Barangkali, di "sana" kini Ki Hajar Dewantara sedang sedih dan menangis. Para pemimpin bangsa yang seharusnya menjadi teladan, justru terus berseteru sebab perkara politik dan urusan perut.
Sementara, guru dalam arti sebenarnya pencetak penerus bangsa, Â juga terus berkutat pada masalah yang sama. Terlebih guru-guru yang digaji dari uang rakyat alias Pegawai Negeri Sipil (PNS), mau gajinya besar, tapi tidak sebanding dengan kinerjanya.Â
Jarang kita mendengar gaji guru PNS turun atau dipotong, kendati kerja dan gaji tak sebanding. Faktanya persoalan pendidikan apalagi menyangkut guru, selalu berputar di hal-hal yang sama, masih jauh dari kemampuan standar pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional, miskin kreativitas dan inovasi, meski kini sudah era Revolusi Industri 4.0.
Sementara, di zaman berseteru akibat Pilpres, heran, mengapa mahasiswa MANDUL.
Tidak pernah terdengar peran mahasiswa dalam kasus Pemilu dan Pilpres ini. Ke mana mereka? Siapa yang kini mengendalikan mereka!
Padahal sejarah mencatat bahwa lingsirnya sebuah rezim di NKRI ini karena peran mahasiswa.
Banyak rakyat bertanya, kok kini mahasiswa diam!
Semoga Ki Hajar di sana memahami apa yang kini tengah terjadi di tanah Indonesia dan rakyat tetap menghormati apa yang telah diperjuangkan oleh Ki Hajar. Karenanya, dalam peringatan Hardiknas kali ini, semoga Ki Hajar tetap tersenyum dengan kondisi Indonesia.yang kini miskin teladan.
Yang pasti Ki Hajar semoga paham bahwa hari lahirnya kini terus diperingati sebagai Hardiknas.
Bila hitung dari penetapan Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), maka hari ini tanggal 2 Mei 2019 adalah peringatan Hardiknas ke-60.
2 Mei adalah hari lahir Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara lahir dari keluarga kaya. Selama era kolonialisme Belanda, beliau
dikenal karena berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengenyam bangku pendidikan.