Namun ada cara pandang yang berbeda antara kapitalis dan mazhab ini, kapitlis tidak meninjau pemikiranya dari segala aspek, yang penting barang yang mereka jual laku keras dan tidak harus merata dalam menjualnya. Alhasil banyak konsumen yang merasa tidak puas karena  dalam penjualanya maupun pendistribusianya tidak merata atau tidak adil.  Karena kapital tidak memikirkan aspek merata atau tidaknya dalam memasarkan suatu barang. Dari sinilah kapital dianggap gagal dalam mewujudkan kesejahteraan.
Namun berbeda dengan kapitalis, mazhab iqtishoduna meninjau masalah ini dari beberapa aspek terutama dalam aspek sosial. Mereka beranggapan bahwa dalam menditribusikan suatu barang harus merata, agar tidak menyebabkan sebuah kelangkaan dalam suatu daerah. Dengan demikian maka tidak akan terulang kembali masalah kelangkaan yang selama ini menghantui perekonomian.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H