamu yang sudah cukup akrab dengan kami.
Ada tiga pengawas SMP dan tiga kepsek SMP yang berada dalam deret kursi tamu paling depan. Tetangga sekolah terdekat, SMP 13 PPU dan SMP 18 PPU. Bu Lili Suriani dan Pak Jumardin kami jepret bersama nyonya rumah, Bu Rosnah dan pengawas pembina SMP 4 PPU, Pak Prayitno.
Saya pun mengambil gambar dalam posisi yang lebih baik agar wajah kawan-kawan kepsek dan pengawas tampak lebih utuh. Kursi-kursi di belaknag yang semula penuh diduduki orang tua/wali siswa tampak mulai ditinggalkan. Para siswa asyik berfoto ria dengan rekan-rekannya.
Pada saat saya sedang duduk santai, setelah asyik jeprat-jepret, ada wali murid yang datang dan langsung duduk di samping saya. Seorang siswa memotret dengan kamera besar. Dalam hati saya membatin, siswa itu adalah anak dari wali murid yang duduk di samping saya. Saya pun yakin wali murid itu adalah mantan siswa SMA 1.
"Nama siapa?" tanpa sungkan saya bertanya kepada laki-laki berkumis dan berkaca mata itu.
"Nuriman. Dulu kos di samping Bapak!"
Ingatan saya pun kembali menjelajah tahun 90-an. Waktu itu saya masih baru menjadi PNS. Belum punya rumah. Saya kos di rumah mbah Satam. Di samping rumah kos saya ada pondok kecil yang disewa siswa SMA 1. Nuriman merupakan salah satu di antara tiga anak yang sama-sama kos di sana.
Alhamdulillah. Perjumpaan yang tidak terduga. Saya bersyukur masih "diakui" oleh mantan siswa yang kini sudah menjadi bapak. Semoga dengan  silaturahim yang tidak terduga itu dapat memperpanjang umur kami dan menambah rezeki.
Beberapa tamu pun berpamitan. Pak Prayitno, Bu Lili Suriani, dan Pak Jumardin minta diri. Saya dan Pak Mokhmad Syafii pun segera berpamitan pula.
Nasi kotak dan kue kotak yang di atas meja dibawakan untuk kami. Alhamdulillah. Silaturahim memang mendatangkan rezeki.
Penajam Paser Utara, 25 Mei 2023 Â Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H